Pembangunan Satelit Telkom-4 Capai 70 Persen Diluncurkan Tahun 2018



Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga (tengah) didampingi Direktur Network & IT Solution Telkom Zulhelfi Abidin (kiri) dan Direktur Wholesale & International Service Telkom Abdus Somad Arief (kanan) saat memberikan keterangan pada Press Conference Service Recovery Telkom 1 di Jakarta (28/8). Foto: PT Telkom Indonesia.

Proses pembangunan satelit Telkom-4 milik PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk sudah mencapai 70 persen. “Kita optimis, satelit Telkom-4 bisa lebih cepat dari jadwal keluar pabriknya. Sekarang proses pembuatannya sudah 70 persen,” ungkap Abdus Somad Arief, Direktur Wholesale & International Service PT Telkom di Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Telkom menunjuk manufaktur Space Systems Loral (SSL) sebagai pembuat satelit Telkom-4 dengan model On Ground Delivery (OGD). Sementara perusahaan peluncurnya adalah SpaceX dari Amerika Serikat.
Satelit Telkom-4 akan menggantikan posisi satelit Telkom-1 di slot orbit 108, yang mengalami anomali pada pekan lalu.

Satelit Telkom-4 direncanakan membawa 60 transponder. Nantinya, 36 transponder akan disewakan untuk kebutuhan domestik, sedangkan sisa 24 transponder akan dipasarkan untuk India. Satelit Telkom-4 rencananya akan menggunakan platform SSL 1300 dan didesain untuk operasional selama 15 tahun.

Peluncuran satelit Telkom-4 direncanakan pada pertengahan tahun 2018. “Ini membuktikan bahwa Telkom dalam perencanaan pengadaan satelit tersebut terukur Hal itu diakui para mitra ketika saya menjelaskan startegi ke depan untuk bisnis satelit,” kata Dian Rachmawan, Direktur Enterprise dan Business Service PT Telkom.

Konsistensi Telkom dalam berbisnis satelit yang strategis tetapi dikenal berisiko tinggi itu diapresiasi Sekjen Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB), M Ridwan Effendi. “Bisnis satelit itu tinggi risikonya. Harganya pun tinggi, antara Rp2triliun-Rp3triliun. Satelit juga tidak ada ready stock. Proses pembuatan lama, sekitar 2 tahun. Biaya peluncuran mahal, asuransi juga mahal; 20 persen% dari harga satelit,” ujarnya.

Ridwan menambahkan tentang risiko tinggi itu. “Kalau sudah di angkasa, ada risiko gerhana satelit 60 kali setahun dan sun outage. Mana umur operasi pendek. Kita bersyukur, Telkom termasuk yang disiplin dalam perencanaan pengadaan satelit dan sesuai best practice di bisnis ini,” katanya.

Sebelumnya, pada Jumat (25/8/2017) sekitar pukul 16.51 WIB, terjadi anomali pada satelit Telkom-1 yang berakibat pada pergeseran pointing antena satelit tersebut. Dengan adanya anomali itu, layanan transponder satelit Telkom-1 terganggu.

Berdasarkan hasil evaluasi dan konsultasi dengan Lockheed Martin pada tahun 2014 dan tahun 2016, satelit Telkom-1 dalam kondisi baik dan dapat beroperasi normal hingga beberapa tahun ke depan. Bahkan, sekurang kurangnya sampai dengan tahun 2019 masih operasi, sesuai dengan best practice di industri satelit

Be the first to comment

Leave a Reply