Categories
Domestic

N219 Nurtanio Hadir di Singapore Airshow

Meskipun sosok pesawat purwarupa N219 Nurtanio tidak terbang ke Singapore Airshow, tapi “kehadirannya” di gerai (booth) PT Dirgantara Indonesia ((PTDI) dijadikan primadona. Dalam booth PTDI, ditampilkan model pesawat N219 Nurtanio berikut pilotnya, Chief Test Pilot PTDI Capt Esther Gayatri Saleh, yang sudah hadir di Singapura bersama direksi PTDI hari ini (5/2/2018).

“Kami bakal hadir di Singapore Airshow dan menawarkan keunggulan N219 Nurtanio, walaupun pesawat tidak terbang ke sana,” kata Ade Yuyu Wahyuna, Sekretaris Perusahaan PTDI di Bandung, Jumat (2/2/2018).

Booth PTDI di Singapore Airshow kali ini memang menonjolkan pesawat desain anak bangsa N219 Nurtanio. Dukungan Pemerintah pun sangat besar dengan bakal dikunjunginya booth PTDI oleh empat menteri.

Besok (6/2/2018), setelah seremoni pengguntingan pita Singapore Airshow, rencananya Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menteri Polhukam Wiranto, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan berkunjung ke booth PTDI. Sementara itu, pada hari kedua (7/2/2018) akan hadir Menteri BUMN Rini Soemarno.

Pada hari kedua itu, PTDI akan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Pelita Air Servis serta Pemprov Aceh dan Pemkab Puncak Jaya, Papua. Kedua pemerintah daerah ini berminat untuk membeli N219 Nurtanio, sementara Pelita akan menjadi operator peluncuran perdana (first launch customer) pesawat tersebut. Hari berikutnya (8/2/2018) penandanganan pembelian N219 Nurtanio dilaksanakan PTDI dengan Pemprov Kalimantan Utara.

Pesawat N219 pada 16 Agustus 2017 melakukan terbang perdana (first flight) dan diberi nama “Nurtanio” oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2017. Sampai 2 Februari 2018, pesawat yang sedang dalam proses sertifikasi ini sudah 14 kali terbang dan membukukan 16-17 jam terbang.

Targetnya, pesawat N219 Nurtanio bisa memperoleh sertifikasi dalam tahun 2018 dan diproduksi tahun 2019. Penerbangan perdana komersial oleh Pelita ditargetkan pada Juli 2019.

Categories
Domestic

​Pelita Air Service Akan Jadi Operator Peluncuran Perdana N219

Pada awal Juli 2019, pesawat pertama N219 Nurtanio ditargetkan siap dan laik untuk memasuki pasar dengan operator peluncuran perdana (first launch customer) adalah maskapai penerbangan carter Pelita Air Service. “Sebagai sinergi BUMN dan diarahkan Menteri BUMN, PTDI akan bekerja sama dengan Pelita Air Service,” kata Ade Yuyu Wahyuna, Sekretaris Perusahaan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jumat (2/2/2018).

Menurut Ade Yuyu, fasilitas yang dimiliki Pelita cukup memadai, termasuk untuk perawatan pesawat. Rencananya, perjanjian kerja sama antara PTDI dan Pelita pun akan dikukuhkan di Singapore Airshow pada 6-11 Februari 2018.

Di Singapore Airshow, N219 Nurtanio akan menjadi primadona booth PTDI, bahkan nama booth-nya juga “N219 Nurtanio”. Selain dengan Pelita, kata Ade Yuyu, penandatanganan terkait N219 Nurtanio akan dilakukan juga dengan Pemprov Kalimantan Utara dan Pemprov Aceh.

Ade Yuyu menambahkan, banyak hal yang dilakukan seiring dengan proses sertifikasi N219 Nurtanio. Untuk mendapat masukan dari operator penerbangan, dilakukan diskusi dengan Trigana Air, Aviastar, dan Gatari Air Service, di samping dengan Pelita. “Kami juga membutuhkan dukungan finansial untuk penjualan nantinya. Kami harapkan ada sindikasi bank yang bisa menjamin itu,” ucapnya.

Bagaimana perkembangan N219 Nurtanio sampai sekarang? Tenaga Ahli Bidang Pengembangan Pesawat Terbang PTDI, Andi Alisjahbana mengatakan, “Walaupun tak banyak yang diberitakan, saat ini kegiatan N219 Nurtanio sangat luar biasa. Setelah first flight 16 Agustus 2017, proses untuk sertifikasi terus dilakukan. Proses sertifikasi merupakan proses penting untuk menjamin keamanan dan keselamatan karena akan digunakan oleh masyarakat.”

Andi menambahkan, “Proses sertifikasi itu proses panjang, dan salah jika dianggap hanya terbang lalu dapat sertifikat. Kita mesti buktikan ke Kementerian Perhubungan, dalam hal ini DGCA (Directorate General of Civil Aviation) bahwa semua aspek keselamatan dari pesawat ini terjamin. Kalau ada yang kurang baik, harus kita perbaiki dulu. Itu inti dari sertifikasi.”

Betul harus mencapai kurang lebih 300 jam terbang, ucap Andi, tapi dilakukan pula kegiatan-kegiatan dan pengujian-pengujian agar aspek safety terjamin. Untuk mencapai 300 jam terbang, prototipe kedua pun segera diselesaikan. “Ada sedikit hambatan, tapi akhir Februari ini akan selesai. Jadi nanti ada dua pesawat yang terbang. Untuk memenuhi jam terbang itu, semua selesai dalam tahun 2018,” ujarnya.

Pada pagi Jumat (2/2/2018), pesawat prototipe pertama N219 Nurtanio kembali terbang dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Kali ini yang ke-14, sehingga pesawat desain PTDI dengan dukungan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu membukukan sekitar 17 jam terbang.

