Pelita Air Berencana Komersilkan Bandara Pondok Cabe



Maskapai penerbangan Peliat Air selaku pengelola Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan berencana mengubah bandra itu menjadi bandara umum tipe B, sehingga bisa digunakan sebagai bandara komersial bagi maskapai penerbangan lain. Langkah itu dilakukan lantaran bisnis penerbangan charter di sektor migas yang menjadi bisnis inti Pelita Air sedang lesu.

Presiden Direktur Pelita Air Dani Adriananta mengatakan, untuk pengembangan Bandara Pondok Cabe sebagai bandara komersial, pihaknya menyiapkan dana sebesar US$ 5 juta. Rencananya, pendanaan untuk pengembangan bandara akan dilakukan oleh induk perusahaan Pelita Air, PT Pertamina. “Untuk tahap pertama, kebutuhan dananya sekitarUS$ 4 juta-US$ 5 juta, dan proyeknya rampung diperkirakan pada Juli 2016. Sementara groundbreaking-nya pada Desember tahun ini, bersamaan dengan HUT Pertamina,” katanya.

Menurut Dani, anjloknya harga minyak mentah dunia membuat bisnis penerbangan charter perusahaan pertambangan minyak dan gas mengalami penurunan tajam, sementara bisnis Pelita Air 93 persen disokong dari sektor usaha minyak dan gas. Oleh karena itu, perlu ada kantong pendapatan lain yang bisa menopang perusahaan agar tetap bertahan.

Dia menuturkan, komersialisasi Bandara Pondok Cabe yang merupakan bandara milik Pertamina bisa memberikan pendapatan tambahan bagi Pelita Air. “Selama ini, Bandara Pondok Cabe hanya digunakan Pelita Air saja. Sayang dong, ini aset segini besarnya, fasilitas juga sangat bagus. Nah, di sisi lain, Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Soekarno-Hatta juga sudah overload,” tutur Dani.

Jika sudah selesai dikembangkan, bandara yang memiliki luas lahan 116 hektar ini bisa menampung antara 500.000 hingga 1 juta penumpang per tahun. Pesawat yang diperbolehkan beroperasi di Bandara Pondok Cabe nantinya hanyalah pesawat-pesawat dengan mesin baling-baling (propeller). Dani optimis akan ada maskapai penerbangan yang mau beroperasi di Bandara Pondok Cabe karena padatnya penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Soekarno-Hatta.

Foto: Wikimedia

Be the first to comment

Leave a Reply