Wiweko Soepono: Bapak Two-man Forward Facing Crew Cockpit (2)



Bulan September 1977, saat mengunjungi pabrik Airbus di Balgnac, Perancis, Wiweko diberi kesempatan menerbangkan A300.-001 Wiweko duduk di kursi kiri, sebagai captain pilot. Sedangkan di kursi kopilot adalah chief pilot Airbus, Pierre Baud. Di belakang, menghadap ke samping ada seorang flight engineer.

A300 yang diterbangkan Wiweko masih prototipe. Belum ada langit-langitnya, tidak ada kursi dan masih terlihat kabel-kabel serta kerangka pesawat. Wiweko melakukan beberapa kali pendaratan touch-and-go. Kemudian gantian Pierre Baud mendemonstrasikan touch-and-go dengan bantuan komputer. Tampaknya Wiweko terkesan dengan kemudahan menerbangkan pesawat tersebut, terutama karena ada bantuan komputer. Wiweko juga terkesan dengan kemudahan prosedur mematikan komputer setelah mendarat.

Pierre Baud pun bertanya, ”Komodor Wiweko, bagaimana pendapat anda mengenai A300?”

Wiweko justru balik bertanya, “Apa kerjanya orang yang duduk di belakang saya itu?”

“Dia adalah flight engineer,” jawab Pierre.

“Itu saya sudah tau, tapi apa kerjanya?” timpal Wiweko.

Akhirnya Roger Beteill, Executive Vice President and General Manager Airbus Industrie, pun ikut dalam perbincangan. Menurutya, flight engineer bisa saja tidak diperlukan karena kokpit serba otomatis. Namun kursi flight engineer adalah bentuk konsensi terhadap serikat buruh Eropa. Di samping itu, dunia penerbangan belum bisa menerima apabila pesawat berbadan besar hanya diawaki oleh dua pilot. Pesawat-pesawat besar buatan Boeing, Lockheed, dan Douglas pun memilikinya. Airbus terpaksa mengekor karena takut produknya tidak laku.

Hal yang mengejutkan, Wiweko meminta kursi flight engineer ditiadakan. “Keluarkan kursi flight engineer dan mari kita berunding mengenai pembelian pesawat,” ujarnya. Beteille terkejut, terlebih ketika kWiweko menyatakan akan membeli enam pesawat dengan tiga opsi tambahan.

Rupanya, Roger Beteille langsung menerima usulan Wiweko. Gayung bersambut. A300 versi two man cockpit pun dibuat. Lahirlah kemudian A300-B4 yang menerapkan konsep FFCC, Forward Facing Crew Cockpit. Garuda Indonesia Airways pun menjadi launch customer-nya.

Kisah ini disarikan dari berbagai sumber.
Foto: Istimewa

Be the first to comment

Leave a Reply