Static Discharge “Melindungi” Pesawat dari Sambaran Petir



Sambaran petir saat badai. Foto: Pixabay

Setiap hari Bumi dihantam sekitar bahkan lebih dari 40.000 petir. Namun karena permukaan Bumi sangat luas, maka jumlah sambaran petir yang sedemikian banyak itu pun tak seluruhnya bisa kita lihat.

Di udara kemungkinan petir menyambar sebuah pesawat yang sedang terbang bisa saja terjadi. Namun kemungkinannya sangat kecil. Memang ada saja sebuah pesawat yang dilaporkan telah tersambar petir. Tingkat kerusakannya pun bervariasi, dari yang minimal adanya bekas sambaran pada sayap hingga terbakar pada bagian instrumen kokpit.

Para ilmuwan sendiri sebetulnya sudah cukup lama menemukan cara untuk mengatasi sambaran petir pada pesawat. Awal tahun 1980-an, Badan Antariksa AS (NASA) sengaja menerbangkan jet ke dalam badai di ketinggian 38.000 kaki atau 11,58 kilometer. Jet itu tersambar 72 kali selama 45 menit di dalam badai. Banyak hal bisa dipelajari dari peristiwa itu.

Kini, mungkin saja ada kejadian pesawat komersial yang tersambar petir. Sambaran biasanya mengenai ujung sayap, hidung pesawat, atau ekor pesawat, yang sebagian besar terbuat dari logam yang nyata-nyata merupakan konduktor listrik. Saat sambaran terjadi, mungkin efeknya bisa dirasakan di kabin pesawat, namun muatan listrik akibat petir itu biasanya akan segera terlepas kembali ke alam.

Untuk menghindari sambaran petir dan melepaskan muatan listrik yang menempel pada badan pesawat, pesawat terbang dilengkapi dengan “penangkal petir”.  Pada pesawat terbang alat it dikenal dengan nama static discharge. Tugasnya melepaskan muatan-muatan listrik statik pada badan pesawat, tidak hanya muatan listrik akibat sambaran petir, tetapi juga muatan listrik statik lainnya sebagai akibat gesekan badan pesawat dengan udara.

Saat terbang, muatan listrik di badan pesawat akan otomatis mengalir menuju static discharge. Pada pesawat sosok alat ini sebetulnya mudah ditemukan. Bentuknya seperti batang-batang kecil  yang biasanya ditempatkan pada ujung-ujung sayap pesawat dan ekor, serta menghadap ke belakang. Nah, jika pesawat tersambar petir atau kelebihan muatan listrik, alat ini akan otomatis melepaskan muatan listrik yang menempel badan pesawat dan melepaskannya kembali ke udara.  Dengan demikian, pesawat akan tetap aman berikut penumpang di dalamnya.

Namun walau telah dilengkapi dengan “penangkal petir”  berupa static discharge, ada saja pesawat yang tersambar petir. Seperti yang menimpa Presiden Prancis, François Hollande. Mei 2012. Pesawat yang menerbangkannya ke Jerman terpaksa berbalik arah dan mendarat kembali setelah tersambar petir. Walau tak ada kerusakan dan korban, akibat sambaran petir itu, pertemuannya dengan Kanselir Angela Merkel harus ditunda. Tak hanya itu, Life’s Little Mysteries, edisi 2012 menyebut, penerbangan 214 Pan American mengalami kecelakaan pada 8 Desember 1963 dan menewaskan 83 orang, diduga akibat sambaran petir.

Jadi walau telah dipasangi “penangkal petir”, bisa saja pesawat terbang tersambar petir saat tengah terbang, walau kondisi itu sangat jarang terjadi. Yang sering terjadi adalah adanya muatan listrik statis yang belum sempat terlepad dari badan pesawat. Muatan listik ini bisa saja ikut “mendarat” bersama pesawat. Hal ini sangat berbahaya, terlebih saat pesawat melakukan pengisian ulang bahan bakar. Lompatan listrik dari badan pesawat ke darat bisa memicu kebakaran. Nah, untuk menghindari efek buruk lompatan listrik dari badan pesawat, sesaat setelah mendarat pesawat harus di-ground untuk menetralkan muatan listrik pada badan pesawat.

Be the first to comment

Leave a Reply