Chief Test Pilot PTDI, Capt Esther Gayatri Saleh bertindak sebagai Pilot In Command (PIC) dan Capt Adi Budi Atmoko sebagai First Officer (FO). Dalam penerbangan tersebut ikut serta Yustinus Kus Wardana dan Adriwiyanto Onward Kaunang sebagai Flight Test Engineer (FTE). Para awak memastikan setiap tahap pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan benar serta terjamin unsur keselamatannya. Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Gita Amperiawan menyaksikan penerbangan tersebut.

Menurur Andi, uji terbang yang sudah dilakukan N219 Nurtanio fokus pada kondisi flaps 10 derajat (flaps condition 10 degrees). “Yang tadi (uji terbang ke-14) merupakan pengujian untuk melihat respons​ elevator,” ungkapnya.

Andi menjelaskan, “Elevator itu ada di bagian belakang; di tail (ekor) pesawat, yang horizontal. Kalau diperhatikan, elevator kita kasih bulu-bulu. Hari ini tugasnya mengetes elevator, untuk melihat responsnya. Apakah ketika dikasih input segini dengan waktu yang sama melakukan gerakan yang tepat dan aerodinamikanya bagus. Pengujian terbang ini juga untuk melihat apakah aliran udaranya itu tepat sesuai rencana.”

PTDI bersama dengan DGCA atau Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) terus berupaya mempercepat proses sertifikasi N219 Nurtanio. “Dukungan Pemerintah sangat besar dan kami berterima kasih,” ucap Andi.

Categories
Domestic

​Mimpi Punya Komunitas Aviasi yang Kompak dan Menko Kedirgantaraan

Sampai saat ini ruang udara Indonesia masih belum terkelola dengan baik. Masih banyak pengelolaan ruang udara, termasuk industri penerbangan, yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan baru seperempatnya dari pendapatan pengelolaannya itu yang bisa diserap industri penerbangan dalam negeri.

Demikian gambaran yang diperoleh dari Aviation Business Gathering 2018 “Highlight Indonesia Aviation Industry 2017: Professional Analysis and Opinion” di Jakarta, Selasa (30/1/2018). Kegiatan yang diselenggarakan oleh CSE Aviation Consulting berkolaborasi dengan BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) itu menghadirkan lima narasumber dengan pemandu Komisaris CSE Aviation Consulting, Chappy Hakim.

“Kita mimpi punya aviation community yang kompak di Indonesia,” kata Chappy, menyuarakan keinginannya supaya ruang udara dan industri penerbangan Indonesia kian maju. Indonesia, katanya, bisa jadi pemimpin di kawasan Asia Pasifik dalam industri penerbangan, mengingat potensinya yang sangat prospektif.

“Asia akan tumbuh menggantikan negara-negara besar di dunia dan kita punya peluang yang sangat besar untuk menjadi pemimpin dibandingkan Australia,” ucap Chappy.

Namun sampai saat ini masih banyak yang perlu dibenahi. Penguasaan ruang udara sebagai wilayah kedaulatan NKRI dan otoritasnya pun masih belum seutuhnya di tangan Republik Indonesia. “Kita belum sepenuhnya mengolah kedaulatan udara kita dari aspek national security dan national prosperity,” ujar Chappy. Hal ini bisa dilihat dari aspek penerimaan negara yang belum optimal.

Seperti Chappy yang optimis bahwa Indonesia bisa menjadi pemimpin, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan juga mengatakan, dunia aviasi Indonesia akan tumbuh pesat. Namun untuk itu dibutuhkan dukungan dari seluruh sektor, seperti hukum, teknologi, dan regulasi. “Jangan sampai pertumbuhan yang pesat itu tak dimanfaatkan. Maka kita harus memikirkannya bersama-sama,” tuturnya.

Sebagai contoh adalah tumbuhnya industri perawatan pesawat terbang. “Harus ada kawasan industri dengan spesifikasi dan kualifikasi industri dirgantara semacam aerospace park di Indonesia,” ujar Putu.

Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama GMF AeroAsia, Iwan Joeniarto, yang menyebut bahwa industri MRO (maintenance repair overhaul) pesawat terbang sangat menjanjikan dan saat ini tumbuh 20 persen. Sayangnya sampai saat ini, perusahaan MRO dan OEM (original equipment manufacturer) asing enggan berinvestasi di Indonesia. “Kita membutuhkan transfer of technology dari mereka dan berbagi kompetensi. Kita juga membutuhkan sertifikasi internasional,” katanya.

Untuk menarik minat mereka dibutuhkan adanya kawasan terpadu industri perawatan pesawat terbang yang memberi kebebasan dalam pajak, bea masuk, juga kemudahan-kemudahan lainnya. “Aviation park itu sudah dimiliki negara-negara tetangga. Singapura sudah lama ada di Seletar. Malaysia punya di Sepang, begitu juga dengan Thailand dan Filipina di Subic. Bahkan Vietnam pun sudah bekerja sama dengan Airbus,” ungkap Iwan.

Ketua IAMSA (Indonesia Aircarft Maintenance Services Association), Richard Budihadianto menyatakan dukungan adanya aviation park. “Kita belum punya. Padahal sejak tahun 2008, ketika dipanggil DPR, IAMSA meminta agar pemerintah menetapkan kawasan terpadu penerbangan, tapi sampai kini belum ditetapkan. Di Batam, Bintan, dan Kepulauan Karimun, itu zona yang strategis. Paling tidak, Indonesia harus punya​ dua aviation park; di barat dan di timur,” ujarnya.

