LCC Asia Lakukan Ekspansi Armada Meski Kondisi Ekonomi Bergejolak



Operator-operator pesawat narrowbody terkemuka di Asia akan menerima pengiriman pesawat dalam jumlah besar pada tahun ini, meskipun pembiayaan pesawat menjadi permasalahan dan prospek ekonomi global terus menurun.
Lion Air group berencana menerima 24 Boeing 737-900ER dan 12 ATR 72 pada tahun 2013. Bahkan terdengar kabar bahwa Lion juga akan memesan Airbus A320 NEO (new engine option) dalam jumlah besar, mencapai lebih dari 200 pesawat.
AirAsia group baru saja memesan tambahan 100 Airbus A320 yang terdiri dari 36 A320 versi sekarang dan 64 A320 NEO di akhir tahun lalu. Padahal perusahaan ini telah membukukan pesanan 200 A320 pada bulan Juni 2011. AirAsia merupakan perusahaan yang berbasis di Malaysia, namun memiliki afiliasi operator di negara lain. Group ini mengatakan bahwa pihaknya berencana menerima 33 pesawat A320 pada tahun ini. Pesawat ini dibagi untuk AirAsia (Malaysia) 10 pesawat, tujuh untuk Thai AirAsia, sembilan untuk Indonesia AirAsia, empat untuk AirAsia Japan, dan tiga untuk AirAsia Philippines.

Low-cost carrier lainnya yang sedang berkembang pesat adalah Cebu Pacific yang berbasis di Manila. Maskapai ini berencana menambah tujuh A320 dan dua A330-300 pada tahun ini. Cebu Pacific memiliki pesanan yang akan datang cukup banyak pada 2013 dan 2014, namun maskapai ini ingin mendapatkan lebih banyak lagi karena akan mempensiunkan dini A319 yang dioperasikannya. Selain itu, hal ini juga untuk menanggapai ekpansi yang dilakukan oleh Philippine Airlines yang juga menambah armada di tahun 2013-2014.

Ekspansi armada yang cepat dari low-cost carrier di Asia menjadi keuntungan bagi produsen pesawat. Boeing menyatakan telah mengirim Boeing 737 sebanyak 415 pesawat pada tahun lalu. Jumlah ini merupakan angka terbesar yang pernah dikirimkan oleh Boeing untuk satu jenis pesawat dalam waktu satu tahun. Sementara Airbus baru saja meningkatkan kapasitas produksi A320 menjadi 42 pesawat per bulan.

Beberapa pesawat Lion akan dikirimkan kepada Malindo Air, perusahaan gabungan antara Lion dan perusahaan Malaysia National Aerospace & Defense Industries (NADI). Malindo akan bermarkas di Kuala Lumpur International Airport dan berencana melakukan penerbangan perdana pada Maret 2013, setelah mendapatkan air operator certificate (AOC). Malindo akan memiliki armada pesawat 10-12 Boeing 737-900ER pada akhir 2013. Masing-masing pesawat ini akan dilengkapi dengan media hiburan di setiap kursi dan juga fasilitas WiFi.

CEO AirAsia group Tony Fernandes mengatakan bahwa masuknya Lion ke Malaysia melalui Malindo merupakan tantangan bagi AirAsia. Dia mengatakan AirAsia telah memiliki 60 persen pasar di Malaysia. Selain itu, Tony juga mendesak Aireen Omar yang baru ditunjuk sebagai CEO AirAsia (Malaysia) untuk lebih agresif dalam berekspansi.

Tony Fernandes mengatakan bahwa AirAsia dapat mengalahkan Malindo di Malaysia, sebab Malindo memiliki biaya dasar yang lebih tinggi. Ini terjadi karena Malindo perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk sistem hiburan dan biaya-biaya fasilitas lainnya. Sedangkan CEO Lion Air group Rusdi Kirana mengatakan bahwa menawarkan fasilitas seperti sistem hiburan merupakan respon kepada permintaan pasar, dimana para penumpang ingin terbang dengan harga murah tetapi dengan standar pelayanan yang lebih baik.

Seperti halnya Rusdi, Tony dalam melakukan pembiayaan pesawat menggunakan lembaga kredit ekspor. Suku bunga pada sistem ini cukup rendah, tetapi pembeli pesawat harus memiliki uang tunai untuk menutup uang muka dan deposit yang cukup besar untuk pesawat.

AirAsia memiliki uang tunai karena perusahaan ini mendapatkan untung. Dalam sembilan bulan pertama tahun lalu, laba bersih perusahaan mencapai US$ 500 juta. Sedangkan Cebu Pacific yang sudah terdaftar di lantai bursa mendapatkan laba US$ 55 juta pada laporan keuangan sembilan bulan pertama tahun 2013. Lion adalah perusahaan swasta yang tidak pernah mengumumkan laporan keuangannya selain untuk pemberi modal dan kantor pajak. Namun diyakini perusahaan ini tetap menguntungkan.

Langkah Rusdi Kirana masuk Malaysia berpotensi menimbulkan perang harga yang akan menurunkan yield. Menurut laporan dari divisi riset ekuitas Citibank mengatakan berdirinya Malindo merupakan upaya yang berani dari Lion, namun diragukan akan menguntungkan karena strategi bisnis yang tidak masuk akal secara komersial. Selain itu, Malindo akan menantang langsung pasar LCC Malaysia yang telah dikuasai oleh AirAsia.

