Lion Air Akui Dua Awak Kabin yang Ditangkap BNN Karyawannya



JAKARTA, 13/4 - LION AIR JATUH. Direktur Umum Lion Air Edward Sirait (kiri) menjawab sejumlah pertanyaan dari wartawan soal peristiwa jatuhnya sebuah pesawat Lion Air jenis Boeing 737-800 NG di perairan Laut Bali di Kantor Pusat Lion Air, Jakarta, Sabtu (13/4). Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 904 rute Bandung-Denpasar tersebut jatuh di Laut Bali dekat Bandara Ngurah Rai Sabtu (13/4) sekira pukul 15.10 WITA dengan membawa 101 penumpang dan tujuh awak pesawat yang kesemuanya dalam kondisi selamat. FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/ss/ama/13.

Maskapai penerbangan Lion Air mengakui bahwa dua dari tiga orang kru pesawat yang ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten adalah karyawannya, meskipun dua orang itu kini sudah tidak lagi bekerja di Lion Air lantaran dipecat perusahaan. Tiga orang yang ditangkap oleh BNNP Banten sedang melakukan pesta narkoba antara lain SH (34) pilot, MT (23) pramugara, dan SR (20) pramugari. “Kami baru terima surat pukul 14.00 WIB soal penangkapan awak pesawat. Kami tidak bisa memberikan klarifikasi sebelum mendapatkan data valid tentang apa yang terjadi,” kata Presiden Direktur Lion Group Edward Sirait seperti yang dilansir CNN Indonesia.

Khusus untuk SH, Edward tidak mengakui bahwa dia adalah karyawan Lion Air. Menurutnya, SH baru menjalani pelatihan untuk menjadi seorang pilot dan belum diangkat sebagai karyawan Lion Air. Kini SH juga sudah tidak bisa melanjutkan program pelatihan pilot di Lion Air karena terjerat kasus hukum. “Dua awak kabin yang tertangkap pernah kerja di Lion Air. Tapi calon kopilot belum menjadi pegawai kami,” katanya.

Edward menjelaskan, SH merupakan lulusan sekolah penerbangan dalam negeri. Dia juga pernah bekerja di maskapai penerbangan lain sebelum melamar ke Lion Air. SH aktif sebagai pendamping penerbang sejak 2015 dan belum memiliki lisensi untuk menerbangkan pesawat Lion Air, karena untuk menerbangkan sebuah pesawat, calon penerbang harus menjalani pelatihan selama lima hingga enam bulan. “Pada proses itu kami juga melakukan pengecekan narkotika. Tidak ada indikasi,” ungkap pria yang akrab disapa Edo itu.

Edward menambahkan bahwa perusahaan sudah melakukan berbagai langkah maksimal untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan karyawannya, salah satunya caranya adalah melakukan kerjasama dengan BNN. Selain itu, perusahaan juga rutin melakukan pengecekan terhadap darah dan rambut penerbang. “Selama 2015 kami telah lakukan lebih dari 9.000 sampling atau contoh,” kata Edward.

Foto: Istimewa

Be the first to comment

Leave a Reply