Categories
Domestic

Basarnas: Pencarian Korban Lion Air JT-610 Hanya Masalah Waktu

Kepala Badan Nasional Pencarian Dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi menyebutkan bahwa hingga saat ini timnya belum menemui kesulitan dalam proses pencarian korban pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perarian Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) pagi.

Mantan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) TNI AU ini juga menyebutkan bahwa cuaca di lokasi pencarian sangat mendukung meski tim pencari mengalami keterbatasan waktu.

“Kesulitan hanya masalah waktu. Karena cuaca pun dari kemarim bagus,” kata Syaugi di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (30/10/2018).

Dijelaskannya, kesulitan dari segi waktu itu berpengaruh pada metode-metode pencarian yang tidak bisa dilakukan dalam waktu tertentu. Sebagai contoh, penyelaman yang tidak bisa dilakukan pada malam hari.

Syaugi menyebutkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberi informasi bahwa kondisi cuaca di lokasi pencarian akan sangat baik selama tujuh hari ke depan.

Hari ini, proses pencarian kembali dilakukan dengan metode penyelaman serta penyisiran di permukaan laut dengan mengerahkan kapal-kapal patroli.

Hingga Selasa pagi, Tim SAR Gabungan telah memberangkatkan 10 kantong jenazah berisi potongan tubuh ke Rumah Sakit Polri di Kramatjati untuk diidentifikasi.

Pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh Senin pagi kemarin sedang dalam penerbangan dari Cengkareng, Tangerang menuju Pangkalpinang, Bangka-Belitung. Pesawat itu mengangkut 178 penumpang dewasa (124 laki-laki, 54 perempuan), 1 penumpang anak, 2 bayi dan 7 awak pesawat (2 pilot, 5 pramugari).

Categories
Heedful

Sanksi Tegas Buat Lion Air?

 

Assalamualaikum semua …

Innalillahi wainnailaihi rojiun … sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 Lion Air berregistrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 pada 29 Oktober 2018 mengingatkan kita pada kecelakaan QZ 8501. Peristiwanya terjadi pagi hari dan jatuh di perairan laut.

QZ 8501 adalah nomor penerbangan pesawat Airbus A320 AirAsia Indonesia yang terbang rute Surabaya-Singapura pada pagi 28 Desember 2014 itu. Pesawat jatuh di perairan dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dengan korban meninggal dunia 155 penumpang dan tujuh kru pesawat. Sementara JT 610 terbang rute Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta)-Pangkal Pinang (Bandara Depati Amir) dengan 181 penumpang dan delapan kru pesawat dan jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Waktu itu, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan bertindak tegas pada AirAsia. Sampai-sampai CEO AirAsia Group Tony Fernandes seringkali menyanyikan lagu “Let It Go” soundtrack film Frozen, jika disinggung soal kebijakan Menhub.

Dengan adanya kejadian serupa pada Lion Air, ada yang menyatakan, beranikah kita memberi sanksi tegas bagi Lion Air? Apalagi kemudian, kecelakaan itu dikaitkan pula pada soal delayed dan banyaknya Lion Air melanggar aturan.

Di mention twitter @IndoAviation, beberapa menulis: @lionairgroup sudah berkali-kali melanggar aturan. Mungkin ini adalah momen yg tepat untuk memberikan SANKSI TEGAS kpd @lionairgroup. Berani @IndoAviation?

Lion Air atau Lion Air Group? Bisa jadi sanksi tegas itu hanya untuk Lion Air. Kalau untuk Lion Air Group, apakah Batik Air dan Wings Air, bahkan Malindo Air dan ThaiLion Air juga, terkena sanksi? Mungkin karena satu grup dengan pendiri atau pemilik yang sama, mereka menyebut sanksinya untuk Lion Air Group.

Sampai malam ini (29/10/2018), belum ada pernyataan pejabat yang menyebut-nyebut soal sanksi kepada Lion Air. Semua fokus pada pencarian korban dan pesawat terbang. KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dan Badan SAR Nasional (Basarnas) bergerak cepat. Walaupun sampai pukul 22.00 belum terungkap ditemukannya badan pesawat ataupun blackbox.

