Raih Penghargaan Airport Council, AP I Bangun Sembilan Bandara



Menerima penghargaan dari Airport Council International Angkasa Pura I segera kembangkan bandara. Foto: Reni Rohmawati.

Kebanggaan PT Angkasa Pura (AP) I setelah meraih penghargaan dari Airport Council International (ACI) dalam Airport Service Quality (ASQ) Award 2016, memacu semangat untuk mempertahankan dan terus mengembangkan bandara-bandara yang dikelolanya. AP I mengelola 13 bandara, dua di antaranya, yakni Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, meraih penghargaaan prestisius tingkat dunia tersebut.

“Ini pencapaian luar biasa. Walaupun BUMN tapi kinerjanya kelas dunia. Harapan kami, kita bisa mempertahankannya dan bukan cuma dua bandara saja. Kita harus persiapkan karena persaingan sangat ketat. Ini bukan pencapaian yang terakhir, tapi kita harus mempersiapkan diri untuk ke depan,” ucap Danang S Baskoro, Direktur Utama PT AP I di Jakarta, Selasa 24 Oktober 2017.

Bandara Ngurah Rai meraih penghargaan “The 3th World Best Airport 2016” untuk kategori bandara dengan 15-25 juta penumpang per tahun. Sementara itu, Bandara Hasanuddin dianugerahi “The Most Improved Airport in Asia Pacific 2016”.

ASQ adalah program benchmarking global yang mengukur tingkat kepuasan penumpang di bandara. Program ini dilakukan oleh ACI, organisasi kebandarudaraan dunia yang berbasis di Montreal, Kanada, dengan 573 anggota yang mengoperasikan 1.751 bandara di 174 negara. Teritori jumlah bandaranya merepresentasikan 95 persen trafik bandara di dunia.

ASQ Award 2016 merupakan hasil survei yang dilakukan ACI terhadap 600.000 penumpang pesawat terbang di bandara dalam 41 bahasa di 84 negara sepanjang tahun 2016. Survei ini mengukur pandangan penumpang terhadap 34 indikator kinerja utama, seperti akses bandara, fasilitas dan aktivitas check-in, pemeriksaan keamanan, toilet, juga toko dan restoran di bandara. Di setiap bandara, survei dilakukan sama persis, sehingga setiap bandara memungkinkan untuk membandingkannya dengan bandara lain serta bagaimana pelaksanaan terbaik yang dilakukan operator bandara.

Menurut Danang, nilai Ngurah Rai beda sangat tipis dengan peraih peringkat pertama, yakni Bandara Internasional Tianhe Wuhan di Tiongkok. “Nilainya hanya selisih 0,01 dari skor tertinggi 5. Ngurah Rai mendapat nilai 4,98,” ungkapnya. Para operator bandara-bandara di Tiongkok, juga di Jepang, memang terus melakukan perbaikan dan peningkatan bandara yang dikelolanya serta menjadi pesaing yang kuat.

Aspek komersial dan aspek konektivitas tidak adanya kereta api menjadi “kekurangan” Ngurah Rai dibandingkan dengan Wuhan. “Kita pahami kesulitannya untuk membebaskan tanah itu di sini sulit. Barang-barang di toko bandara di Wuhan juga lebih murah dibandingkan dengan di Ngurah Rai yang masih lebih tinggi, yang menjadikan kurangnya nilai hasil survei itu. “Padahal kalau dilihat, penumpang itu lebih senang di Bali daripada di Wuhan. Bandara di Bali itu unik,” tambahnya.

Tahun 2016, AP I memang mengajukan dua bandara tersebut untuk disurvei dalam ASQ Award. Sebelas bandara lainnya tidak diajukan dan sembilan bandara di antara masih dalam pengembangan dan pembangunan. “Ahmad Yani di Semarang akan dipindahkan, begitu juga Adi Sucipto di Yogya akan pindah ke Kulonprogo. Kedua bandara ini akan selesai dua tahun ke depan,” papar Danang.

Kalau Bandara Juanda di Surabaya, sebelumnya pernah meraih “The Most Functual airport in The World”, tapi sekarang tidak diajukan karena sedang ekspansi membuat kanopi di Terminal 2. Kita siapkan infrastruktur sebaik-baiknya dulu,” tutur Danang. Sementara itu, dua bandara yang masih stagnan adalah Frans Kaisiepo di Biak dan El Tari di Kupang.

Penganugerahan dua penghargaan dari ASQ Award 2016 itu diserahkan oleh General ACI, Angela Gittens yang diterima Danang pada acara “27th Airport Council International Africa/World Annual General Assembly Conference & Exhibition” di Port Louis, Mauritius, pada Rabu 18 Oktober 2017.  “Bandara memainkan peran penting dalam perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat di suatu negara serta di tingkat regional dan dunia. Kita harus menyusun strategi untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Gittens waktu itu.

“Bandara-bandara ini sudah mendedikasikan diri untuk memberikan pengalaman bagi pelanggan yang luar biasa. ACI dengan bangga mengakui pencapaian itu. Kami pun berharap dapat mencari cara yang lebih efektif, efisien, dan menguntungkan dalam melayani masyarakat yang melakukan perjalanan udara,” kata Gittens.

Menurut Danang, para operator bandara di seluruh dunia, seperti operator bandara di Atlanta, AS, sebagai bandara tersibuk di dunia, hadir pada acara di Mauritius itu. Airport Council International memberikan penghargaan tinggi bagi operator-operator bandara tersebut.

 

Be the first to comment

Leave a Reply