Di sisi lain, kita memiliki industri manufaktur pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Menurut Ketua Indonesia Aircraft Component Manufacturer Association (Inacom), Andi Alisjahbana, harapannya PTDI dapat menguasai teknologi dirgantara. Mantan direksi PTDI ini menambahkan, PTDI saat ini ingin mengembangkan komponen untuk pesawat yang diproduksinya. “Tapi ini baru permulaan. Kita butuh experience. Kita juga bisa mendapat experience itu dari adanya pesawat N219,” ucapnya.

Chappy menegaskan, aktivitas aviasi harusnya secara maksimal untuk kemaslahatan masyarakat. “Agar kita berpikir lintas sektoral dan masing-masing bergerak bersama, tapi kita belum melakukan itu. Kita mungkin bisa punya menteri koordinasi bidang kedirgantaraan karena dunia keudaraan ini begitu luas dan kompleks.”

Categories
Galley

​Gedung Pusat Arsip Kemhub Diresmikan

Banyaknya jumlah arsip di lingkungan Kementerian Perhubungan memerlukan tata kelola kearsipan yang efektif dan efisien. Untuk itu dibutuhkan dukungan dari berbagai aspek, antara lain, prasarana dan sarana yang memadai. Maka Kemhub pun membangun gedung pusat arsip di Soreang, Bandung, yang diresmikan pada 29 Januari 2018.

“Ada 567 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Perhubungan di seluruh Indonesia. Dapat dibayangkan begitu banyak jumlah arsip yang dihasilkan, sehingga pengelolaan kearsipan sangat penting. Tentunya dibutuhkan pula sarana dan prasarana yang memadai, khususnya sarana penyimpanan arsip yang memenuhi standar penyimpanan arsip,” demikian sambutan Sekretaris Jenderal Kemhub, Sugihardjo, yang disampaikan oleh Kepala Biro Umum Setjen Kemhub, Adi Karsyaf pada acara peresmian Gedung Pusat Arsip Kementerian Perhubungan di Soreang, Senin (29/1/2018).

Sebelumnya, Kemhub hanya memiliki ruang penyimpanan arsip di Bandung yang berstatus pinjam pakai dari Pemprov Jawa Barat. Saat ini, daya tampung ruang tersebut sudah tak memadai, yang diperkirakan dalam dua-tiga tahun ke depan tidak dapat menampung pertumbuhan arsip di Kemhub.

Kemhub pun merencanakan pembangunan gedung pusat arsip sejak tahun anggaran 2012, dengan langkah awal berupa proses pengadaan tanah seluas 9.800 meter persegi. Lokasinya sesuai dengan persyaratan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), salah satunya adalah di daerah yang jauh dari segala sesuatu yang membahayakan keamanan fisik arsip.

Selanjutnya dilakukan perencanaan teknis pada tahun anggaran 2013 dan pembangunan awal setahun kemudian. Tahun anggaran 2016 dilaksanakan pembangunan gedung utama dan selasai pada tahun anggaran 2017.

Menurut Adi, arsip merupakan suatu unsur penting dalam suatu organisasi. “Suatu organisasi tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh pelaksanaan tata kelola kearsipan yang efektif dan efisien,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa arsip merupakan peninggalan yang sangat penting sebagai sarana informasi dan edukasi dalam tatanan kebangsaan.

Kepala Bagian Tata Usaha Biro Umum Setjen Kemhub Syailendra mengatakan, belum semua arsip dari ruang arsip di Kota Bandung dipindahkan ke Gedung Pusat Arsip Kementerian Perhubungan di Soreang, Kabupaten Bandung. “Nanti secara bertahap akan dilakukan pemindahan,” ucapnya.

Nantinya, di Pusat Arsip Kementerian Perhubungan inilah kegiatan pengelolaan arsip inaktif dilaksanakan. Meliputi pemindahan arsip; penerimaan, pemeliharaan dan perawatan arsip (fumigasi); pengolahan, alih media/digitalisasi, penyimpanan, keamanan dan pengamanan (internal & eksternal); pelayanan, pemusnahan, serta penyerahan arsip statis ke ANRI.

Gedung Pusat Arsip Kementerian Perhubungan akan digunakan untuk menyimpan arsip inaktif secara terpusat. Kapasitas penyimpanan gedung tiga lantai ini dapat menampung kurang lebih 103.680 boks arsip.

“Dengan dibangunnya Gedung Pusat Arsip Kementerian Perhubungan, diharapkan pengelolaan arsip inaktif lebih baik. Dengan demikian, arsip dapat terjaga dan terpelihara dengan baik, serta secara rutin arsip-arsip inaktif Kemhub dapat dipindahkan ke ANRI sebagai arsip statis untuk diselamatkan dan dimanfaatkan  sebagai bahan referensi dan penelitian yang terkait dengan sektor  transportasi,” tutur Adi.

Categories
Domestic

​Jalur Selatan Jawa Siap Jadi Tol Udara

Pemanfaatan jalur penerbangan di selatan Pulau Jawa akan dioptimalkan tahun ini dengan target masif tahun 2019. Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia pun meningkatkan perannya dalam mendukung program pemerintah tersebut.

“Jalur penerbangan di selatan Jawa akan dibuat menjadi tol udara. Penerbangannya akan padat, walaupun yang terbang adalah pesawat propeller, seperti ATR 72 atau nanti dengan N219 produksi dalam negeri,” ujar Novie Riyanto, Direktur Utama AirNav Indonesia di Tasikmalaya, Kamis (25/1/2018).

Menurut Novie, kepadatan penerbangan di selatan Jawa akan mengejar padatnya jalur utara. Saat ini, rute penerbangan domestik terpadat di Indonesia itu memang melalui jalur di utara Pulau Jawa; kurang lebih 4.000 penerbangan setiap bulan. Yang terpadat adalah rute penerbangan Jakarta-Surabaya-Bali.

