Triwulan Ketiga 2017 Garuda Indonesia Catat Kinerja Positif



Direktur Utama Garuda Indonesia memaparkan kinerja keuangan perusahaan. Foto: Reni Rohmawati.

Kabar meruginya bisnis penerbangan yang dialami Garuda Indonesia dijawab manajemen baru yang dikukuhkan pada 12 April 2017 dengan mengumumkan kinerja positifnya pada triwulan ketiga tahun ini. Dalam periode bulan Juli, Agustus, dan September lalu, Garuda membukukan laba bersih 61,9 juta dollar AS atau naik 216,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Tercatat juga kenaikan pendapatan operasi 11,2 persen atau 1,225 miliar dollar AS dari 1,101 miliar dollar AS pada periode tersebut.

“Pada kuartal ketiga, kinerja Garuda lebih baik. Harga saham juga naik dari 324 (rupiah) menjadi 346. Namun bisnis airline itu bukan dilihat dari kinerja keuangannya saja, tapi bagaimana operating excellent-nya juga baik. Kita mencatat, pada Agustus dan September lalu ketepatan waktu penerbangan atau on time performance (OTP) Garuda di atas 91 persen,” kata Pahala N Mansury, Direktur Utama Garuda Indonesia pada paparan publik kinerja 3Q-2017 Garuda Indonesia Group di Gedung Aerofood Catering Service (ACS) di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Rabu 25 Oktober 2017.

Pahala mengatakan bahwa penerbangan haji memberikan kontribusi yang sangat positif dengan membukukan laba yang signifikan. OTP penerbangan haji juga sangat baik, yakni 97 persen. Bahkan OTP kepulangan jemaah haji yang biasanya sulit mencatatkan OTP tinggi, tahun ini mencapai 96 persen. “Ini operating excellent yang baik,” katanya.

Berbagai upaya yang dilakukan manajemen Garuda yang baru itu rupanya mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Upaya yang dilakukan, antara lain, dengan negosiasi kembali berbagai kontrak kerja sama, khususnya dalam pembiayaan pesawat. “Ada sembilan kontrak yang berhasil dinegosiasi ulang. Cost fleet itu 30 persen dari biaya operasi dan Garuda mengoptimalisasinya,” ujar Pahala. Dia menambahkan, negosiasi lain juga berbuah positif, seperti tentang ground handling, catering, dan hotel di Jeddah.

Garuda juga melakukan konfigurasi ulang pesawat Boeing 777-300ER dari tiga kelas layanan (First Class, Business Class, dan Economy Class) menjadi dua kelas layanan (Business Class dan Economy Class). Dengan demikian terdapat tambahan kapasitas 79 kursi per pesawat. “Saat ini sudah sembilan pesawat yang sudah di re-konfigurasi,” ucapt Pahala. Garuda memiliki 10 pesawat Boeing 777-300ER.

Penyesuaian kapasitas kursi di pesawat itu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi biaya pesawat terbang dan menjawab kebutuhan pasar di beberapa rute yang dilayani Garuda tanpa harus mendatangkan pesawat baru. Utilitas pesawat pun terus ditingkatkan hingga menjadi rata-rata 11 jam per hari. Memang sampai tahun 2019 bahkan 2020, Garuda tidak akan menambah armadanya. Pesanan 50 Boeing 737 generasi terbaru, termasuk Boeing 737 MAX ditunda pengirimannya. “Tahun ini hanya akan datang satu pesawat Boeing MAX-8. Tahun 2018 dan 2019 tidak ada pengiriman lagi,” ungkap Pahala.

Sementara itu, untuk meningkatkan kinerja layanannya, Garuda yang basis penerbangan domestik dan internasionalnya sudah pindah ke Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatat kenaikan jumlah penumpang yang menggunakan garbarata (aviobridge). Menurut Pahala, per September lalu, 97,2 persen penumpang internasional dan 87,5 persen penumpang domestic sudah dilayani dengan garbarata.

 

Gambaran hasil kinerja kuartal III-2017 (Q3-2017) dan Januari-September 2017 (9M-2017)

  Q3-2016 Q3-2017 % 9M-2016 9M-2017 %
Pendapatan operasi US$ 1,101 miliar US$ 1,225 miliar 11,2 US$ 2,865 miliar US$ 3,111 miliar 8,6
Laba bersih US$ 61,9 juta 216,1 (US$ 137,9 juta)* (US$ 76,1 juta)**
Penumpang Internasional 3,3 juta 3,7 juta orang 12,8
RPK 15,5#
Pendapatan kargo US$ 170,8 juta 9,6
Angkutan kargo 96.900 ton 104.700 ton 8,1 295.200 ton 324.100 ton 9,8
Pendapatan digital US$ 450,6 juta 7,6
Mobile apps 698.000 unduhan
Ancillary revenues US$ 53,9 juta 19
Penumpang Citilink 3,1 juta orang 3,4 juta orang 11,4 8,2 juta orang 9 juta orang 9,8
Penumpang GA Group 9,5 juta orang 9,6 juta orang 1,4 26 juta orang 26,8 juta orang 3,0
Utilitas pesawat 8 jam 56 mnt/hr 9 jam 34 mnt/hr
Seat Load Factor 73,4% 75%
On-Time Performance 87,8% 89,2%

Keterangan: * (di luar extraordinary items) pada 1H-2016 atau setahun pada tahun 2016; ** (di luar extraordinary items) ; # RPK (Revenue Passenger Kilometers) maskapai di Asia Pasifik 7,9%

Be the first to comment

Leave a Reply