Talbiyah Iringi Penerbangan Haji Garuda di Aceh



Pesawat Boeing 777-300ER Garuda Indonesia bersiap untuk terbang membawa jemaah haji di Bandara Internasional Iskandar Muda, Banda Aceh. Penerbangan haji ini diiringi talbiyah "labbaika allahumma labbaik..." sebelum lepas landas. Foto: Reni Rohmawati

Kalimat talbiyah: Labbaika allahumma labbaik … labbaika laa syariika laka labbaik … innalhamda wan-ni’mata … laka wal mulk … laa syariikalak …

Tidak biasanya, lantunan talbiyah mengiringi penerbangan haji dari suatu embarkasi. Namun di embarkasi Aceh, lantunan “sambutan setelah sambutan” itu dikumandangkan berulang-ulang dari kendaraan di apron Bandara Internasional Iskandar Muda di Banda Aceh. Talbiyah mengantarkan pesawat Boeing 777-300ER Garuda Indonesia terbang membawa 390 jemaah haji asal Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Bireun dalam kelompok terbang (kloter) 2 pada Ahad (5/8/2018).

Terasa memberi nilai religius yang membuat kita tunduk kepada Allah swt yang menguasai jagat raya ini. Memang selalu terasakan nilai ketaatan dan ketauhidan ketika mengantar para jemaah haji ke tanah suci. Ada pula makna lain dari “labbaika allahumma labbaik”, yakni terasa dekat dengan Sang Maha Pencipta, serta adanya cinta dan keikhlasan.

Keikhlasan atau ketulusan yang disertai kesabaran pula yang harus dimiliki oleh para awak pesawat penerbangan haji. “Kita harus ekstra sabar, terutama bagi awak kabin, karena jemaah haji itu orangnya beragam dan banyak yang belum pernah terbang,” kata Capt Andi Ruyandi, salah seorang dari tiga pilot Garuda yang menerbangkan haji kloter 2 dari Banda Aceh.

Masih saja ada jemaah haji yang buang air tidak di kloset, bahkan ada yang melakukannya tidak di lavatory karena sudah tak bisa menahankannya. Mereka kurang paham pula menggunakan peralatan yang ada di lavatory, sehingga kerap toilet di pesawat ini kotor. Inilah salah satu yang harus ditangani awak kabin dengan kesabaran ekstra itu.

“Karena itulah, kami sudah menyiapkan tata cara menggunakan lavatory ketika terbang dari embarkasi Padang menggunakan bahasa Minang. Kami tempelkan di setiap tombol. Itu inisiatif salah seorang rekan kami,” ujar Minerva Rahmadona, pramugari haji Garuda di Aceh. Sebelumnya, ia dan rekan-rekan awak kabinnya bertugas di embarkasi Padang.

Foto: Dok. Reni Rohmawati

Tentang lavatory memang masih menjadi permasalahan pada penerbangan haji dari tahun ke tahun. Maka pramugari haji Garuda, Yanti Dwi Astuti menyarankan agar penjelasan cara menggunakan lavatory disampaikan lebih intensif melalui KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji).

“Alangkah lebih baik jika penjelasannya disertai dengan simulasi,” ucap Yanti. Memang dengan melakukan praktik lapangan, ingatan seseorang bisa lebih baik daripada hanya sekadar memberi keterangan dan melihat lewat slide foto di layar.

Menurut General Manager Garuda Indonesia Kantor Cabang Aceh Endy Latief, pihak Garuda sudah pula melakukan sosialisasi tentang kondisi kabin pesawat terbang, terutama dalam menggunakan lavatory di setiap KBIH. Namun sosialisasi itu dinilainya masih belum intensif karena keterbatasan waktu. “Sosialisasi secara berulang dan terus menerus akan lebih baik,” ujarnya.