“Menjadi tugas kami, AirNav Indonesia, untuk mengawal keselamatan penerbangan dengan meningkatkan kapasitas ruang udara dan efisiensi penerbangan melalui optimalisasi alternatif jalur lain, yakni jalur selatan Jawa,” kata Novie.

Melalui konsep flexible used of airspace (FUA), yakni membagi penggunaan ruang udara untuk kepentingan sipil dan militer, jalur selatan Jawa dikembangkan untuk penerbangan komersial. “Kami akan terus berkolaborasi antara sipil dengan militer untuk bisa memaksimalkan penggunaan ruang udara di selatan Jawa. Trial sudah beberapa kali dilakukan dan berjalan dengan baik,” ungkap Novie.

Sejak 12 Oktober 2017, AirNav Indonesia membuka rute penerbangan selatan Jawa (Tango One), yang merupakan rute penerbangan domestik pertama yang berbasis satelit; performance based navigation (PBN). Dengan menggunakan satelit sebagai basis utama navigasi, pengaturan lalu lintas penerbangan menjadi lebih presisi dan akurat.

Menjadikan tol udara di selatan Jawa, kata Novie, otomatis pergerakan​ pesawat akan bagus, sehingga dapat mendorong multiplier effect yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. “Ada tiga bandara; di Tasikmalaya, Purbalingga, dan Kulonprogo, yang menjadi perhatian kami untuk ditingkatkan level pelayanan navigasi penerbangannya,” ungkapnya.

Di Bandara Wiriadinata di Tasikmalaya, tower akan direnovasi dan peralatan navigasi diperbaiki. Bandara Wirasaba di Purbalingga akan dikembangkan menjadi bandara baru berkolaborasi dengan TNI AU, Pemda, dan pengelolanya, yang rencananya mulai beroperasi pada Desember 2019. Sementara di New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo, AirNav berinvestasi dalam pembangunan tower beserta peralatan pendukungnya senilai Rp79,6 miliar.

Jalur penerbangan di selatan Jawa, yang membentang dari Pandeglang di Banten hingga Banyuwangi di Jawa Timur, memiliki potensi yang sangat besar, baik pariwisata, jumlah penduduk, maupun bidang perekonomian lainnya. Jumlah penduduknya mencapai 40 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Pulau Jawa dengan produk domestik regional bruto (PDRB) menyumbang sekitar 25 persen dari PDRB Pulau Jawa.

Potensi-potensi tersebut hingga saat ini belum bisa dikembangkan secara optimal karena kurangnya konektivitas transportasi udara. Maka Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menumbuhkan konektivitas tersebut dengan pembangunan tol udara, yang terdiri dari bandar udara dan ruang udara serta navigasi penerbangan.

Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Ditjen Perhubungan Udara, Agoes Soebagio mengatakan, pengembangan tol udara mengacu pada tatanan kebandarudaraan nasional. “Untuk pelaksanaannya, selain dengan AirNav, kami akan bekerja sama dengan TNI AU yang memiliki beberapa pangkalan udara di wilayah selatan Jawa serta pemerintah daerah setempat,” ujar Agoes pada media workshop bertema “Optimalisasi Jalur (Udara) Selatan Jawa guna Meningkatkan Perekonomian Ekonomi” di Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya.

Menurut Agoes, Ditjen Perhubungan Udara akan menginisiasi pembangunan dan pengembangan bandara di selatan dan mengoneksikannya dengan bandara-bandara di wilayah utara Jawa. Konektivitas pun berimbang antara wilayah-wilayah selatan serta wilayah selatan-utara, sehingga pembangunan perekonomian merata.

Tumbuhnya ekonomi membuat maskapai penerbangan membuka konektivitas dengan rute-rute baru. “Tahun 2017 kami membuka 83 rute baru di seluruh Indonesia. Hal ini menandakan bahwa perekonomian di daerah sudah tumbuh,” ujar Agoes.

Tumbuhnya perekonomian itu diakui Kepala Dinas Perhubungan Pemkot Tasikmalaya, Aay Zaini Dahlan. Sejak dibukanya penerbangan komersial Jakarta-Tasikmalaya 1 Juli 2017, pertumbuhan ekonomi Kota Tasikmalaya mencapai 6,7 persen. Penerbangan rute itu sekali sehari dengan ATR 72-500 Wings Air kapasitas 72 penumpang pun dengan tingkat isian penumpang yang tinggi, rata-rata 80 persen.

Wiriadinata merupakan satu dari tujuh bandara komersial di wilayah selatan Jawa. Enam bandara komersial lainnya adalah Nusawiru (Pangandaran), Tunggul Wulung (Cilacap), Adi Sutjipto (Yogyakarta), Abdurrahman Saleh (Malang), Notohadinegoro (Jember), dan Blimbingsari (Banyuwangi). Di samping itu akan diinisiasi pembangunan dan pengembangan empat bandara, yakni di Pandeglang (Banten), Sukabumi (Jawa Barat), bandara baru di Yogyakarta (DIY), dan Kediri/Tulungagung (Jawa Timur).

“Kami akan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk pengembangan dan pembangunan bandara-bandara di selatan Jawa,” kata Agoes.

Kerja sama yang terjalin erat adalah dengan AirNav Indonesia, yang sudah dan akan melakukan sejumlah program strategis. Program itu berupa kesiapan fasilitas dan SDM, prosedur dan koordinasi antara unit layanan navigasi penerbangan, yang terus ditingkatkan.

Peningkatanya, kata Novie, melalui pembuatan air traffic services letter of coordination agreement (ATS LOCA) antara Cabang Utama JATSC (Jakarta Air Traffic Service Center) dengan MATSC (Makassar Air Traffic Service Center) serta antara Cabang Utama MATSC dengan Cabang Madya Denpasar.

