Penerbangan haji: Ditjen Perhubungan Udara Lakukan Rampcheck



Dirjen Perhubungan Udara, Agus Santoso, melakukan rampcheck persiapan penerbangan haji 2017. Foto: Humas DJPU

Guna memastikan keamanan, keselamatan dan kenyamanan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah melakukan  pemeriksaan dan pengawasan terhadap sarana dan prasarana yang akan dipakai untuk penerbangan haji tahun 2017. Pemeriksaan dan pengawasan dilakukan terhadap maskapai, pesawat terbang dan bandara   embarkasi haji.

“Pemeriksaan dan pengawasan ini sebagai langkah untuk mengawal keselamatan, keamanan dan kenyamanan jamaah selama pelayanan penerbangan haji. Baik itu sebelum (keberangkatan) maupun sesudah (kepulangan) jemaah haji,” ujar Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso, hari ini (23/7) di Jakarta, sesaat setelah melakukan rampcheck di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Menurut Agus, sesuai CASR, setiap pesawat udara yang masuk dan atau dioperasikan di Indonesia wajib dievaluasi dan  diperiksa kelaikannya sebelum jadwal keberangkatan, termasuk pesawat untuk penerbangn haji. Pemeriksaan kelaikan pesawat udara umumnya meliputi, Aircraft General Condition; Airworthiness Directive Compliance; Life Limited Components; Riwayat Perawatan (jadwal inspeksi sebelumnya) dan dokumen-dokumen pesawat udara.

Selain memeriksa kesiapan pesawat udara, Ditjen Perhubungan Udara juga telah melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan 12 bandara embarkasi dan 5 bandara embarkasi antara.

Duabelas bandara yang akan menjadi bandara embarkasi haji adalah: Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Bandara Kualanamu Deliserdang, Bandara Minangkabau Padang, Bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang, Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Halim Perdana Kusuma, Bandara Adi Sumarmo Solo, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Sultan Hasanuddin Makasar dan Bandara Lombok Praya Lombok.


Di antara 12 bandara itu, ada 3 (tiga) Bandara yaitu Bandara Lombok Praya Lombok, Bandara Minangkabau Padang, dan Bandara Halim Perdanakusuma yang akan dioperasikan dengan restriksi karena faktor teknis. Menurut Agus, hal ini harus dilakukan, dan pihaknya memberikan batasan berat tinggal landas maksimal yang terhadap pesawat dari ketiga bandara tersebut. Ditjen Perhubungan Udara menetapkan, di Bandara Minangkabau Padang, berat maksimum tinggal landas pesawat dibatasi hingga 283.930 kg. Di Bandara Lombok Praya Lombok, 349.300 kg. Dan di Bandara Halim Perdanakusuma, 270.000 kg.

“Kami telah melaksanakan segala perhitungan teknis demi melayani saudara-saudara kita yang akan menunaikan ibadah haji,” kata Agus. “Pembatasan berat maksimal tinggal landas ini tidak akan mengurangi jumlah jemaah. Yang  di-reduce adalah barang dan fuel. Itu yang bisa dilakukan agar seluruh penerbangan haji dari ketiga bandara itu bisa terlaksana.”

Menurut rencana, keberangkatan penerbangan haji dari Indonesia  dimulai pada 28 Juli 2017, dengan kedatangan terakhir pada 6 Oktober 2017. Tahun ini berkat upaya yang dilakukan pemerintah, kuota haji Indonesia bertambah 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2017, Indonesia akan memberangkatkan 221.000 calon jemaah haji, terdiri dari jemaah haji regular 204.000 orang, dan calon jamaah haji khusus  17.000 orang.

Kementerian Agama pun menetapkan dua maskapai penerbangan untuk menerbangkan para jemaah, yaitu Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines. Garuda Indonesia menerbangkan 107.959  jemaah dan petugas dari 285 kloter. Sedangkan Saudi Arabian Airlines akan menerbangkan 98.576 jemaah dan petugas dari 230 kloter. Sehingga total penumpang yang akan diterbangkan adalah 206.535 jemaah dan 515 petugas haji.

1 Trackback / Pingback

  1. Penerbangan haji: 32 Pesawat Garuda dan Saudi Arabian Dipersiapkan | IndoAviation

Leave a Reply