Mengapa Jendela Pesawat Tidak Bisa Dibuka?



Ketika kita naik pesawat terbang komersial, tak satupun jendela pesawat dapat dibuka. Jika pun ada yang bisa dibuka, tentulah itu jendela yang berfungsi sebagai pintu darurat saat keadaan darurat terjadi. Jendela itu pun baru boleh dibuka di darat atau permukaan air, dan atas arahan awak kabin. Selama penerbangan, tak ada satupun jendela boleh dibuka. Mengapa demikian?

Atmosfir yang menyelimuti bumi ini terdiri dari beberapa lapis. Lapis atmosfer yang terdekat dengan permukaan bumi adalah troposfer. Lapisan ini menempati ketinggian antara 0 – 12 kilometer di atas permukaan bumi. Troposfer berfungsi menjaga dan menstabilkan kondisi bumi.

Meski fungsinya menyeimbangkan bumi, lapisan troposfer memiliki perbedaan temperatur dan tekanan udara. Semakin tinggi lapisan troposfer dari permukaan bumi, semakin tipis kandungan udara, dan semakin rendah temperaturnya. Kondisi ini tentu tidak layak bagi manusia.

Sebuah pesawat komersial rata-rata terbang di ketinggian 25.000 – 45.000 kaki (sekitar 8 – 15 km di atas permukaan laut). Pada ketinggian seperti itu, kerapatan udara atmosfer sangat tipis, dan temperatur bisa mencapai minus 30 – minus 50 derajat celcius. Manusia tak akan bertahan hidup dalam kondisi itu.

Untuk mengatasinya, kabin pesawat terbang dibuat kedap udara. Udara di dalam kabin dikondisikan pada level tertentu (biasanya setara kondisi udara pada ketinggian 5.000- 8.000 kaki) agar manusia masih bisa bernafas normal. Udara juga dihangatkan dengan mengalirkannya di sekitar mesin pesawat sebelum dialirkan ke kabin.

Lalu bagaimana agar tekanan udara di dalam kabin bisa bertahan? Caranya, jaga agar tidak terjadi kebcoran udara. Tutuplah semua jendela dan pintu yang mungkin menjadi jalan keluar tekanan udara di dalam kabin pesawat. Jika penumpang iseng dan membuka jendela di pesawat, maka kekedapan tekanan udara di dalam kabin akan hilang. Udara yang sudah dimampatkan akan keluar melalui jendela, dan membuat kondisi udara di dalam dan luar pesawat sama imbang. Akibatnya, kematian.

Jadi demi menghindari hal itu terjadi, jendela pesawat dibuat “mati”. Selain meminimalkan penumpang iseng atau tak sengaja membuka jendela, jendela “mati” itu juga membuat rangka pesawat menjadi lebih kokoh.