Tetapi ada cara lain untuk mengukur kesuksesan. AirAsia group telah mendanai ekspansi internasional Indonesia AirAsia dari markas Rusdi –Indonesia– dengan keuntungan dari AirAsia (Malaysia). Jika Rusdi berhasil mengubah tambang emas Tony di Malaysia dari yang semula membuat AirAsia untung menjadi merugi, maka Rusdi bisa dikatakan sukses.

Tetapi ekspansi armada AirAsia dan Lion bertepatan dengan periode ekonomi global yang sedang melemah. Eropa masih bergulat dengan krisis keuangan, dan ekonomi Amerika Serikat dapat tertular jika pemerintah dipaksa memotong anggaran.

Masalah lainnya adalah mengenai pembiayaan pesawat. Lembaga kredit ekspor yang mendukung pendanaan Rusdi dan Tony akan menjadi lebih mahal. Dalam aturan Aircraft Sector Understanding tahun 2013, menetapkan persyaratan dan kondisi dimana negara dan produsen dapat menyediakan pembiayaan untuk pesawat komersial, maka suku bunga akan meningkat.

Opsi lainnya adalah dengan menggunakan bank komersial untuk pembiayaan uang muka dan dana deposit yang umumnya lebih rendah, namun suku bunga akan lebih tinggi sebab lembaga keuangan mengambil lebih banyak resiko, karena tidak ada penjamin yang didukung oleh pemerintah.

Masalah lain adalah menemukan bank yang bersedia membiayai pembelian pesawat. Bank-bank Eropa telah menjadi pemodal terbesar dalam industri penerbangan, tetapi krisis keuangan yang yang terjadi di Eropa membatasi langkah mereka masuk ke industri penerbangan yang sering bergejolak, bahkan beberapa di antaranya malah keluar sama sekali dari industri penerbangan. HSH Hordbank contohnya, bank ini telah tertutup untuk memberi pinjaman bisnis penerbangan mulai tahun 2011. AirAsia dan maskapai-maskapai lainnya telah mendorong bank-bank dari bagian dunia lain untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pemberi pinjaman dari Eropa.

CEO AirAsia (Malaysia) Aireen Omar berharap bank-bank Asia mau mengisi kekosongan ini, tapi hal ini dipertanyakan bisa dilakukan dalam waktu dekat. Aireen mengatakan bank-bank Asia relatif baru dalam hal pembiayaan pesawat, sementara bank-bank Eropa dan Amerika Serikat telah berpengalaman lebih dari 30 tahun. Namun, bank Asia lebih berpotensi untuk masuk ke industri penerbangan karena mereka ingin memiliki saham dalam pertumbuhan industri penerbangan Asia yang terus meningkat.

Pilihan lain yang bisa dilakukan maskapai penerbangan adalah menggunakan sistem sale-and-leaseback. Namun menurut Aireen, AirAsia memilih untuk tidak menggunakan sistem ini, meskipun cukup kompetitif dengan yang selama ini didapatkan AirAsia dari pinjaman bank.

Jika AirAsia mencoba menghindari lessor, Rusdi malah akan menjalankan bisnis sebagai perusahaan penyewaan pesawat (lessor. Rusdi telah mendirikan sebuah perusahaan leasing pesawat di Singapura dengan nama Aviation Partners, dipimpin oleh John Duffy, yang sebelumnya bekerja di Singapura untuk HSH Nordbank sebagai kepala bagian transportasi Asia.

Langkah Rusdi mendirikan Transportations Partners terbukti tepat waktu. Saat bank-bank Eropa telah menutup rapat dari bisnis penerbangan, berarti ada eksekutif-eksekutif berpengalaman yang bisa direkrut. Transportation Partners memiliki Valerie Tay sebagai senior vice president untuk bagian marketing dan finance. Sebelumnya dia bekerja sebagai vice president bagian aviation finance di HSH Nordbank. Perusahaan juga merekrut Chan Boonsiong sebagai chief risk officer. Dia sebelumnya bekerja dengan GE Capital Aviation Service (GECAS) di Singapura.

Tujuan didirikannya Transportation Partners adalah untuk menyewakan pesawat kepada Lion dan maskapai afiliasinya, serta maskapai lain di luar Lion Air group. Sumber perusahaan mengatakan bahwa Rusdi perlu menempatkan pesawat dengan operator lain karena Lion memiliki pesanan Boeing 737 yang terlalu banyak untuk diserap sendiri. Berdasarkan database Boeing, saat ini Lion memiliki pesanan belum dikirimkan yang terdiri dari 27 737-800, 180 737-900ER, 201 737-MAX, dan lima 787 Dreamliner. Dari total 413 pesawat yang dipesan kepada Boeing, telah dikirimkan ke Lion Air sebanyak 81 pesawat. Jumlah ini belum ditambah jika nantinya Lion jadi memesan 220 Airbus A320 NEO.

Memiliki beberapa aset di Singapura, di bawah naungan Transportation Partners, juga meminimalisir resiko karena Rusdi tidak lagi memiliki semua pesawatnya yang terikat di Indonesia. Selain itu ada juga manfaat pajak. Perusahaan penyewaan pesawat di Singapura dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif pajak melalui Aircraft Leasing Scheme (ALS) dengan tarif pajak 10 persen hingga 5 persen. Konsesi pajak ini tergantung dari dana perusahaan penyewaan pesawat yang dihabiskan di dalam negeri dan berapa banyak karyawan yang dimiliki di Singapura. Tarif pajak istimewa ini hanya berlaku untuk beberapa tahun, umumnyanya lima tahun.

 

Foto: Yulianus Liteni/PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

Be the first to comment

Leave a Reply