Masih Dikaji Pengalihan Bandara di Jayapura dan Palu




Dua bandara dj kawasan timur Indonesia, Bandara Mutiara Sis Al-Jufro di Palu dan Bandara Sentani di Jayapura, sedang dikaji untuk pengalihan pengelolaannya dari Ditjen Perhubungan Udara ke PT Angkasa Pura (AP) I. Nantinya, dua UPBU (Unit Penyelenggara Bandar Udara) yang sudah BLU (Badan Layanan Umum) ini akan menjadi bandara yang dikelola BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

“Kesepakatan dan proses pengkajiannya ditargetkan selesai akhir Desember nanti (2018), sesuai arahan Menteri Perhubungan. Kami akan melakukan pengubahan status berbagai aspek dari bandara tersebut,” ujar M Pramintohadi Sukarno, pelaksana tugas Dirjen Perhubungan Udara pada penandatanganan Kesepakatan Bersama di Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Ada beberapa aspek yang menjadi perhatian Ditjen Perhubungan Udara, antara lain, pengalihan status pegawai dari Kementerian Perhubungan ke BUMN. Untuk itu, kata Pramintohadi, karyawan diberi kebebasan untuk memilih. Di samping itu, ada juga pengalihan pengelolaan dengan pola KSP (Kerja Sama Pemanfaatan) berbagai aset negara di dua bandara tersebut serta soal alokasi biaya pembangunan bandara dan kapan waktunya.

“Kedua bandara itu sudah BLU. Prosesnya akan kami kembalikan lagi statusnya menjadi tidak BLU, kemudian dialihkan ke Angkasa Pura I,” ucap Pramintohadi.

Sementara itu, Direktur Utama PT AP I Faik Fahmi mengatakan, pihaknya siap menerima penugasan untuk mengelola Bandara Sentani dan Bandara Sis Al-Jufri. Kedua bandara itu akan dikembangkan secara komersial bersamaan dengan peningkatan pelayanan kepada para pengguna jasa bandara.

“Prinsipnya, kami siap berinvestasi untuk memberikan nilai tambah pada dua bandara tersebut. Pengembangan bandara-bandara itu juga diharapkan dapat menstimulus pengembangan daerah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian daerah,” ujar Faik.

Bertambahnya dua bandara yang akan dikelolanya mulai tahun 2019 itu, kata Faik, untuk memperkuat konektivitas di kawasan timur. Ditambahkannya, penambahan dan pengembangan bandara AP I, selain untuk memperkuat konektivitas, juga meningkatkan layanan logistik dan mendukung pariwisata.

“Bandara di Palu akan menjadi feeder Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. Bandara di Makassar ini sekarang sedang dikembangkan pula dengan investasi Rp3,5triliun,” ucapnya.

Menurut Faik, sebagian besar bandara di AP I sudah lack of capacity atau jumlah penumpangnya melampaui kapasitasnya. Kapasitas terminal penumpang dari 13 bandara itu sekarang 81 juta per tahun, sedangkan penumpangnya tahun 2017 sudah lebih dari 89 juta orang.

“Tahun 2018 ini perkiraannya akan mencapai 98 juta penumpang. Maka tahun 2022, kami akan tingkatkan kapasitas bandara-bandara AP I menjadi dua kali lipatnya, yaitu lebih dari 160 juta penumpang,” tuturnya.