PTDI Lakukan Transformasi Hadapi Era Disruptive




PT Dirgantara Indonesia (PTDI) melakukan transformasi bisnis, operasional, dan budaya, serta meningkatkan daya saing sumber daya manusianya untuk menghadapi adanya digitalisasi dan disruption pada era digital dan disruptive sekarang ini. Peringatan ulang tahun yang ke-42 dijadikan PTDI sebagai momentum untuk mencanangkan dan berkomitmen mengimplementasikannya.

Demikian disampaikan Direktur Utama PTDI, Elfien Goentoro pada “Awarding Day”. Puncak acara dalam rangkaian peringatan ulang tahun ke-42 PTDI itu diadakan di Hanggar Rotary Wing, Kawasan Produksi II PTDI, Bandung, Raby (12/9/2018).

“Sekarang kami memberi apresiasi kepada yang memberikan kontribusi bagi kemajuan PTDI,” katanya, seraya menambahkan bahwa visi PTDI adalah menjadi yang terdepan sebagai manufaktur pesawat turboprop kecil dan ringan di Asia Pasifik, khususnya di Asia Tenggara. Penghargaan diberikan kepada para perintis dan pendukung PTDI, antara lain, Lifetime Award to the Pioneer of PTDI bagi Nurtanio Pringgoadisuryo dan Lifetime Award to the Founding Father of PTDI bagi Bacharuddin Jusuf Habibie.

Menurut Elfien, implementasi transformasi perusahaan tersebut adalah bagaimana PTDI bisa efisien dalam membiayai produksinya. “Dalam lima tahun kami menbutuhkan biaya produksi sebesar 12 juta dollar AS dengan kenaikan produksi 15%-20%,” ucapnya. Dalam 42 tahun, PTDI sudah memroduksi 148 pesawat, 48 unit di antaranya diekspor ke mancanegara.

Menteri BUMN Rini M Soemarno pun memberi catatan, yang dibacakan oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media, Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno. “Kita semua harus bangga pada PTDI bisa ulang tahun ke-42 dengan selamat. Kita satukan semangat untuk bisa membuat pesawat terbang dan harus bisa memroduksinya secara besar. Kami memiliki keyakinan tinggi dengan semangat sinergi BUMN untuk negeri.’

Fajar mengatakan, hanya ada satu negara yang dalam 20 tahun mampu mendesain, membangun, dan menerbangkan pesawat terbang. Korporasi ini adalah PTDI. “PTDI membuat pesawat CASA 212 bersama Spanyol. Sudah ada 600 populasi CASA di dunia. CN235 dibangun di Bandung dan sekarang ada 350 unit di dunia. Setiap satu pesawat, 50% pekerjaannya dilakukan di Bandung. Hebatnya, CN235 itu ada 14 unit di Korea Selatan dan 12 unit di Australia dengan nama lain,” tutur Fajar, yang berterima kasih kepada TNI AU bukan hanya karena mengoperasikan pesawat buatan PTDI, tapi karena sudah “melahirkannya”.

Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan, sepertiga kekuatan armada TNI AU adalah pesawat dari PTDI, antara lain, helikopter Cougar, NC212, CN235, dan CN285. “Kami berharap, PTDI menjadi besar. Kalau AU menggunakan pesawatnya, manufaktur itu akan cepat besar, selama persyaratan dan spesifikasinya memenuhi yang kami tentukan,” ujar Komisaris Utama PTDI ini dan berharap Indonesia memiliki industri dirgantara yang maju.

Foto: Reni