Presiden Joko Widodo dalam pernyataan persnya mengatakan, “Semuanya sudah saya perintahkan untuk bekerja keras malam hari ini; 24 jam.”

Categories
Domestic

Perintah Presiden: Malam ini Basarnas Bekerja 24 Jam

Presiden Joko Widodo memerintahkan Badan SAR Nasional (Basarnas) untuk bekerja 24 jam mencari lokasi pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Laut Jawa.

“Tadi sudah saya perintahkan juga agar malam ini tetap bekerja 24 jam menggunakan lampu untuk mempercepat pencarian, terutama badan pesawat yang sampai saat ini belum ditemukan. Meskipun, lokasinya kurang lebih sudah diketahui, kata Presiden Joko Widodo di Bandara Internasional Soekarno Hatta, malam ini (29/10).

Saat ini ujar Presiden, ada lebih dari 15 kapal dikerahkan untuk mencari lokasi pesawat di dalam air dan melakukan evakuasi.

“Tadi pagi sudah saya perintahkan, sudah dikerahkan dari Basarnas, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan dan dari kapal angkutan swasta,” kata Joko Widodo. Presiden berharap apabila tim SAR mendapatkan informasi-informasi dari lapangan harap segera disampaikan secara langsung, secara rutin oleh Basarnas maupun Menteri Perhubungan kepada keluarga korban.

“Kita semua tahu perasaan keluarga penumpang yang menunggu informasi, yang menanti kabar, terutama dari Basarnas,” ujar Presiden.

“Yang kita lakukan sekarang ini adalah belerja sekeras-kerasnya di lapangan agar badan pesawat dan korban-korban yang ada segera ditemukan. Secara detail KNKT yang nanti akan menyampaikan, karena black box-nya juga masih dalam pencarian KNKT,” ucap Presiden Joko Widodo.

Categories
Domestic

Benarkah JT610 Meminta untuk Return To Base?

Pesawat B737 MAX8 milik Lion Air yang jatuh di perairan laut sekitar Tanjung Karawang  merupakan pesawat baru. Dioperasikan sejak pertengahan Agustus 2018 lalu, pesawat ini baru mengantongi 800 jam terbang.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi tadi sore (29/10) di posko Crisis Center Kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610 di Terminal 1B Bandara Internasional Soekarno-Hatta menegaskan pesawat itu jatuh di perairan Laut Jawa atau tepatnya di utara Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Kami telah berkoordinasi dengan Basarnas, baru saja Basarnas menyatakan memang benar pesawat itu jatuh di perairan Laut Jawa di utara Bekasi oleh karenanya kami menyatakan bahwa pesawat Lion JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang setelah hilang kontak pukul 06.32,” ujar Menhub Budi.

Dalam konferensi pers tersebut Menhub didampingi oleh PLT Dirjen Perhubungan Udara Praminto Hadi, Dirut AP 2 Awaludin, Ketua KNKT Soerjanto, Dirut Airnav Indonesia Novie Riyanto, Direktur Operasi Lion Air Capt. Daniel Putut, dan Direktur Keuangan Jasa Raharja Myland Zoelaini.

Lebih lanjut Menhub mengungkapkan pesawat Lion Air JT 610 membawa total 189 orang yang terdiri dari 181 penumpang dan 8 awak pesawat.

Menhub juga memastikan pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP milik maskapai Lion Air ini merupakan pesawat baru yang beroperasi sejak Agustus lalu.

“Pesawat yang digunakan adalah pesawat baru B 737-800 Max yg baru dioperasikan pada bulan Agustus 2018 dengan lama penerbangan sebanyak 800 jam,” ungkapnya.

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menjelaskan saat ini pihaknya bersama Basarnas bekerjasama dengan TNI dan unsur terkait sedang fokus dalam upaya mencari serpihan-serpihan utama dari badan pesawat termasuk black box.

“Serpihan yang di permukaan sudah diambil di kapal semua sekarang kita konsentrasi mencari serpihan utama, kita mengerahkan kapal-kapal dari navigasi, TNI untuk melakukan pencarian dimana ada beberapa kapal yang dilengkapi dengan set scan sonar itu untuk menentukan dimana lokasi kira-kira serpihan pesawat itu ada,” jelas Soerjanto.