“Kami sedang perbarui standard operation procedure (SOP) untuk melayani jalur selatan itu. Kami juga menyiapkan LOCA untuk detail separasi, level assignment, dan coordination procedur untuk mengoptimalkan kesiapan kami,” ucap Novie.

Categories
Galley

AAJI Gelar Kegiatan DRiM

Kebutuhan masyarakat pada informasi dan respons aktual (real time) yang cepat dan tepat serta keinginan mendapatkan kemudahan akses di mana dan kapan pun sangat tinggi. Hal ini dilihat berdasarkan data “Digital in 2017: Southeast Asia” dari We Are Social dan Hootsuite yang menggambarkan bahwa dari sekitar 262 juta populasi di Indonesia, lebih dari 50 persennya (132,7 juta jiwa) adalah pengguna internet, 106 juta jiwa pengguna aktif media sosial, dan 92 juta jiwa pengguna aktif media sosial melalui aplikasi mobile. Indonesia merupakan negara kedelapan terbesar dalam hal penggunaan internet.

Gambaran tersebut memberi dorongan pada Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) untuk membuka serangkaian kegiatan Digital and Risk Management in Insurance (DRiM). “Fenomena perkembangan teknologi digital sudah tidak dapat disikapi oleh industri dengan reaktif. Teknologi tidak hanya mengubah perilaku individu dalam melakukan kegiatan sehari-hari, tapi juga mengubah perilaku pelaku bisnis dalam menjalankan bisnisnya,” kata Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI, dalam acara peresmian DRiM di Jakarta, Rabu (24/1/2018).

Inisiatif diselenggarakannya kegiatan DRiM itu memang untuk merespons cepatnya perkembangan teknologi digital. Khususnya dalam hubungan perusahaan dengan konsumen, percepatan ragam proses bisnis dan penyebaran informasi, sekaligus membantu meningkatkan dan memajukan penetrasi asuransi jiwa di Indonesia.

Menurut Hendrisman, AAJI berkomitmen teguh untuk terus mendukung program literasi dan inklusi keuangan dari pemerintah dan OJK melalui DRiM. AAJI pun mendorong para pelaku industri asuransi jiwa agar lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi, termasuk pengembangan manajemen risiko.

Kegiatan pembuka DRiM adalah penyelenggaraan hackathon start-up competition yang diikuti sekitar 100 orang generasi muda. Mereka akan mempresentasikan ide dan karyanya terkait web dan aplikasi digital terkait proteksi asuransi jiwa. Untuk menyelenggarakannya, AAJI bekerja sama dengan Purwadhika Start-up and Coding School.

“DRiM merupakan kegiatan perdana atas inisiasi AAJI. Didukung oleh para pelaku industri asuransi jiwa yang memiliki tujuan yang sama dalam menjawab cepatnya perkembangan teknologi digital dan pengaruhnya pada industri. Dengan saling mendukung dan bekerja sama ini, kami yakin dapat memberikan aksi nyata pada kemajuan industri asuransi jiwa,” ujar Christine Setyabudi, Ketua Panitia DRiM.

Kegiatan selanjutnya adalah seminar dan pameran pada 22-23 Februari 2018 di Bali. Dalam kegiatan ini, perwakilan dari pemerintah, regulator, pelaku asuransi jiwa serta para ahli teknologi dan digital akan berbagi mengenai perkembangan teknologi digital dan manajemen risiko. Dengan mengikuti kegiatan ini, partisipan akan mendapatkan 40 poin program manajemen risiko asuransi dari Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI) dan satu poin pengembangan profesional berkelanjutan dari AAJI, yang merupakan wadah bagi seluruh perusahaan asuransi jiwa di Indonesia.

Categories
Domestic

​350 Pilot Pemula Ikuti Peningkatan Pelatihan Aeronautika

Ratusan pilot pemula (ab initio) yang masih belum bekerja di maskapai penerbangan mendapat dukungan dari Kementerian Perhubungan. Mereka diberi kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya, sekaligus penyegaran dalam “Upgrading Training Aeronautical Knowledge” yang diselenggarakan Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Ditjen Perhubungan Udara di Jakarta pada 24-25 Januari 2018. Kurang lebih 350 pilot ab initio lulusan dari beberapa sekolah penerbang melakukan registrasi untuk mengikutinya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan, kegiatan tersebut merupakan inisiasi untuk menyelesaikan masalah penyerapan pilot ab initio oleh maskapai penerbangan Indonesia. “Ada missing link antara keinginan para pilot dan maskapai penerbangan dengan sekolah pilot. Kami prihatin dengan hal tersebut. Namun Kementerian Perhubungan tidak akan tinggal diam. Kami akan mengajak semua pihak untuk melakukan self correction. Memperbaiki dan menyambung missing link tersebut untuk menyelesaikan masalah pada masa depan,” ujarnya.

Menurut Menhub, untuk melakukan semua hal tersebut, salah satu rangkaian dari proses perbaikan adalah melalui proses dan pembekalan. “Mari kita melangkah ke depan dengan self corrective action dalam satu pemikiran yang sama. Mungkin di sini ada satu pihak yang sakit,” ucapnya pada pembukaan kegiatan tersebut di Jakarta, Rabu (24/1/2018).

Pada kegiatan tersebut, diundang pula para direktur maskapai penerbangan dan kepala sekolah penerbang. Kepada direktur maskapai penerbangan, Menhub meminta agar berperan aktif dan berkontribusi dalam penyerapan pilot ab initio sebagai sumber daya manusia yang berkompetensi. Menhub pun berharap agar semua pilot ab initio yang mengikuti upgrading training itu mempersiapkan diri untuk mengikuti proses seleksi di maskapai penerbangan dengan penuh keyakinan.

