Wiweko Soepono: Bapak Two-man Forward Facing Crew Cockpit (1)



Kalau kita bertanya, “Bagaimana sejarahnya pesawat penumpang berbadan besar itu hanya dikemudikan oleh dua orang crew?” Gara-gara orang Indonesia jawabannya. Ah masa iya sih? Betul kok, semua itu gara-gara orang Indonesia, lebih tepatnya gara-gara Wiweko Soepono.

Mungkin hanya segelintir orang Indonesia yang mengenal, tahu, atau pernah mendengar nama Wiweko Soepono. Ya bisa dimaklumi lah. Nama Wiweko Soepnono memang top pada zamannya, zaman perang kemerdekaan RI tahun 45-an, hingga awal-awal tahun 1990-an. Generasi Indonesia kelahiran 2000-an mungkin tak banyak yang mengenalnya. Lalu siapa si Wiweko ini dan apa hubunganya dengan jumlah crew dalam kokpit pesawat komersial?

Gini…. Wiweko ini pada tahun 1968-1984 adalah Direktur Utama Garuda Indonesia. Ia ditunjuk oleh Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto, sebagai Direktur Utama Garuda untuk menyehatkan perusahaan BUMN yang hampir bangkrut itu. Pengalamannya dalam bidang penerbangan yang beragam menjadi salah satu alasan penunjukannya.

Wiweko dulunya berdinas di AURI (sekarang TNI AU). Selama di sana, ia beroleh banyak pengalaman. Ia bersama Nurtanio dan RJ Salatun sempat bereksperimen membuat pesawat terbang sendiri. Pesawatnya experimentalnya itu diberinama RI-X. Lalu sejumlah pesawat eksperimental lain pun dibuat.

Pada masa antara 1945-1949, Wiweko ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk membeli pesawat DC-3 Dakota. Uang didapat, dan Wiweko pun membeli DC-3 di Thaland. Konon kabarnya, pesawat yang dibeli itu tidak dapat dibawa masuk ke Indonesia karena blokade udara Belanda. Akhirnya, pesawat tersebut dioperasikan secara komersial di Birma (kini Myanmar) dengan membawa bendera Indonesian Airways.

Rupanya selama beroperasi komersial di Birma, Wiweko juga sempat terbang bolak-balik ke Indonesia. Dari Birma, ia menyelundupkan senjata, alat komunikasi, obat-obatan, dan logistik ke Aceh, Padang, bahkan kabarnya hingga Yogyakarta. Memang untuk tujuan itulah salah satu tugas Wiweko membeli Dakota, melakukan operasi mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pengalaman mengelola Indonesian Airways di Birma merupakan sesuatu yang berharga bagi Wiweko. Kabarnya, selama beroperasi di sana, Wiweko juga sempat membeli dua C-47 (Dakota versi militer) untuk memperkuat armada Indonesian Airways.

Ditunjuknya Wiweko sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia Airways pada 1968 mengembalikan Wiweko ke dunia penerbangan komersial, walau situasi dan kondisinya berbeda. Melihat kondisi airline flag carrier Indonesia yang sedang sakit, Wiweko pun berbenah. Armada pesawat ditata. Sebanyak 17 DC-3 Dakota, 8 Convair 340, 3 Lockheed Electra, 3 Convair 990-A, serta 1 DC-8 mulai diistirahatkan. Garuda pun mulai diperkuat pesawat-pesawat jet, yaitu 24 McDonald Douglas DC-9, 36 Fokker F-28, 4 jumbo jet Boeing 747-200 dan 6 pesawat badan lebar McDonald Douglas DC-10 serta 9 Airbus A300-B4. Garuda Indonesia Airways pun menjadi maskapai terbesar di Asia setelah Japan Air Lines.

Foto: Wikipedia

Be the first to comment

Leave a Reply