Sementara itu Direktur Operasional Lion Air Capt. Daniel Putut menjelaskan pihaknya siap untuk memenuhi hak dan tanggung jawabnya terhadap keluarga korban sesuai aturan perundangan yang berlaku. Saat ini Lion Air juga memfasilitasi akomodasi dan keberangkatakan keluarga korban menuju Jakarta.

“Kepada keluarga korban kami akan memenuhi hak dan tanggung jawab kami sesuai aturan yang berlaku dan untuk keluarga korban, crisis center kita buka di Bandara Soekarno-Hatta, sampai nanti menunggu informasi lebih lanjut,” ucap Daniel.

Minta izin Return To Base

Perihal informasi yang menyebutkan bahwa sebelum diketahui jatuh di Laut Jawa, JT610 sempat memnita izin untuk kembali ke Bandara Soekarno Hatta (Return To Base) Ketua Komisi Nasional Keselamatan Tarnsportasi Soerjanto Tjahjono membenarkan hal itu.

“Kami sedang mempelajari kenapa ada permintaan RTB. Permintaan RTB sudah di-approve dan diizinkan oleh AirNav untuk RTB ke Cengkareng. Tapi kami belum menemukan apa sebenarnya alasannya. Kami sedang menunggu black box-nya. Nanti kalau sudah ketahuan dari black box, nanti akan ketahuan alasannya kenapa (RTB),” katanya tadi sore.

Permintaan RTB JT610 ini juga ditegaskan oleh Dirut AirNav Indonesia,Novie Riyanto. Katanya, “Banyak sekali pertanyaan, apakah betul pesawat ini minta RTB? Betul, pesawat meminta RTB kepada ATC dan sudah diizinkan untuk RTB.”

Hingga saat ini proses pencarian dan evakuasi pesawat serta korban masih terus dilakukan. Badan SAR Nasional menyatakan akan bekerja 24 jam untuk menemukan lokasi badan pesawat berikut para korban. Sementara itu, pecahan pesawat yang mengambang di permukaan air telah diambil dan dikumpulkan. Konsentrasi saat ini adalah mencari pecahan utama (pesawat) yang ada di dalam air pada kedalaman sekitar 30-35 meter.

“Kita mengerahkan beberapa kapal dari Hydros, BPPT, serta kapal navigasi dan kapal dari TNI untuk melakukan pencarian. Ada beberapa kapal sari Hydros yang dilengkapi dengan alat khusus untuk menentukan lokasi di mana kira-kira pecahan utama pesawat berada,” ujar Ketua KNKT. Dalam pencarian itu, dikerahkan antara lain peralatan untuk mendeteksi underwater locator beacon (ULB). Jika lokasi pesawat diketamukan, tim SAR akan menurunkan tim untuk mencari dan mengangkat black box pesawat.

“Kita harapkan black box ini tidak akan jauh dari pecahan utama pesawat. Kita harapkan bisa dengan segera bisa diketahui kira-kira posisi dari pecahan utamanya pesawat, sehingga kita bisa menemukan para korban,” jelas Ketua KNKT Soerjanto.

Categories
Domestic

Badan dan Black Box Pesawat Lion Air JT-610 Belum Ditemukan

Sampai siang ini badan pesawat belum ditemukan. Black box pesawat juga masih belum ditemukan, masih dalam pencarian oleh Basarnas.

Demikian diungkapkan Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I, Bagus Sunjoyo dalam konferensi pers terkait peristiwa hilangnya pesawat Lion Air nomor penerbangan JT-610 di utara Laut Jawa kepada awak media di Terminal 1B Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Senin (29/10/2018) siang.

Ia menyebutkan, bagian pesawat yang di temukan sampai saat ini hanya serpihan kecil. Ia belum bisa menyebut apakah serpihan pesawat itu adalah bagian dari pesawat Lion Air yang hilang kontak tersebut.

“Yang ada di layar TV itu baru sedikit, hanya serpihan-serpihan. Tapi apakah betul yang ditemukan itu adalah serpihan dari pesawat, sampai saat ini juga masih belum bisa kita dipastikan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, hingga saat ini Basarnas terus mencari ke lokasi saat pesawat tersebut dinyatakan hilang kontak.