“Kepada maskapai penerbangan, saya minta untuk menerima para pilot ab initio. Paling tidak mereka magang dulu dalam kurun waktu enam bulan atau satu tahun untuk mendapat kesempatan menjadi kopilot. Ini dapat menjadi bagian dari proses rekrutmen yang baik,” ujar Menhub.

Kepada sekolah penerbang, Menhub meminta untuk senantiasa mematuhi ketentuan regulasi yang berlaku. Di samping itu juga dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikannya, seperti instruktur, silabus, fasilitas pelatihan, yang didukung oleh kualitas manajemen yang baik. Dengan demikian, sekolah pilot tersebut dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan standar maskapai penerbangan dalam negeri dan asing.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso mengatakan, penyelenggaraan upgrading training itu sebagai tindak lanjut program optimalisasi penyerapan pilot ab initio yang sebelumnya dilakukan November 2017. Pengumuman dan registrasinya melalui pendaftaran portal online di www.learning.dkppu.id, termasuk untuk berbagi materi dan questionnaires bank yang bisa diakses oleh para ab initio.

Menurut Agus, materi yang diajarkan pada upgrading training itu mencakup delapan subjek pelajaran berdasarkan standar ICAO Annex 1 dan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 61. Kedelapan subjek tersebut adalah airlaw; aircraft general knowledge; flight performance, planning loading; meteorologi; navigasi; operational procedures, human performance, dan principle of flight.

“Kami mengundang narasumber yang berkualifikasi dan berpengalaman sebagai instruktur dari beberapa maskapai penerbangan dan training center, seperti dari Garuda Indonesia Training Center, NAM Training Center, Genesa Training Center,” ungkap Agus.

Sebelum diberi pengajaran, para pilot pemula itu dites awal untuk mengukur pemahamannya sebagai pilot. Kemudian dibeli pelajaran dengan metode pengajaran berupa pendalaman lecturing. Setelah itu dilakukan tes akhir untuk melihat pemahaman mereka setelah pembelajaran. Dilakukan juga preparation on psycho test karena mereka terindikasi mengalami kegagalan pada fase psikotes.

“Saya berharap pelaksanaan upgrading training ini bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh para pilot ab initio untuk meningkatkan dan refreshing knowledge, sehingga kompetensi mereka sesuai dengan standar internasional,” ucap Agus.

Categories
Domestic

​Hubungan Industrial Garuda Indonesia Tidak Harmonis

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia sedang diguncang berbagai persoalan. Salah satunya adalah hubungan industrial yang tidak harmonis, khususnya dengan para pilot sebagai personel ujung tombaknya.

Faktanya, pada Selasa (23/1/2018) ada dua konperensi pers yang dilaksanakan nyaris bersamaan. Yang satu digelar oleh pihak manajemen, satu lagi oleh Serikat Pekerja PT Garuda Indonesia Bersatu, gabungan antara APG (Asosiasi Pilot Garuda) denggan Sekarga (Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia).

Serikat Pekerja mengungkapkan, kondisi hubungan industrial saat ini tidak harmonis karena perusahaan banyak melakukan pelanggaran terhadap Perjanjian Kerja Bersama/Perjanjian Kerja Profesi yang sudah disepakati sehingga banyak menimbulkan perselisihan.

Menanggapi hal ini, manajemen Garuda mengatakan, sejalan dengan dinamika organisasi yang terus bergerak dinamis, aspirasi hak kepegawaian tetap menjadi prioritas manajemen. Hal ini merupakan bagian dari upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif.

Manajemen Garuda yang diwakili oleh Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Helmi Imam Satriyono dan Direktur Operasi, Capt Triyanto Moeharsono mengemukakan, saat ini kondisi Garuda baik dengan capaian kinerja keuangan dan operasional yang positif. “Kondisi keuangan membaik dengan angka kerugian yang menurun,” ujar Helmi.

Menurut Helmi, Garuda dapat menekan tren kerugian dari kuartal I/2017 yang 99,1 juta menjadi 38,9 juta dollar AS pada kuartal II/2017. Pada kuartal III membukukan laba operasi 61,9 juta dollar AS, di luartax amnesty dan extraordinary items 145 juta dollar AS.

Untuk memperkuat kinerja tersebut secara berkelanjutan, Garuda bersama jajaran anak usahanya menjalankan strategi bisnis jangka panjang bertajuk “Garuda Indonesia Group (Sky Beyond 3.5)”. Strategi ini menjadi value-driven aviation group dengan pencapaian target value group 3,5 miliar dollar AS pada tahun 2020. Untuk tahun 2018, kata Helmi, target pencapaian pendapatan perusahaan adalah 4,9 miliar dollar AS.

Di sisi operasi, Capt Triyanto menjelaskan, untuk tingkat ketepatan waktu (OTP, on time performance) sebagai salah satu indikator keberhasilan dalam meningkatkan level pelayanan, targetnya mencapai rata-rata 91 persen. “Kami juga aktif berkoordinasi dengan pihak Angkasa Pura dan AirNav untuk memastikan kelancaran operasional layanan penerbangan, khususnya untuk menunjang capaian OTP yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Berbeda dengan yang diungkapkan manajemen tersebut, Serikat Pekerja yang dimotori Presiden APG Capt Bintang Hardiono dan Ketua Umum Sekarga Ahmad Irfan mengungkapkan bahwa kinerja keuangan Garuda sampai dengan kuartal lII/2017 semakin merosot dengan kerugian 207,5 juta dollar AS. Hal ini diikuti dengan merosotnya nilai saham Garuda Kode GIAA per 19 Januari 2018 per lembar hanya Rp314,turun 58 persen dari nilai saham pada saat IPO.