Kendala lainnya adalah membuang sampah sembarangan dan dalam memahami bahasa. Sebagian jemaah haji dari daerah-daerah terpencil terkadang kurang paham bahasa Indonesia. Inovasi dan improvisasi pun dibutuhkan agar jemaah haji nyaman selama penerbangan, seperti memberi perhatian lebih dan bantuan personal.

“Kami tidak boleh mengeluh. Anggap saja mereka orang tua kita. Bercandanya, kita ada perjanjian, untuk satu keluhan atau protes yang dilontarkan harus bayar satu dollar,” kata Capt Andi. Intinya, para awak penerbangan harus saling mengingatkan untuk bertugas dengan sebaik-baiknya. Apalagi sudah lima kali berturut-turut awak kabin Garuda menjadi yang terbaik di dunia.

Foto: Dok. Reni Rohmawati

Dalam kesempatan berbincang dengan seluruh awak pesawat penerbangan haji di Aceh pada 4 Agustus 2018 itu, beberapa saran juga disampaikan. Ravid Hamdani, satu-satunya pramugara dari 13 awak kabin yang bertugas, mengusulkan agar tongkat atau alat bantu berjalan bagi para lansia diperkenankan masuk kabin.

“Saya suka kasihan melihat mereka yang sudah sulit berjalan, ketika turun dari pesawat tak ada tongkatnya karena harus dimasukkan ke bagasi,” kata Ravid.

Senada dengan yang diucapkan Ravid tentang bantuan, Dona juga sering merasakan empatinya pada ibu-ibu yang harus membawa bawaan yang berat. “Saya suka minta tolong pada bapak-bapak terutama, untuk menolong membawakannya,” ujarnya.

Penerbangan haji rupanya memberi banyak motivasi bagi awak penerbangannya untuk berbuat lebih baik. Umumnya para awak kabin yang masih bertugas di Garuda ataupun yang sudah pensiun antusias untuk bisa bertugas dalam penerbangan haji. “Kami umumnya mengajukan diri untuk terbang haji,” kata Dona, yang baru pertama kali menjadi awak penerbangan haji.

Pramugari lainnya, Egi Novalina yang sudah tiga kali bertugas dalam penerbangan haji merasakan perbedaannya dengan tugas dalam penerbangan reguler. “Memang berbeda dan unik. Kita harus memiliki perhatian yang lebih besar. Tugasnya, walaupun lebih melelahkan tapi menyenangkan,” ucapnya.

Foto: Dok. Reni Rohmawati

Di sisi lain, Capt Aprilia Hendrawan mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan dan kebugaran. “Ini persiapan yang sangat penting ketika kami akan terbang,” tegasnya. Sembari berseloroh, pilot yang suka bercanda ini mengaku memiliki persiapan lain, yakni membawa lebih banyak uang buat beli oleh-oleh. Memang “tak afdol” jika ke Jeddah, kita tidak belanja.

Pilot Garuda lainnya, Capt Harry Tjahjono mengingatkan pula tentang keselamatan penerbangan. “Safety yang utama. Ini acuan tertinggi dalam penerbangan. Penerbangan haji ini merupakan proyek nasional yang harus benar-benar didukung dengan segala dinamikanya, mulai dari skedul sampai pelaksanaannya,” tuturnya.

Capt Harry menambahkan, “Kita harus lebih aware karena ketidakbiasaan rute penerbangan ini. Kesiapannya harus lebih, terutama awareness dari masing-masing individu yang bertugas. Bagaimana interaksi antara awak pesawat dan awak kabin untuk menjamin safety dalam kondisi yang tak biasa; lelahnya beda, mangkelnya juga beda.”

Terakhir, Capt Harry menekankan agar mereka sebagai awak penerbangan haji untuk saling mengingatkan dan selalu meningkatkannya dengan praktik CRM (Cockpit Resouce Management) yang baik. “Syarat CRM yang baik itu adalah knowledge sama dengan mental dan fisik yang wealthy, sehingga tingkat safety naik,” ujarnya.

Be the first to comment

Leave a Reply