“Kondisi pesawat sampai dengan penerbangan dinyatakan laik terbang. Kru kokpit dan kru kabin juga dinyatakan dalam kondisi fit,” kata Bagus.

Terkait dengan permintaan kembali ke bandara (RTB), Bagus juga membenarkan hal itu.

“Betul, ada request untuk RTB dari pilot. Dari rekan AirNav, dari ATC yang mengatakan. Tapi tidak ada statment seperti itu (permasalahan mesin),” tegasnya.

Ia melanjutkan, request itu kemudian disetujui. “Apakah pesawat sudah RTB atau masih dalam titik itu, kita enggak tahu. Karena seketika langsung hilang kontak,” imbuhnya.

Sayangnya, ia belum bisa menerangkan lebih jauh karena keterbatasan informasi yang ia dapat. Namun ia menyatakan bahwa pihaknya tetap berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya Lion Air dan Basarnas.

“Sampai sekarang belum ada statment baik dari Lion Air maupun dari Basarnas. Basarnas belum memberikan info ke kita, tapi kita akan tetap koordinasi terus-menerus dengan Basarnas,” tutupnya.

Categories
Domestic

Korban Meninggal JT610 Akan Dapat Santunan Rp 50 Juta

Jasa Raharja menyatakan seluruh penumpang pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan pantai Karawang Jawa Barat akan mendapat santunan asuransi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Bahwa berdasarkan UU No 33 dan PMK No. 15 tahun 2017, bagi korban meninggal dunia, maka Jasa Raharja siap menyerahkan hak santunan sebesar Rp 50.000.000 dan dalam hal korban luka luka, Jasa Raharja akan menjamin Biaya Perawatan Rumah Sakit dengan biaya perawatan maksimum Rp 25.000.000,” terang Direktur Utama Jasa Raharja, Budi Rahardjo S. dalam sebuah pernyataan pers.

Menindaklanjuti kejadian ini, Jasa Rahaja yang telah menerima laporan dan langsung berkoordinasi dengan BASARNAS, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Lion Air, serta hadir langsung di Crisis Center Bandara Dipati Amir Pangkal Pinang, Kantor Lion Air Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta dan Kantor BASARDA DKI Jakarta untuk memastikan keterjaminan para penumpang.

Categories
Galley

Apakah Posisi Brace Bisa Selamatkan Nyawa Penumpang?

Menjelang pesawat pendaratan darurat di darat atau di permukaan air, penumpang biasanya disarankan untuk duduk merunduk (brace). Dalam posisi brace, kaki dan lutut penumpang dirapatkan dengan telapak kaki menempel pada lantai pesawat. Badan dicondongkan ke depan menempel pada sandaran kursi di depannya atau menempel rapat pada kedua lutut (jika mungkin).

Banyak pendapat menyebut, posisi brace dapat menyelamatkan nyawa penumpang saat pesawat harus mendarat darurat. Pendapat lain menyebut posisi ini tak berguna. Ada yang bilang, posisi ini hanya berguna menyelamatkan gigi yang biasanya digunakan sebagai bagian identifikasi korban. Pendapat lain, posisi brace justru meningkatkan tingkat kematian dan mempercepat proses kematian karena dapat mematahkan leher sehingga memberi proses kematian yang cepat tanpa rasa sakit.

Steve Allright, seorang kapten pelatihan British Airways, bersikeras bahwa posisi brace yang saat ini digunakan oleh maskapai penerbangan terbukti menyelamatkan nyawa penumpang.

“Terbang adalah salah satu bentuk transportasi yang paling aman. Kebutuhan untuk menggunakan posisi brace sangat langka. Namun, ini adalah teknik keselamatan yang diakui secara global,” katanya, seperti dikutip The Telegraph.

Perbaikan besar pada posisi brace pun juga dilakukan secara besar-besaran di Inggris pasca  kecelakaan Kegworth tahun 1989. Perbaikan ini dilakukan dengan mempelajari cidera yang dihasilkan dari penumpang  yang melakukan dan tidak melakukan posisi brace.