Di samping itu, citra perusahaan kian menurun seiring penurunan kinerja operasional Garuda yang berdampak pada penundaan dan pembatalan penerbangan, apalagi setelah sistem rotasi pilot diganti. “Direksi yang membuat kebijakan, vendor diganti, sistem belum siap, kami yang kena getahnya,” kata Capt Bintang.

Mereka mengatakan, program efisiensi yang dilakukan oleh perusahaan cenderung sangat sporadis dan yang terjadi adalah cutting cost, sehingga menganggu kegiatan operasional. Salah satu contohnya adalah pengurangan sejumlah fasilitas layanan, seperti dihilangkannya executive lounge bandara di Bali dan Jakarta.

Serikat Pekerja juga menyebut tentang pemborosan biaya organisasi karena ada sembilan direksi, padahal sebelumnya hanya enam direksi. Selain tak sejalan dengan komitmen efisiensi, banyaknya direksi itu tidak diikuti dengan peningkatan kinerja. Demikian pula dengan penambahan armada, yang tidak diikuti dengan kemampuan manajemen​ untuk membuat strategi penjualan produk penumpang dan kargo. “Peningkatan​ pendapatan hanya 8,6 persen, sedangkan peningkatan biaya 12,8 persen,” kata Irfan, mengutip Data Analyst Meeting pada Q3-2017.

Dari gambaran tersebut, Serikat Pekerja meminta kepada Presiden Joko Widodo beserta Menteri BUMN Rini Soemarno dan pemegang saham Garuda untuk merestrukturisasi jumlah direksi dengan berpedoman pada peraturan penerbangan sipil Republik Indonesia atau Civil Aviation Safety Regulation (CASR). Merekapun meminta agar kinerja direksi dievaluasi, bahkan direksi diganti oleh direksi profesional yang berasal dari internal perusahaan.

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Hengki Heriandono mengungkapkan, “Kami menyadari bahwa rekan-rekan pilot dan Sekarga tentu memiliki komitmen dan kesadaran bersama atas keberlangsungan bisnis perusahaan untuk dapat terus berkembang. Kami pastikan bahwa hal-hal yang dieskalasikan rekan-rekan pilot tersebut tentunya akan selalu menjadi perhatian perusahaan.”

Tentang usulan perubahan struktur jajaran manajemen perusahaan, kata Hengki, Garuda menyerahkan sepenuhnya kepada pemegang saham, dalam hal ini pemerintah, sesuai dengan mekanisme dan landasan hukum yang berlaku.

Terkait adanya hubungan industri yang tak harmonis di Garuda, Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso menyampaikan peringatan bahwa entitas operator penerbangan harus dapat menyelesaikan permasalahan di internal perusahaan dengan baik tanpa berdampak negatif pada keselamatan dan keamanan penerbangan serta pelayanan pada penumpang dan pengguna jasa lainnya. “Kami tidak ikut mencampuri urusan manajemen internal maskapai penerbangan. Silakan manajemen Garuda Indonesia melakukan konsolidasi internal untuk menyelesaikan masalah tersebut,” ujarnya.

Agus menambahkan, “Sebagai regulator penerbangan, kami akan melakukan bimbingan dan pengawasan sesuai koridor aturan-aturan penerbangan yang berlaku. Kami hanya akan memberikan penghargaan atau sanksi sesuai aturan-aturan tersebut. Hal-hal yang tidak diatur dalam aturan-aturan penerbangan, silakan diselesaikan sendiri di internal perusahaan.”

Manajemen Garuda juga memastikan bahwa komitmen efisiensi yang saat ini dijalankan perusahaan mempertimbangkan seluruh aspek terkait. “Kami pastikan tidak berdampak pada aspek layanan kepada penumpang ataupun kondisi operasional perusahaan. Manajemen akan tetap mengedepankan aspek safety yang menjadi landasan utama komitmen operational excellence,” ujar Hengki.

Hal mengutamakan keselamatan penerbangan disuarakan pula oleh Serikat Pekerja, yang menyatakan, “Usulan yang kami suarakan ini demi menjaga kelangsungan bisnis Garuda Indonesia dengan tetap berkomitmen menjaga safety dan memberikan pelayanan terbaik kepada customer.”

Categories
Domestic

​KNKT Fokus Tangani Keselamatan Penerbangan di Papua

Menurunnya angka kecelakaan dan insiden serius pada penerbangan di Papua pada tahun 2017 tidak menurunkan perhatian dalam hal keselamatan penerbangan di Pulau Cendrawasih itu. Bahkan KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) menyebut bahwa meningkatkan keselamatan penerbangan di Papua menjadi “pekerjaan rumah” yang harus terus dilakukan.

“PR (pekerjaan rumah) kami adalah penerbangan di Papua. Kami bersama Kementerian Perhubungan secara intensif terus mengupayakan peningkatan keselamatan. Bahkan sebaiknya meeting pun dilakukan di Papua supaya bisa merasakan bagaimana kondisi di sana,” kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT dalam “Media Release Capaian Kinerja Investigasi Keselamatan Transportasi Tahun 2017” di Jakarta, Kamis (19/1/2018).

Pada tahun 2017, angka kecelakaan di Papua adalah tiga kecelakaan dan tujuh insiden serius. Bandingkan dengan tahun 2016, yang terjadi tujuh kecelakaan dan enam insiden serius pada moda transportasi udara. Penanganan yang dilakukan pihak-pihak terkait, khususnya Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dari rekomendasi KNKT, seperti peningkatan kapabilitas dan kualitas sumber daya manusia, serta perbaikan prasarana dan modernisasi teknologi, cukup efektif, walaupun masih belum optimal.

Ditjen Perhubungan Udara pun mengajak operator penerbangan di Papua dan sepakat untuk meningkatkan keselamatan penerbangan. “Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri untuk meningkatkan keselamatan penerbangan dan kami mendekati operator juga bukan untuk kolusi, tapi untuk sama-sama menjalankan aturan-aturan penerbangan,” ujar Agus Santoso, Dirjen Perhubungan Udara di Sentani, 12 Januari 2018.

