Saat Rute Internasional Lebih Seksi Dibanding Rute Domestik



Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sejak 2013 lalu telah membuat maskapai penerbangan di Indonesia kelimpungan, khususnya untuk penerbangan domestik. Bagaimana tidak? Nilai tukar rupiah sempat anjlok hingga 26 persen terhadap dolar Amerika Serikat, yang akan meningkatkan beban biaya yang ditanggung maskapai penerbangan sebesar 20 persen karena kebanyakan biaya tetap yang dikeluarkan maskapai penerbangan dalam bentuk dolar Amerika Serikat, sedangkan pendapatan dari penerbangan domestik dalam bentuk rupiah.

Tidak ingin maskapai penerbangan Indonesia sekarat, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengeluarkan peraturan baru, di mana maskapai penerbangan diizinkan menerapkan tarif tambahan (surcharge) sebagai kompensasi atas melemahnya nilai tukar rupiah terhadal dolar Amerika Serikat. Besaran tarif surcharge ini bervariasi, dihitung mulai dari Rp 60.000 per jam terbang untuk pesawat jet dan Rp 50.000 per jam terbang bagi pesawat turboprop.

Selain menerapkan tarif surcharge untuk penerbangan domestik, bagi maskapai penerbangan terdapat cara lain untuk menghadapi depresiasi rupiah, yaitu dengan melakukan ekspansi pada penerbangan internasional. Rute penerbangan internasional dianggap cukup menarik karena untuk penumpang dari luar negeri, pembayaran dilakukan dengan mata uang asing, yang umumnya dalam bentuk dolar Amerika Serikat, sehingga tidak terkena imbas jika rupiah mengalami depresiasi.

Selain itu, pasar penerbangan internasional di Indonesia masih belum terlayani dengan baik, membuka peluang bagi maskapai penerbangan untuk mengembangkan rute internasional semakin terbuka lebar. Menurut catatan, pasar penerbangan internasional di Indonesia hanya sepertujuh dibandingkan pasar penerbangan domestik. Pasar penerbangan domestik Indonesia merupakan yang terbesar kedua di kawasan Asia Pasifik, namun berada di urutan ke-11 untuk pasar penerbangan internasional. Sebagai perbandingan, pada tahun 2012 penumpang domestik mencapai 71,4 juta, sedangkan penumpang internasional hanya 9,9 juta.

Maskapai penerbangan Indonesia AirAsia pada tahun ini akan lebih fokus dalam mengembangkan rute penerbangan internasional. Bahkan, perusahaan berencana mengurangi rute domestik demi menambah rute internasional. Padahal, saat ini Indonesia AirAsia sudah mengalokasikan 60 persen kapasitas kursinya untuk rute internasional, sedangkan 40 persen sisanya untuk rute domestik. Nilai itu akan berubah menjadi 70 persen kapasitas untuk rute internasional dan hanya menyisakan 30 persen untuk rute domestik.

Tigerair Mandala yang saat ini mengoperasikan sembilan pesawat Airbus A320 akan lebih fokus dalam melayani rute internasional. Tigerair Mandala baru saja mengumumkan restrukturisasi rute penerbangan, dengan memangkas hingga 40 persen kapasitas melalui penutupan sembilan rute penerbangan dan mengurangi frekuensi pada dua rute penerbangan lainnya. Jika restrukturisasi jaringan rute penerbangan ini selesai, maka Tigerair Mandala akan mengalokasikan 73 persen kapasitas kursi untuk penerbangan internasional dan 27 persen sisanya untuk penerbangan domestik.

Sementara itu, Citilink Indonesia, maskapai penerbangan berbiaya rendah yang saat ini hanya mengoperasikan rute domestik, pada tahun 2014 mulai menjajaki rute internasional. Setidaknya akan ada enam rute internasional yang akan dibuka oleh Citilink pada tahun ini, di antaranya Surabaya-Johor Baru, Surabaya-Kuala Lumpur, Surabaya-Singapura, Denpasar-Kuala Lumpur, Denpasar-Singapura, dan Denpasar-Perth. Rute pertama yang dibuka adalah Surabaya-Johor Baru mulai 15 Maret 2014, sedangkan untuk lima rute lainnya Citilink belum mengumumkan kapan akan dibuka.

Maskapai penerbangan lainnya yang siap melakukan ekspansi rute internasional adalah anak perusahaan Lion Air, Batik Air. Maskapai yang mengusung konsep full service ini akan memulai layanan penerbangan internasional pada akhir 2014, dengan rute pertama adalah Jakarta-Singapura. Bahkan, Batik Air telah menyatakan akan melayani rute tersebut lebih dari satu kali sehari karena potensinya yang sangat menjanjikan. Batik Air juga akan melayani rute penerbangan ke Kuala Lumpur pada Januari 2015 dan Hong Kong ditargetkan pada awal 2015. Selain itu, Batik Air berniat terbang ke China dari Batam dan terbang dari Jakarta menuju Perth. Namun, belum diketahui secara pasti kapan rencana ini akan terwujud.

Be the first to comment

Leave a Reply