Memperkuat  Eksistensi Penerbangan Indonesia di Singapura




Pameran statik pesawat terbang di Singapore Airshow 2018. Foto: Reni Rohmawati

Singapore Airshow 2018 usai digelar. Indonesia, yang setelah tahun 1996 tidak lagi menyelenggarakan ajang serupa, turut memanfaatkan perhelatan kedirgantaraan internasional dua tahunan di Singapura itu. Walaupun di jajaran bendera peserta, tak terlihat bendera Indonesia, Sang Saka Merah Putih.

Seperti disuarakan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso, Singapore Airshow perlu didalami agar dapat memahami tren global, khususnya di bidang penerbangan sipil dunia. “Indonesia harus progresif dalam menghadapi perkembangan dunia penerbangan sipil, baik dari sisi regulator maupun industri penerbangan nasional, yang terdiri dari manufaktur pesawat serta operator penerbangan, yakni airlines, airports, dan air navigation,” ujarnya di Singapura pada 6 Februari 2018.

Selama Singapore Airshow yang digelar 6-11 Februari 2018 itu terbentuk nada optimis bahwa berbagai peluang terbentang luas untuk menghubungkan para pemangku kepentingan dan teknologi. Hal ini terjalin untuk mendorong perubahan dan platform interaksi yang unik pada masa depan.

Jumlah pengunjung pada hari-hari bisnis (6-9 Februari) meningkat lebih dari 10 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya dengan 287 delegasi VIP. Lebih dari 70 persen peserta pameran pun berkomitmen untuk kembali ke Singapore Airshow 2020. “Singapore Airshow memainkan peran penting dalam mendukung ekosistem penerbangan di Singapura dan Asia Pasifik,” kata Richard Brown, Principal ICF Internasional.

“Kami sangat puas dengan Singapore Airshow tahun ini, khususnya terkait dengan beragam pengunjung tingkat tinggi serta pelanggan dan mitra kami dari Asia Pasifik dan sekitarnya,” kata Sean Lee, Chief Communication Airbus wilayah Asia Pasifik.

Sejumlah pesawat berteknologi baru dipamerkan di Singapore Airshow 2018. Foto: Reni Rohmawati

Garuda Indonesia Group yang baru dua kali berpartisipasi berupaya untuk meraih eksistensi, sekaligus membuka kesempatan untuk memperoleh beberapa potensi bisnisnya. “Potensi bisnis dalam bentuk kerja sama yang diinisiasi masing-masing perusahaan Garuda Indonesia Group diharapkan mampu mendukung penetrasi pasar. Rencana ekspansi juga diharapkan dapat dijalin pada momen ini,” ucap Pahala N Mansury, Direktur Utama Garuda Indonesia.

Walaupun keikutsertaan Garuda Indonesia Group baru kedua kalinya, GMF AeroAsia rutin ikut serta. Konsistensi GMF sebagai pemain kunci dari industri MRO (maintenance repair overhaul) di Indonesia ikut serta di ajang Singapore Airshow dapat menjadi momen pembuktian pada dunia bahwa kualitas pelayanan perawatan pesawat terbang di Indonesia tidak kalah dengan MRO di negara-negara maju. “Sebagai MRO kelas dunia kebanggaan bangsa, berpartisipasi di ajang Singapore Airshow akan memperkuat posisi GMF sebagai MRO berkualitas tinggi yang mampu bersaing di kancah internasional,” ungkap Iwan Joeniarto, Direktur Utama GMF AeroAsia.

Industri penerbangan di kawasan Asia Pasifik memang yang paling berkembang pada era ini. Untuk memperkuat komitmennya dalam industri penerbangan, Amerika Serikat pun menampilkan lebih dari 100 perusahaan di paviliunnya. Kehadirannya menjadi yang terbesar di Singapore Airshow 2018 dengan lebih dari 60 perusahaan yang berpartisipasi, terdiri dari kontraktor, integrator, produsen peralatan, usaha kecil dan menengah, serta spesialis perawatan yang baru ditampilkan di ajang airshow.