Di Australia, demi meyakinkan penumpang bahwa posisi brace itu dapat menyelamatkan nyawa penumpang, Otoritas Penerbangan Sipil Australia mengutip insiden di mana pesawat bermesin ganda yang mengangkut 16 penumpang jatuh. Sebagian besar penumpang tidur saat kecelakaan terjadi. Sementara hanya satu orang yang terbangun. Satu-satunya penumpang selamat itu disebutkan telah menerapkan posisi  brace sebelum pesawat jatuh.

Di Amerika, posisi brace juga telah menyelamatkan seluruh penumpang penerbangan U.S. Airways Flight 1549 yang harus mendarat darurat di Sungai Hudson.

Melihat adanya kontroversi posisi brace itu, serial Mythbusters di Discovery Channel berusaha membuktikannya.  Menggunakan crash test dummies dan sejumlah sensor, serial dapat membuktikan bahwa posisi brace secara signifikan akan meningkatkan peluang penumpang menghindari cedera serius dan kematian saat kecelakaan pesawat terjadi.

Program televisi  Channel 4 yang sengaja mendokumentasikan simulasi menabrakkan pesawat di Gurun Sonora Meksiko menyebut bahwa posisi brace juga telah terbukti menyelamatkan nyawa. Dalam dokumentasi itu diperlihatkan adanya tiga posisi brace. Pertama, posisi brace dengan sabuk keselamatan yang dikencangkan. Kedua posisi duduk hanya dengan mengikatkan sabuk keselamatan. Dan ketiga, tanpa sabuk keselamatan dan tanpa posisi brace. Berdasar simulasi itu, para ahli menyimpulkan bahwa boneka dalam posisi brace dengan sabuk keselamatan dikencangkan berpeluang lebih besar bisa selamat dari kecelakaan. Yang hanya duduk dengan sabuk keselamatan terikat tanpa posisi brace akan mendapat cidera kepala yang parah. Sementara yang tidak menerapkan posisi brace dan tanpa sabuk keselamatan diyakini akan mengalami kematian.

 

Categories
Sundry Tales

Dimana Kursi Pesawat yang Paling Aman Saat Kecelakaan?

Beberapa pihak mengklaim bahwa kursi pesawat di atas atau sekitar sayap pesawat adalah yang teraman saat kecelakaan. Klaim ini mengacu pada asumsi bahwa rangka pesawat “terkuat” itu ada di sana. Pendapat lain, jika terjadi kecelakaan pesawat, bagian belakang pesawat adalah tempat teraman.

Teori “bagian belakang pesawat adalah tempat teraman” sempat ditayangkan dalam sebuah film dokumenter di sebuah televisi swasta,  Channel 4 Mexico, tahun 2013. Produser acara, The Crash, dalam film itu ditayangkan sebuah Boeing 727 yang sengaja disimulasikan crash ke daratan. Pada film dokumenter itu,  Boeing 727 yang sengaja ditabrakkan ke Gurung Sonora di Meksiko dilengkapi kamera, sensor, dan boneka uji tabrakan dengan “tulang” yang mudah patah.

Setelah menabrak tanah, bagian depan pesawat dan 11 baris kursi pertama – yang biasanya disediakan untuk penumpang kelas satu, kelas bisnis atau premium-ekonomi – terlihat hancur lebur. Kekuatan sebesar 12G tercatat di bagian depan pesawat ini. Lebih jauh ke belakang pesawat, hantaman kekuatan jatuh pesawat turun ke sekitar 6G.

Dari simulasi itu, para ahli menyimpulkan, tidak ada penumpang kelas satu pada pesawat yang akan selamat dalam kecelakaan seperti itu, tetapi 78 persen dari penumpang lain akan memiliki peluang selamat. Kemungkinannya pun semakin besar jika mereka semakin dekat ke bagian belakang pesawat.

