Pagi di Tidore, Siang di Ternate, Malam di Ambon



Mendung menggantung saat saya bangun pagi ini di rumah Yadi, di Ternate. Tampaknya setiap pagi cuaca memang demikian. Sedikit mendung dan gerimis di pagi hari, dan kemudian panas terik menyengat di siang hari. Hujan tampaknya akan menemani sedikit perjalanan saya ke Tidore pagi ini.

*) Syarat ketentuan berlaku.

Setelah sarapan, Yadi mengantarkan saya ke pelabuhan Bastiong. Tempat yang sama saat dia menjemput saya kemarin waktu tiba dari Sofifi, Pulau Halmahera. Pelabuhan ini memang digunakan untuk menyeberang ke Pulau Halmahera dan Tidore. Dermaga yang digunakannya pun bersebelahan. Tujuan Tidore memang tidak seramai Tidore. Tidak ada antrian pegawai negeri yang harus melakukan tugasnya ke kantor Gubernur di Sofifi. Saya dengan mudah mendapatkan kapal cepat kecil untuk menyeberang.

Menaiki kapal cepat berukuran kecil saat mendung dan angin yang menyebabkan ombak memang bukan pengalaman yang menyenangkan. Rencana sedikit tidur hanya tinggal rencana. Setiap mata mulai terpejam, kapal melayang dan terbanting kembali ke laut. Harus selalu siap berpegangan kalau tidak mau jatuh dari kursi. Belum lagi cipratan air yang kerap membasahi muka. Untunglah tidak lama perjalanan ini berakhir. Perjalanan mengelilingi Tidore dilanjutkan dengan menggunakan motor.

Tempat pemberhentian pertama terletak tidak jauh dari pelabuhan Rum, Tidore. Sebuah prasasti yang dibuat oleh Kedutaan Besar Spanyol untuk memperingati merapatnya Juan Sebastian De Elcano beserta awak kapal Trinidad dan Victoria pada tahun 1521.

Perjalanan dilanjutkan dalam gerimis menuju Pantai Ake Sahu atau Pantai Air Panas. Dinamakan demikian karena pantai ini mempunya keunikan dengan sebuah kolam air panas tawar yang terletak tidak jauh dari bibir pantai. Kolam yang tidak besar ini sudah rapi terbeton dan dinaungi sebuah pohon yang cukup tua. Diantara akar-akar pohon banyak terikat kain ataupun plastik. Menurut cerita, ikatan-ikatan itu merupakan simbol dari harapan atau keinginan pengunjung yang datang ke kolam air panas ini.

2 tidore 2

Cukup merakan air panas di Pantai Ake Sahu, perjalanan berlanjut ke Keraton Tidore. Bangunannya megah dan sepertinya baru saja direnovasi dengan latar belakang Gunung Kie Matubu, setinggi 1.730 meter. Sayangnya Keraton tutup hari itu, jadi saya hanya bisa menyaksikannya dari luar saja. Bukan saja bangunannya yang tertutup, seluruh areanya pun tertutup pagar. Akhirnya saya bisa memasuki halaman melalui pintu pagar samping. Seorang penduduk yang tinggal di depan pintu pagar mengingatkan untuk kembali menutup pintu pagar agar kambing tidak masuk ke halaman keraton. Pantas seluruh pagar yang ada dalam keadaan tertutup.

2 tidore 3

Setelah berfoto di depan Keraton, saya mengunjungi Benteng Torre. Di Tidore terdapat dua benteng, yaitu Benteng Torre yang dibangun oleh Portugis dan Benteng Tahula yang dibangun oleh Spanyol. Sayangnya kondisi kedua benteng ini sudah rusak karena usia. Pemerintah Tidore mulai merestorasi kondisi benteng mendekati bentuk aslinya. Benteng Torre terletak dibelakang Keraton Tidore sedangkan Benteng Tahula berada di Kota Soasio. Dari kedua benteng ini terlihat laut yang memisahkan Tidore dengan Pulau Halmahera. Kedua benteng ini terletak jauh diatas bukit, jadi butuh tenaga ekstra untuk menaiki tangga yang ada. Baju yang sudah basah oleh hujan ditambah kemudian keringat.

Akhirnya gerimis berhenti. Jam 12 tepat saya kembali ke Pelabuhan Rum untuk menyeberang ke Ternate. Angin tidak lagi sekeras pagi tadi, walaupun demikian perjalanan tetap saja membuat kapal terbanting-banting dihantam ombak. Yadi sudah siap dengan motornya di Pelabuhan Bastiong. Makan sudah siap santap di rumah.

Setelah mengambil tas dan makan siang, Yadi mengantar saya ke Bandara Sultan Babullah. Kembali bermotor cepat untuk mengejar pesawat menuju Bandara Pattimura Ambon yang terjadwal tidak sampai hitungan satu jam akan berangkat. Jalanan kota yang tidak ramai dan bandara yang terletak ditengah kota menyelamatkan saya tiba tepat waktu.

Pesawat terbang melintasi Ternate, Tidore, dan Halmahera. Ketiga pulau yang saya jelajahi dalam waktu kurang dari empat hari. Ternyata waktu yang dialokasikan untuk menjelajahinya tidak cukup panjang. Belum sempat menjejakkan kaki ke Pulau Morotai, Halmahera, snorkeling di Teluk Saomadaha, mengunjungi Benteng Oranje, dan Keraton di Ternate, serta Gura Bunga di Tidore.

Foto & teks: Fanny Gumay / KawanJelajah.Com

Be the first to comment

Leave a Reply