Turbulensi: Aliran Udara yang Mengguncang Pesawat



CAT menjadi jenis turbulensi yang paling berisiko. Foto: RMS

Sebanyak 31 penumpang dan awak pesawat terluka akibat turbulensi udara yang melanda pesawat Airbus A330-200 Etihad Airways, Mei 2016 silam. Akibat turbulensi itu, kabin pesawat nomor penerbangan EY474 itu berantakan.

Turbulensi dapat terjadi ketika pesawat yang sedang terbang di udara memasuki ruang udara yang memiliki tekanan dan kecepatan udara berbeda-beda. Perbedaan tekanan dan kecepatan aliran udara itu bisa disebabkan bermacam hal, antara lain karena ada perbedaan suhu dan tekanan udara pada ruang udara tersebut.

Selain karena suhu dan tekanan yang berbeda-beda, turbulensi bisa juga disebabkan oleh pola arus angin yang berubah-ubah. Biasanya turbulensi yang disebabkan oleh perubahan pola arus angin dapat terjadi saat arus angin yang mengalir tiba-tiba menghantam obstruksi pada permukaan, seperti bukit, gunung, gedung-gedung, dan sebagainya.

Wagtendonk mendefinisikan turbulensi sebagai perubahan kecepatan yang terjadi dalam waktu singkat dan terjadi secara acak. Dengan kata lain, ketika kecepatan aliran udara dan atau arah pergerakannya berubah dengan cepat, maka pada saat itu dapat dikatakan telah terjadi turbulensi udara. Dan ketika pesawat terbang melalui aliran udara yang seperti itu, maka pesawat akan mengalami turbulensi.

Penyebab Turbulensi

Berdasarkan penyebabnya, ada empat jenis turbulensi, yaitu turubulensi yang disebabkan oleh panas, mekanis, perubahan arah angin, dan turbulensi aerodinamika atau wake turbulence.

Turbulensi yang disebabkan oleh panas disebut juga turbulensi konveksi. Biasanya terjadi pada ketinggian sekitar 2.000 sampai 10.000 kaki. Turbulensi ini disebabkan oleh udara panas yang naik dari permukaan ke udara dan berbenturan dengan udara yang lebih tinggi di atasnya. Intensitas turbulensi akibat panas permukaan bumi tergantung dari besarnya suhu permukaan dan juga ketinggian. Semakin tinggi biasanya efeknya semakin berkurang. Nah, ketika arus udara akibat turbulensi panas ini menabrak/ditabrak pesawat, maka terjadilah guncangan pada pesawat. Turbulensi panas biasa terjadi pada tengah hari ketika suhu udara permukaan telah menghangat sampai suhu maksimumnya.

Jenis turbulensi berkutnya adalah turbulensi mekanis. Jenis ini disebabkan oleh arus udara yang bergerak dekat dengan permukaan yang terganggu oleh struktur fisik seperti pegunungan atau bangunan buatan manusia. Adanya pegunungan atau struktur fisik ini menyebabkan perubahan arah aliran udara. Turbulensi mekanikas ini mempengaruhi lapisan atmosfir sampai ketinggian sekitar 2.000 kaki. Intensitas turbulensi mekanis ini bervariasi tergantung kecepatan angin dan seberapa besar struktur fisik yang dilewatinya.

Turbulensi yang terjadi akibat perubahan arah angin sebetulnya juga disebabkan adanya perbedaan tekanan udara. Udara mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Di atmosfir, keberadaan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah ini terjadi secara acak, sehingga dapat menyebabkan perubahan arah angin. Turbulensi akibat perubahan arah angin ini pun dapat mendadak terjadi baik secara horisontal maupun vertikal. Turbulensi jenis ini biasanya terjadi pada area perbatasan antara dua aliran udara yang bergerak berlawanan arah.

Yang terakhir, turbulensi aerodinamika. Jenis ini sering disebut juga wake turbulence. Turbulensi aerodinamikan terjadi di belakang pesawat akibat gerakan pesawat terbang di udara. Akibatnya, pesawat yang terbang di belakangnya bisa terkena efek turbulensi ini. Semakin besar ukuran pesawat, semakin besar juga efek turbulensi aerodinamikanya.

Nah, selain ke empat jenis turbulensi di atas, jenis yang sangat ditakuiti adalah Clear Air Turbulence (CAT). CAT ini biasanya terjadi di area tropopause yaitu ruang udara antara troposphere dan stratosphere pada ketinggian sekitar 23.000 sampai 40.000 feet. Turbulensi CAT ini dapat terjadi tiba–tiba, bahkan di cuaca cerah sekalipun. Keberadaannya tidak dapat dideteksi oleh radar sekalipun. Tidak satupun alat pada kokpit yang dapat memberikan peringatan kepada pilot akan datangnya turbulensi ini. Turbulensi CAT sangat berbahaya karena “kehadirannya” yang mendadak. Ketika pesawat memasuki turbulensi CAT, kecil kemungkinan awak pesawat dapat memperingatkan penumpang untuk kembali ke kursi mereka dan menggunakan sabuk pengaman. Oleh karena sifatnya yang sulit terdeteksi itu, CAT sering menyebabkan cidera pada penumpang dan kru pesawat.

 

Be the first to comment

Leave a Reply