Langkah lain yang dilakukan Ditjen Perhubungan Udara ke depannya adalah lebih sering melaksanakan ramp check di Papua dan Papua Barat. Pelaksanaan ramp check ini untuk memperbaiki pemenuhan ketaatan pada regulasi keselamatan dan memperoleh umpan balik dari operasional di lapangan.

Di sisi lain, keberhasilan perbaikan penerbangan di Papua dan Papua Barat tidak bisa lepas dari sektor lain, yang sebenarnya menjadi akar permasalahan selama ini. Menggugah kesadaran akan keselamatan, khususnya di sektor penerbangan, juga harus dilakukan pada masyarakat setempat. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Udara Badan Litbang Perhubungan, M Alwi mengatakan, betapa pentingnya edukasi pada sebagian besar masyarakat Papua dan Papua Barat untuk menumbuhkan kesadaran akan keselamatan transportasi, khususnya transportasi udara.

Categories
Domestic

​Menhub: Buat Tim Pemasaran untuk Pasarkan N219

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau pembangunan pesawat N219 Nurtanio di PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang saat ini sedang dalam proses sertifikasi. Menhub mengakui kalau N219 sudah mendapat respons baik dari dunia internasional, sehingga harus dipersiapkan dengan cermat dan hati-hati.

“Saya ajak pak Muzaffar (Muzaffar Ismail, Direktur KelaikUdaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara) untuk mendampingi rekan-rekan dari PTDI mempersiapkan suatu prototipe pesawat yang andal, pesawat yang ekonomis, dan memiliki daya jual yang baik. Ini sesuai dengan kebutuhan pasar,” kata Menhub di Bandung, Selasa (16/1/2018) malam.

Dalam hal proses sertifikasi, kata Menhub, bukan akan mempersulit, tapi memastikan karena N219 Nurtanio adalah produk unggulan yang membanggakan bangsa. “Setelah kita produksi, bagaimana ke depan kita melangkah. Saya pikir, kita harus punya daya saing dari sisi aviasi, yaitu memroduksi pesawat-pesawat seperti ini (N219 Nurtanio),” ucapnya.

Pesawat N219 Nurtanio, kata Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro, akan diproduksi secara bertahap. Pada tahap awal, yaitu mulai tahun 2019, akan diproduksi enam unit. Dengan menjalankan sistem automatisasi pada proses manunufaktur, secara bertahap kemampuan delivery PTDI akan terus meningkat sampai mencapai 50 unit per tahun,” ujarnya.

“Dengan kita bisa produksi 50 unit per tahun, banyak negara, seperti Turki dan China, berniat untuk melakukan pembelian. Namun saya sarankan agar kita bisa sharing produk; bersama-sama memroduksi karena dengan begitu akan ada rasa kebanggaan bersama. Kita bisa memperluas market share; pemasaran kita,” ucapnya, seraya menambahkan,” Sebentar lagi ada airshow (Singapore Airshow). Kita jadikan itu momentum untuk perkenalkan bahwa kita punya produk yang mampu bersaing.”

Pesawat N219 Nurtanio merupakan pesawat hasil rancang bangun engineer muda Indonesia. Secara khusus, hal ini dijadikan wahana bagi para engineer tersebut untuk membangun kompetensi dalam menguasai teknologi rancang bangun pesawat terbang, sekaligus memroduksinya.

Pesawat N219 Nurtanio dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara nasional di wilayah perintis. Dapat difungsikan untuk beragam kebutuhan, seperti angkutan penumpang, angkutan barang,dan ambulans udara. Di samping itu, pesawat ini rencananya akan dimodifikasi menjadi pesawat amfibi agar dapat mendarat di perairan yang banyak terdapat di wilayah Indonesia.

Melihat keunggulan-keunggulan tersebut, kata Menhub, Kementerian Perhubungan memberikan spirit untuk produksi dan pemasaran N219 Nurtanio. “Kalau kita tidak melihat sisi pemasarannya dengan baik, maka yang sudah kita rancang sekian lama ini akan sia-sia.”

Menhub menambahkan, ‘Pemasaran harus menjadi ujung tombak. Bahkan pada suatu waktu dari pemasaran ini akan menjadi perolehan negara. Maka saya sarankan kita buat tim marketing yang bagus. Kalau memungkinkan, tim marketing ini disertai dengan finance-nya untuk menarik negara-negara di Afrika misalnya. Negara-negara itu tertarik jika disertai finansialnya. Kita punya BUMN dan swasta yang kuat, yang bisa memasarkan N219 Nurtanio dalam suatu paket yang baik.”

Menurut Elfien, membuat tim pemasaran itu merupakan bagian dari tugas PTDI. “Pada triwulan pertama tahun ini kami sedang menyusun skema dari N219 Nurtanio, termasuk pemasarannya. Bagaimana sistemnya dan sebagainya. Namun ekosistem yang kami buat belum final dan harus selesai sebelum pesawat itu mendapat sertifikasi pada November, paling telat Desember tahun ini.”

Tentang sertifikasi tersebut, menurut Muzaffar, “Jalannya sudah smooth. PTDI sudah familiar dengan aturannya, yaitu CASR 23. Mereka sangat komprehensif dan kalau ini (N219 Nurtanio) sebagai produk unggulan dan PTDI menjadikannya high priority, proses sertifikasinya tak akan sulit.”

PTDI pun berharap, dengan adanya kunjungan kerja Menhub itu, Pemerintah dapat mendukung penuh proses sertifikasi N219 Nurtanio, baik pada sumber daya manusia maupun anggaran untuk memperoleh sertifikasi.