Waspada Puncak Arus Balik Penerbangan




Puncak arus balik angkutan udara pada libur Natal & Tahun Baru (Nataru) 2017/2018 diperkirakan akan terjadi pada H+7/H+8 atau 1-2 Januari 2018. “Tepatnya tanggal 2 (Januari) itu puncak-puncaknya karena akan mulai kerja tanggal 3 (Januari). Ini perlu diwaspadai karena pada arus balik antrean akan terjadi,” kata Agus Santoso, Dirjen Perhubungan Udara, usai melakukan ramp check di Terminal 1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (29/12/2017).

Dirjen dan jajarannya melakukan inspeksi ke Posko Nataru 2017/2018 dan ramp check untuk meninjau kesiapan para penyelenggara penerbangan, baik itu pengelola bandara, maskapai penerbangan, penyelenggara navigasi penerbangan, maupun jajaran otoritas bandara dalam melayani penumpang. Ini ramp check kedua di Soekarno-Hatta, setelah sebelumnya pada 23 Desember 2017 dilakukan di Terminal 3.

Arus libur Nataru yang dimulai 18 Desember 2017 sampai dengan 8 Januari 2018 atau 22 hari itu merupakan waktu yang panjang. “Kami harap distribusinya merata, walaupun kenyataannya tidak seperti itu. Untuk penumpang yang mau pulang, kami anjurkan untuk mengatur jadwal kepulangannya,” ujar Agus.

Panjangnya waktu pantauan pada libur Nataru ini juga diingatkan Dirjen pada seluruh operator penerbangan agar konsisten dalam melayani masyarakat pengguna jasanya. Pengawasan yang terus menerus pun, kata Dirjen, perlu dilakukan sehingga operasional penerbangan dan pelayanan kepada penumpang tetap terlaksana dengan selamat, aman dan nyaman dari awal hingga akhir.

Pada H+4, kata Agus, kenaikan jumlah penumpang hanya 2-3 persen, tidak sebanyak pada H-3 atau 22 Desember 2017, yang merupakan puncaknya. Pada H-3 itu, jumlah penumpang domestik mencapai 278.616 orang atau naik 9,15 persen dibanding tahun 2016/2017 dengan 255.270 penumpang. Sebaliknya dengan jumlah penumpang pada penerbangan internasional, pada H-3 sebanyak 45.667 orang, turun 1,84 persen dibanding tahun lalu yang jumlahnya 46.521 penumpang.

i mencapai 45.667 penumpang total dari H-7 hingga H3, jumlah penumpang rute internasional tahun ini adalah 456.319 penumpang atau turun 0,23 persen dibanding tahun lalu yang jumlahnya 457.374 penumpang.

“Hari ini, pada H+4, penumpang paling banyak di Terminal 1B dan 1C karena di sini untuk penerbangan LCC (low cost carrier). Kami perintahkan empat gate dibuka biar lebih lancar; agar pemeriksaan keamanan dan check in bisa cepat sehingga tidak jadi antrean panjang,” tutur Dirjen.

Dirjen pun mengingatkan tentang cuaca ekstrem yang berdasarkan
ramalan BMKG masih terjadi. “Hal itu masih membayang-bayangi aktivitas yang terjadi di penerbangan. Kami sudah memberikan instruksi kepafa ariline dan AirNav untuk hati-hati jangan memaksakan diri. Jika jarak pandang di bawah minimum dilarang terbang atau mendarat,” paparnya.

Posko Nataru 2017/2018 melaporkan, tidak ada masalah yang berarti terkait keselamatan, keamanan, dan pelayanan angkutan udara hingga H+4. Dirjen memberikan apresiasi bagi semua pihak penyelenggara penerbangan dan masyarakat.

“Tidak mudah melakukan operasi  Nataru yang sangat panjang ini. Diperlukan daya tahan yang lebih dari semua pihak penyelenggara sehingga tetap bisa bekerja secara konsisten berdasarkan standar dan prosedur operasional yang berlaku. Saya berterimakasih dan mengharapkan hal positif ini bisa dipertahankan,” ucap Agus.

Di sisi lain, prediksi kenaikan jumlah penumpang yang rata-rata 5,2 persen ternyata terlampaui. Sampai saat ini, rata-ratanya mencapai 5,8 persen, yang menurut Dirjen angka ini diprediksi sama sampai akhir masa libur Nataru.

Menurut Dirjen, permintaàn untuk angkutan udara memang tinggi, walaupun untuk penerbangan internasional turun. Maka penerbangan tambahan pun lebih banyak. “Ada satu hari di peak days itu usulannya 139, padahal kami batasi operasi maksimal untuk take off dan landing di Soekarno-Hatta 81 pergerakan pesawat. Kita bisa perkirakan rata-rata harian operasinya sekitar 74-75, sehingga dalam satu jam hanya bisa mengakomodasi lima-enam penerbangan tambahan pada peak hour. Kalau dikalikan 16 jam, untuk extra flight hanya bisa sekitar 80 kali. Jadi sisanya yang 59 permintaan tak bisa diakomodasi pada jam-jam sibuk tadi. Kami bisa berikan layanannya di luar koridor 16 jam itu agar bisa terlayani, tapi dilemanya kalau terbang terlalu malam hari destinasi sudah tutup,” ungkapnya.

Memang sudah ada imbauan untuk membuka bandara destinasi itu lebih panjang. Namun bukan soal bandara saja karena ada limitasi, antara lain, akses ke dan dari bandara yang menjadi hambatan kenapa aktivitas pergerakan pesawat dari bandara-bandara besar masih belum maksimal.

Terkait hal tersebut, Ditjen Perhubungan Udara pun mengimbau masyarakat agar bisa mengatur waktu kepulangan agar tidak menumpuk pada hari yang sama. Di samping itu, Dirjen pun mengingatkan para penyelenggara penerbangan agar waspada pada cuaca ekstrem.