“Singapore Airshow benar-benar buzz sejak awal; selalu bagus. Namun pada tahun 2018 adalah yang terbaik dalam 10 tahun terakhir. Sukses luar biasa bagi perusahaan yang berpartisipasi di paviliun AS,” ujar Tom Kallman, President and CEO Kallman Worldwide, Inc., yang menjadi Perwakilan dan Penyelenggara Paviliun Kemitraan AS.

Embraer Commercial Aviation juga berpartisipasi cukup besar. Perusahaan Brazil ini memperkirakan perusahaan penerbangan akan menerima pengiriman 3.010 pesawat baru di segmen pesawat terbang berkapasitas hingga 150 kursi selama 20 tahun ke depan. Jumlah ini mewakili 29 persen permintaan segmen tersebut di seluruh dunia pada periode tersebut yang totalnya 10.550 pesawat baru.

Persaingan ketat yang terus berlangsung di kawasan Asia Pasifik menghambat maskapai penerbangan untuk memperoleh keuntungan lebih tinggi. “Pesawat kami, E-Jets E2, dapat membantu maskapai penerbangan untuk membuka pasar baru dengan risiko serendah mungkin, melengkapi jenis armada yang lebih besar untuk memaksimalkan keuntungan, dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dengan tingkat keuntungan yang lebih tinggi,” kata César Pereira, Vice President Embraer Commercial Aviation untuk Asia Pasifik.

Peserta baru juga hadir, salah satunya Turkish Aerospace Industries. “Debut kami di Singapore Airshow sungguh memuaskan dengan banyak kesempatan bagi kami untuk mengenalkan layanan dan produk industri kedirgantaraan Turki, juga membangun kolaborasi yang kuat dalam industri ini,” kata Fahrettin Ozturk, Vice President Strategy and Technology Management, Turkish Aerospace Industries, seraya menambahkan,”Partisipasi di airshow berikutnya, kami akan membawa materi yang lebih lengkap, termasuk pesawat latih jet dan helikopter buatan kami.

Boleh jadi dua tahun ke depan, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pun akan membawa pesawat N219 Nurtanio yang sudah mulai diproduksi. Pada airshow kali ini, PTDI yang membuka gerai cukup besar hanya menampilkan model-model pesawat produksinya dan mengenalkan N219 Nurtanio yang masih dalam tahap sertifikasi. “Kami belum membawa pesawat N219 Nurtanio ke airshow kali ini,” ujar Elfien Goentoro, Direktur Utama PTDI. Pada Singapore Airshow 2018 itu, PTDI membukukan lebih dari seratus pesanan dan opsi untuk N219 Nurtanio.

What’s next

Airbus A350-1000, pesawat sipil komersial yang sedang dikembangkan Airbus. Foto: Reni Rohmawati.

Singapore Airshow secara resmi dibuka pada 6 Februari 2018 dengan pengguntingan pita oleh Menteri Koordinator Infrastruktur dan Menteri Perhubungan Singapura, Khaw Boon Wan, serta Menteri Pertahanan Singapura, Dr Ng Eng Hen. Singapore Airshow 2018 fokus pada tren inovasi teknologi terkini, termasuk cybersecurity otonomi teknologi, pesawat udara tanpa awak, dan teknologi cerdas. Sebanyak 1.062 perusahaan dari 50 negara menampilkan produk dan inovasi terbaru mereka, yang digelar untuk konsumsi hampir 50.000 pengunjung bisnis dari 150 negara.

Singapore Airshow 2018 memang ingin menciptakan masa depan dengan berpikir dan berinovasi baru. What’s Next @Singapore Airshow melihat pertukaran mendalam antara start-up dan calon investor. Dipamerkan dan diluncurkan teknologi dan inovasi baru mulai dari start-up di IoT (Innovation of Technology), mobilitas, sampai perawatan kesehatan lanjutan.

“Peresmian What’s Next @Singapore Airshow menawarkan kesempatan kepada pengusaha pemula untuk berinteraksi dengan pelaku industri kelas berat juga berbagi ide dan membangun prospek pengembangan bisnis baru. Keterlibatan dengan para pemula harus menjadi proses yang berkesinambungan sepanjang tahun bagi calon mitra dan investor untuk memahami sifat teknologi yang disediakan oleh start-up dan model bisnis mereka sebelum mereka dapat membawa teknologi tersebut ke pasar dan mengeksplorasi kolaborasi yang saling menguntungkan. What’s Next @Singapore Airshow start up showcase adalah jalan untuk melakukan hal tersebut,” kata Harris Chan, Chief Digital Officer, ST Engineering, salah satu juri pada sesi seleksi What’s Next @Singapore Airshow.