Meskipun analisis kecelakaan tunggal tidak dapat dipakai untuk menentukan hasil yang terbaik, temuan itu rupanya mendukung studi majalah Popular Mechanics yang dilakukan tahun 2007. Majalah ini menganalisis semua crash setelah 1971 dan menemukan bahwa kursi belakang (di area belakang ujung sayap ) adalah yang paling aman, dengan tingkat ketahanan hidup mencapai 69 persen, dibandingkan 56 persen jika penumpang berada di area sekitar sayap, dan hanya 49 persen jika penumpang duduk di bagian depan.

Namun rupanya, produsen pesawat dunia tak sepakat dengan penelitian di atas. Bagaimanapun, tidak ada bukti konklusif atas kasus kursi mana yang paling aman saat crash terjadi.

“Satu kursi sama amannya dengan yang lain,” kata seorang juru bicara Boeing yang dikutip The Telegraph. “Terutama jika Anda tetap menggunakan sabuk keselamatan.” inilah point penting keselamatan penumpang.

Pada film dokumentasi Channel 4, terlihat  tiga boneka dummy diletakkan di baris yang sama, tetapi dalam posisi yang berbeda: satu di posisi brace (posisi duduk dalam keadaan darurat) dan mengenakan sabuk pengaman, yang kedua duduk normal menggunakan sabuk pengaman, dan yang ketiga duduk normal minus sabuk pengaman. Penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman dijamin  akan menjadi satu-satunya korban tewas, kata para ahli.

Selain sikap duduk, rupanya masalah evakuasi ini juga penting dalam sebuah crash. Dalam sebuah kecelakaan pesawat, kemungkinan penumpang selamat tetap ada. Salah satu yang penting adalah proses evakuasinya. Jarak antara kursi penumpang dengan pintu evakuasi juga berpengaruh. Bisa dipastikan, penumpang yang duduk di dekat pintu keluar/evakuasi memiliki peluang selamat lebih besar dibandingkan yang lebih jauh.

Teori ini didukung oleh studi Universitas Greenwich, yang ditugaskan oleh CAA. Peneliti memeriksa 2.000 orang yang selamat di 105 kecelakaan di seluruh dunia. Mereka yang duduk lebih jauh dari enam baris dari pintu keluar memiliki kemungkinan selamat lebih kecil.

Nah mau pilih kursi yang mana?

 

 

Categories
Military Update

Return To Base Tak Bisa Dilakukan Sembarangan

Dalam dunia penerbangan, dikenal satu istilah yaitu RTB (return to base), di mana suatu pesawat diharuskan untuk kembali ke bandar udara di mana pesawat itu berangkat (setelah mengudara/airborne).

RTB bisa terjadi karena dua faktor, yaitu teknis dan non teknis. “Faktor teknis umumnya terjadi karena adanya gangguan pada sistem pesawat seperti mesin, struktur atau mekanisme teknis operasional pesawat yang menyebabkan kemampuan (capability) pesawat dalam melakukan penerbangan berkurang hingga di bawah 50 persen,”  Himanda Amrullah, seorang pilot di salah satu maskapai di Indonesia, menjelaskan.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi seorang pilot jika hendak melakukan return to base setelah lepas landas.  Beberapa di antaranya, jarak bandara awal masih dalam radius kurang dari satu jam, cuaca di bandara awal memenuhi syarat untuk pendaratan kembali, berat pesawat sudah memenuhi persyaratan untuk mendarat. ” Dan, sudah dilakukan koordinasi yang baik antara pilot dan awak kabin, pilot dan pihak ATC, serta pilot dan pihak perusahaan beserta staf darat di bandara,” ujar Himanda.

Khusus untuk uncontrollable engine fire yang terjadi setelah lepas landas, Himanda menjelaskan bahwa pesawat harus segera mendarat sesegera mungkin di bandara awal. Koordinasi dengan pihak ATC dan pemadam kebakaran di bandara awal harus pula dilakukan. Hal-hal yang menjadi syarat dasar RTB bisa dianulir karena sifat dari uncontrollable engine fire ini sudah masuk kategori yang sangat berbahaya.

Return to base dari sisi  non teknis juga bisa terjadi. Misalnya karena ada penumpang sakit yang membutuhkan penanganan secepat mungkin dan masih dalam radius kurang dari 1 jam dari bandara awal, serta cuaca di bandara awal masih memungkinkan, atau bandara tujuan tutup.

