PTDI Harus Rebut Pasar N219




Menhub Budi Karya Sumadi diapit Dirut PTDI Elfien Goentoro (kiri) dan Chief Test Pilot PTDI Capt Esther Gayatri Saleh di gerai PTDI di Singapore Airshow. Foto: Reni Rohmawati

Kehadiran PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Singapore Airshow merupakan langkah yang baik untuk promosi produk-produknya, seperti CN235, NC212i, dan yang terbaru N219 Nurtanio ke pasar luar negeri. Namun pemasaran di dalam negeri yang merupakan pasar sangat potensial, khususnya bagi N219 Nurtanio, harus terus diupayakan dan ditingkatkan.

Demikian disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sewaktu meninjau gerai PTDI di Singapore Airshow, Selasa (6/2/2018). Pada saat yang sama, hadir pula Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Politik Hukum dan Keamanan Wiranto yang berkunjung ke gerai PTDI. “PTDI harus mempertahankan produknya dengan baik dan membanggakan bangsa, tapi juga bisa dipasarkan. Maka PTDI harus rebut pasar itu dengan menggunakan produk yang memiliki keunggulan,” ucapnya.

Menurut Menhub, dunia semakin maju dengan segala aspeknya. “Indonesia harus punya peran dan bisa bersaing. Apa yang dilakukan PTDI sudah sejalan dengan konsep pemerintahan Jokowi-JK yang selalu memperhitungkan tentang daya saing dan pasti ada semangat lain. Apalagi industri aviasi ini sarat dengan teknologi dan pemikiran tinggi,” ujarnya.

Menhub mencatat, pesawat produksi PTDI memiliki prestasi, seperti CN235 yang sudah dipasarkan ke berbagai negara dan sekarang giliran N219 Nurtanio, yang saat ini dalam proses sertifikasi dari otoritas penerbangan sipil Indonesia (DKPPU, Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara). Menhub mengatakan, PTDI menjadi kebanggaan bangsa, tapi sebagai korporasi harus diupayakan mendapat keuntungan.

“Di event seperti ini, biasanya saya dikunjungi negara-negara tetangga. Mereka cerita negaranya. Saya pun cerita dan tampilkan model N219 di meja. Ini keberhasilan anak bangsa dan Anda layak mempertimbangkan untuk membelinya,” tutur Menhub.

Namun, kata Menhub, selain dipasarkan ke luar negeri, N219 Nurtanio harus dipasarkan di dalam negeri. “Kita tahu di Papua, Kalimantan Utara, dan Aceh, butuh pesawat kapasitas 19 orang. Pesawat yang memiliki kemampuan bisa mendarat di landasan pendek dengan bahan bakar efisien,” ungkapnya.

Pesawat N219 Nurtanio ditawarkan Menhub kepada pemerintah provinsi dan pemerintah daerah. “Gubernur kalau datang, saya tawarkan untuk membeli, sehingga nantinya mereka tidak bergantung lagi.” ucapnya. Namun, kata Menhub, Kementerian Perhubungan tetap menetapkan syarat tertentu pada pemda yang akan membeli N219 Nurtanio, terutama untuk pengoperasiannya.

“Mungkin bisa dikumpulkan lima pesawat yang dibeli lima kabupaten di Papua untuk dikelola oleh satu perusahaan penerbangan. Itu lebih baik, sehingga pengoperasian dan perawatannya lebih efisien,” ujar Menhub.

Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro mengatakan, PTDI sudah mengantongi beberapa provinsi dan kabupaten, termasuk perusahaan penerbangan, yang berminat membeli N219 Nurtanio. Bahkan beberapa negara, seperti Turki, Malaysia, Vietnam, dan China, juga sudah menyatakan minatnya.

“Akan ada penandatanganan di Singapore Airshow ini, seperti dengan Pelita Air Service, Trigana Air, Gatari Air Service, juga Pemprov Aceh, Pemprov Kaltara, dan Pemda Puncak, Papua. Pelita akan tanda tangan untuk 20 pesawat, pemda satu-dua pesawat. Targetnya, di airshow ini ada pemesanan lebih dari 20 pesawat,” ujar Elfien.

Untuk mencapai pendapatan yang menguntungkan, harus terjual minimal 100 pesawat N219 Nurtanio. Kata Elfien, “Target minimal 100 unit pesawat N219 bisa dipesan agar produksi lebih efisien. Kita targetkan dalam satu bulan, bisa produksi empat pesawat.”

Targetnya pula, dalam tahun 2018, pesawat N219 Nurtanio mendapat sertifikasi dan tahun 2019 mulai diproduksi. Pelita akan menjadi operator pertama pengoperasian N219 Nurtanio sebagai pesawat komersial pada Juli 2019.