Menurut Harris, “Di seluruh sesi itu kami telah melihat awal yang sangat menjanjikan dalam menangani perubahan terdepan dengan memasukkan kemunculan revolusi industri 4.0 dalam gagasan yang mencakup otonomi, AI, keamanan maya dan memanfaatkan IoT.”

Manajer Pra-Penjualan Graymatics, Siril Saji George yang menjalankan start-up , mengatakan, “Raksasa industri ini sangat mendidik saat kami melihat teknologi baru dan mengeksplorasi peluang untuk berkolaborasi dengan mereka di berbagai bidang di luar penerbangan. Kami telah mencapai 40-50 persen prospek yang kuat dengan kolaborasi jangka pendek, serta eksplorasi dari korporat mengenai implementasi teknologi baru yang mereka pertimbangkan untuk ditambahkan ke rencana tahunan mereka.”

Atraksi aerobatik

Apa yang paling ditunggu-tunggu di suatu perhelatan kedirgantaraan? Ya, atraksi aerobatik dari pesawat-pesawat terbang. Pada dua hari terakhir airshow (10-11 Februari), sekitar 80.000 pengunjung masyarakat umum pun disuguhi aerobatik yang menggembirakan pertunjukan pertama pastilah dari tuan rumah. Integrated Team dari Angkatan Udara Singapura (Republic of Singapore Air Force, RSAF), yang terdiri dari dua F-16Cs dan F-15SG yang diwarnai khusus untuk memperingati 50 tahun RSAF, melakukan 15 manuver yang menarik termasuk enam manuver terintegrasi baru seperti 3-Ship Dedication Pass dan Golden Salute, yang ditampilkan pertama kali di depan umum. Tiga pesawat jet tempur itu menampilkan ketepatan presisi dan koordinasi yang memukau.

Tak kalah menakjubkan atraksi yang digelar oleh Jupiter Aerobatic Team dari TNI AU dengan pesawat KAI KT-1B. Pertunjukan lainnya adalah aerobatik Lockheed Martin F-16C dan B-52 Stratofortress dari Angkatan Udara AS (United States Air Force, USAF) dan Sukhoi Su-30MKM dari Royal Malaysian Air Force (RMAF). Ada juga Saab JAS-39C/D Gripen dari Royal Thai Air Force (RTAF), yang tampil pertama kali di Singapura.

Sebenarnya akan tampil pula Black Eagle Aerobatic Team dengan KAI T-50s dari Republic of Korea Air Force (RKAF). Namun pada hari pertama airshow, salah satu pesawatnya mengalami kecelakaan, sehingga batal tampil.

Tentu pameran statik pesawat juga menarik perhatian pengunjung. Pesawat F-15SG yang diwarnai dengan skema warna yang didominasi biru menjadi sorotan. Begitu juga pesawat tempur F-35B Lightning II, pesawat stealth yang bisa lepas landas vertikal pertama dari supersonik dunia ini tampil untuk pertama kali di Asia. Pesawat militer lainnya yang tampil pertama kali di Asia, adalah E-7A Wedgetail Airborne Early Warning dari Royal Australian Air Force (RAAF) serta jet Gripen RTAF dan RQ-4B Global Hawk unmanned aircraft system (UAS) dari USAF. Ada juga berbagai pesawat bisnis dan komersial, seperti Gulfstream G500 dan G600, Cessna Cigarna, dan prototipe E-190 E2 yang dilukis wajah harimau.

“Kami berbesar hati melihat dukungan dan ketertarikan yang luar biasa dari pengunjung. Ini menunjukkan bahwa Singapura adalah pusat penerbangan, tidak hanya untuk industri tapi juga penggemar di seluruh dunia,” kata Leck Chet Lam, Managing Director Experia Events, penyelenggara Singapore Airshow. “Kami berharap Singapore Airshow 2020 pada 11-16 Februari semakin menarik.”