Penerbangan Indonesia Waspadai Aktivitas Vulkanik Gunung Agung



Rapat Ditjen Perhubungan Udara mengantisipasi letusan Gunung Agung, Bali. Foto: Humas DJPU.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Sabtu 23 September 2017, mengundang stakeholder dan operator penerbangan terkait untuk membahas langkah mitigasi sebagai antisipasi  bencana letusan Gunung Agung bagi keselamatan penerbangan nasional.

Rapat yang dilakukan di kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I, kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang itu  dipimpin langsung oleh Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso. Rapat dihadiri oleh  Direktur Utama LPPNPI (AirNav) dan perwakilan dari Angkasa Pura I, Garuda Indonesia serta Jajaran Ditjen Perhubungan Udara. Pertemuan itu dilatarbelakangi adanya peningkatan aktivitas Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali.  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikan status Gunung Agung dari level III (siaga) menjadi level IV (awas) per Jumat 22 September 2017.

Dalam keterangan persnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso menjelaskan bahwa peningkatan status Gunung Agung belum berdampak terhadap aktivitas penerbangan dari dan menuju Pulau Dewata. Namun demikian, menyikapi hal tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama stakeholder terkait telah menyiapkan rencana kontigensi (contigency plan) guna mengantisipasi jika gunung tersebut mengalami erupsi dan berdampak terhadap aktivitas penerbangan.

“Hingga Sabtu pagi WITA, sebaran debu vulkanik (Volcanic Ash) belum terdeteksi. Dengan demikian, kondisi yang terjadi pada Gunung Agung belum memengaruhi operasional penerbangan. “Aktivitas penerbangan baik domestik maupun internasional dan over flying, masih normal,” ujar Agus.

Terkait peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung tersebut, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengingatkan seluruh insan penerbangan, terutama yang akan melakukan operasional di sekitar Bali untuk waspada. Semua aktivitas operasional penerbangan harus merujuk pada prosedur standar operasi (SOP) yang telah ditetapkan terkait aktivitas gunung berapi.

“Kondisi cuaca harus diperhatikan benar-benar dan  merujuk pada hasil pengamatan dan kajian dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan BMKG, Tim pengelola navigasi penerbangan (AirNav Indonesia) dan pilot maskapai penerbangan harus melakukan koordinasi intensif dengan PVMBG agar untuk menghindari kondisi-kondisi yang bisa membahayakan keselamatan operasional penerbangan,” tambah Agus Santoso.

Agus menekankan bahwa keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan harus tetap diperhatikan. Untuk itu upaya pencegahan harus didahulukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Di sisi lain, Agus juga mengharuskan semua pihak bersiap-siap menghadapi segala sesuatu yang terburuk.

“Saya instruksikan pada siapa saja, jangan memaksakan untuk terbang kalau memang kondisi tidak memungkinkan dan ada larangan untuk itu. Lebih baik menunggu di darat dengan selamat daripada terbang tapi tidak selamat. Dan untuk maskapai serta pengelola bandara, harus disiapkan  antisipasi penanganan penumpukan penumpang di bandara jika terjadi keterlambatan (delay) penerbangan,” ujar Agus lagi.

Kepada penumpang, Agus mengharapkan agar bersabar dan tetap mengikuti aturan yang berlaku. “Ini adalah kondisi alam yang tidak bisa cegah. Jadi kita harus bersabar dan mengantisipasinya sehingga tidak mengganggu keselamatan, keamanan dan kenyamanan kita,” ujarnya.

Agus sendiri menyatakan pihak Ditjen Perhubungan Udara akan terus memantau perubahan kondisi akibat aktivitas vulkanik Gunung Agung ini dengan bekerjasama pihak-pihak terkait seperti PVMBG, BMKG dan BNPB. Ditjen Hubud akan proaktif dengan menerbitkan notice to airmen (Notam) jika terjadi perubahan kondisi cuaca. Baik kondisi yang positif maupun negatif untuk penerbangan.

Dari laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang merujuk pada PVMBG, terjadi peningkatan aktivitas vulkanik dari kegempaan yang terus meningkat sehingga status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali dinaikkan dari Siaga (Level 3) menjadi Awas (Level 4). Level Awas adalah level tertinggi dalam status gunungapi. Status Awas berlaku terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20.30 WITA.

“Masyarakat dihimbau untuk tenang. Jangan terpancing pada isu-isu yang menyesatkan. Hingga saat ini Gunung Agung belum meletus dan pemantauan diintensifkan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

 

Be the first to comment

Leave a Reply