Tengku Said Irfan Liri, seorang pilot lain juga menimpali. “Kalau teknis, ya berupa technical reason, seperti pesawat yang tidak memungkinkan untuk continue seperti ada malfunction. Kalau non teknis, ya berkaitan selain technical aircraft, misal ada penumpang yang sakit atau airport close, atau NOTAM (notice to airmen) mendadak.”

“Kalau masalah teknis, kita ikuti sesuai checklist-nya saja. Atau bisa juga hasil dari diskusi kita pilot, terus PIC (pilot in command) memutuskan untuk RTB karena masalah teknis meskipun tidak ada perintah di checklist untuk RTB,” tambah Said.

Lalu, berapa berat pesawat (MLW) yang diizinkan untuk  melakukan RTB? Rupanya pada setiap airline dan jenis pesawat berbeda-beda. “Ketentuan MLW (maximum landing weight) itu ada perbedaan prosedur di beberapa airline dan pabrik,” ujar Said. “Kalau pabrik, biasanya strict harus di bawah MLW. Tapi airline kadang bikin kebijakan lain lagi. Kalau di maskapai kami, boleh 5 persen di atas MLW, tapi pesawat setelah itu harus masuk hangar. Ini selain fire, kalau ada fire harus landing di suitable airport,” kata Said tegas.

Mengenai prosedur RTB ini, seorang ramp dispatcher  menjelaskan, ramp akan menanyakan mengapa sebuah pesawat melakukan RTB. “Kalau ada yang sakit, ramp akan siapkan ambulance. Kalau masalah teknis, akan koordinasi dengan orang teknik,” ujar petugas ramp dispatcher itu.

Foto: Joe Roland S. Bokau

Categories
Domestic

Pesawat Lion Air yang Hilang Kontak Belum Genap 3 Bulan Berdinas

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 yang hilang kontak saat melayani rute Jakarta-Pangkal Pinang merupakan armada pesawat baru yang dimiliki Lion Air Group. Pesawat berregistrasi PK-LQP tersebut belum genap tiga bulan berdinas.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Pramintohadi Soekarno menyebutkan, pesawat tersebut mempunyai Certificate of registration issued pada 15 Agustus 2018 dan expired pada 14 Agustus 2021. Sementara Certificate of air worthiness issued pada 15 Agustus 2018 expired pada 14 Agustus 2019.

Pramintohadi menyebutkan, pesawat JT-610 diduga jatuh di sekitar Tanjung Karawang.

“Telah diterima informasi dari VTS Tanjung Priok atas nama Bapak Suyadi, tug boat AS JAYA II (rute : Kalimantan Selatan – Marunda) melihat pesawat Lion Air diduga jatuh di sekitar Tanjung Karawang,” ujar Pramintohadi.

Menurut Pramintohadi, saat ini tengah dilakukan pencarian pesawat tetsebut oleh tim dari Basarnas. Rescuer Kansar Jakarta dan RIB 03 Kansar Jakarta bergerak ke lokasi koordinat kejadian untuk melakukan operasi SAR.

“Saat ini telah dibentuk crisis center di Terminal 1 B bandara Soekarno Hatta dan Bandara Depati Amir Pangkal Pinang untuk keluarga penumpang,” terangnya.

Baca juga:

Lion Air Group Pengguna Pertama Boeing 737 MAX 8 di Dunia
Pertama Terbang di Indonesia Boeing 737 MAX 8 Lion Air
Boeing 737 Max-8 Lion Air Terbang Perdana Jakarta – Pontianak

Pesawat hilang kontak sekitar pukul 06.33 WIB pada posisi : 05 48.934 S 107 07.384 E dan Radial : 40.21 degree / 23.81 NM.

Pesawat membawa 178 penumpang dewasa, 1 anak dan 2 bayi. Awak pesawat terdiri dari 2 penerbang (PIC Capt Bhavve Suneja dan SIC Harvino) dan 5 awak kabin (SFA Shintia Melina, FA Citra Novita Anggelia Putri, FA Alfiani Hidayatul Solikah, FA Fita Damayanti Simarmata dan FA Mery Yulyanda).