Ulah Penumpang Tingkatkan Insiden Penerbangan



Petugas memeriksa pesawat Batik Air yang tergelincir di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, Jumat (6/11). Petugas masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kecelakaan pesawat dengan rute Jakarta-Yogyakarta itu. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww/15.

Jumlah insiden akibat ulah penumpang di dalam pesawat meningkat tajam pada tahun lalu. Demikian laporan Asosiasi Transportasi Penerbangan Internasional (IATA). Dalam laporannya, IATA mencatat ada 10.854 insiden penumpang yang mengganggu penerbangan pada 2015 lalu. Dibandingkan tahun 2014 yang hanya 9.316 insiden, jumlah insiden meningkat 17 persen. Jumlah insiden tahun 2015 setara dengan satu insiden pada setiap 1.205 penerbangan.

Menurut catatan IATA, insiden yang terjadi antara lain berupa penumpang yang berkelahi, melecehkan secara verbal, atau menolak patuh pada aturan yang ditetapkan kru kabin di dalam pesawat. Penggunaan alkohol atau obat-obatan menjadi faktor utama terjadinya insiden. Pada 11 persen kasus, terjadi pula agresi fisik atau bahkan kerusakan di dalam pesawat. Dalam kasus penggunaan alkohol dan obat-obatan, IATA menyebut mayoritas kasus yang terjadi adalah penggunaan sebelum masuk ke dalam pesawat dan konsumsi pribadi.

“Peningkatan jumlah laporan insiden membuat kami berkesimpulan bahwa diperlukan upaya pencegahan yang lebih efektif,” jelas IATA dalam pernyataannya, seperti dikutip BBC (30/9).

Akibat insiden ulah penumpang, dari 265 maskapai anggota IATA, sebanyak 40 persen dari mereka terpaksa mengalihkan penerbangan, dan mengalami kerugian. Menindaklanjuti hal itu, para anggota IATA meminta kepada pemerintah tempat mereka beroperasi untuk mengadopsi Protokol Montreal Tahun 2014 yang memungkinkan maskapai mencari kompensasi dari penumpang yang tidak mau diatur. Saat ini, penumpang yang mengganggu penerbangan hanya bisa dikenakan hukuman di negara di mana maskapai tersebut terdaftar. Penumpang tidak bisa dikenakan hukuman di negara di mana pesawat mendarat.

Ilustrasi Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko.