Setelah Merger, Nama Indonesia AirAsia Bakal Lenyap?



Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Suprasetyo menghembuskan kabar yang cukup mengagetkan. Maskapai penerbangan Indonesia AirAsia dikabarkan akan melakukan merger dengan saudaranya, Indonesia AirAsia X. Langkah itu ditempuh oleh Indonesia AirAsia untuk keluar dari jerat pencabutan izin operasional oleh Kementerian Perhubungan lantaran memiliki ekuitas negatif.

Suprasetyo mengatakan, ekuitas Indonesia AirAsia X masih dianggap positif karena belum satu tahun beroperasi sehingga belum dilakukan audit laporan keuangan. “Indonesia AirAsia X ekuitasnya tidak negatif, karena belum diaudit dan belum setahun beroperasi,” ujarnya.

Menurut Suprasetyo, setelah melakukan merger dengan Indonesia AirAsia X, maka nama Indonesia AirAsia sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, dia pun meminta Indonesia AirAsia X untuk segera mengajukan rencana bisnis terbaru dan mengajukan izin rute kembali agar rute-rute yang kini dioperasikan oleh Indonesia AirAsia bisa dioperasikan oleh Indonesia AirAsia X. “Nama Indonesia AirAsia sudah tidak berlaku lagi. Sertifikat operator penerbangan juga tinggal satu, Indonesia AirAsia X,” kata Suprasetyo.

Seperti diketahui, Indonesia AirAsia merupakan satu dari 13 maskapai penerbangan yang ekuitasnya negatif. Kementerian Perhubungan meminta kepada maskapai penerbangan itu untuk segera memperbaiki ekuitasnya dengan tenggat waktu 30 September 2015. Jika tidak, Kementerian Perhubungan akan mencabut izin operasional maskapai penerbangan tersebut.

Sementara itu, Indonesia AirAsia X merupakan afiliasi dari AirAsia X asal Malaysia. Sama seperti Indonesia AirAsia, Indonesia AirAsia X masih masuk dalam bagian AirAsia Group. Hanya saja Indonesia AirAsia X awalnya dibangun untuk fokus melayani rute penerbangan jarak menengah hingga jarak jauh. Perjalanan Indonesia AirAsia X bukan tanpa kendala. Maskapai penerbangan ini diminta memenuhi aturan tentang kepemilikan dan pengoperasian pesawat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Dalam aturan itu, maskapai penerbangan niaga berjadwal wajib mengoperasikan minimal 10 pesawat, dengan rincian minimal lima pesawat berstatus milik dan sisanya boleh berstatus sewa. Kementerian Perhubungan juga memberikan tenggat waktu kepada Indonesia AirAsia X untuk memenuhi aturan ini. Merger dengan Indonesia AirAsia membuat Indonesia AirAsia mendapatkan pesawat secara instant dan terhindar dari sanksi pencabutan izin operasi dari Kementerian Perhubungan.

Foto: Tri Setyo Wijanarko/PhotoV2.com for Indo-Aviation.comĀ 

Be the first to comment

Leave a Reply