Kolaborasi Stakeholder Penerbangan Perlu Digalang Erat




Warna warni maskapai penerbangan Indonesia. Foto: RMS.

The Airport Collaborative Decision Making (A-CDM) Seminar and Third Meeting of The Asia/ Pacific A-CDM Task Force (APA-CDM/TF/3) berlangsung di Bali, 13-16 Agustus 2018 lalu. Seminar ini digelar dengan tujuan mempromosikan implementasi Airport Collaborative Decision Making di Kawasan Asia Pasifik untuk meningkatkan kolaborasi dalam berbagi informasi terkait penerbangan.

Seminat dibuka oleh  ICAO Regional Asia Pacific Officer, Shane Sumner dan dihadiri oleh Direktur Navigasi Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Elfi Amir, Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto, serta Direktur Operasi PT. Angkasa Pura 1 Wendo Asrul Rose. Acara juga dihadiri delegasi dari 12 negara, yaitu Indonesia, Bangladesh, China, India, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Timor Leste dan Vietnam. Selain delegasi negara-negara tersebut, turut hadir delegasi 4 organisasi internasional yaitu Civil Air Navigation Services Organization (CANSO), International Air Transport Association (IATA), International Civil Aviation Organization (ICAO) dan Societe Internationale de Telecommunications Aeronautiques (SITA)/penyedia jasa jaringan telekomunikasi penerbangan internasional. Acara juga dihadiri observer dari dalam dan luar negeri, perwakilan dari Direktorat Navigasi Penerbangan, Direktorat Bandar Udara, Direktorat Angkutan Udara, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU) Wilayah I-X serta perwakilan dari PT. Angkasa Pura I dan II dan AirNav Indonesia.

Dalam seminar itu, Elfi Amir, Direktur Navigasi Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara, menyampaikan perlunya kolaborasi antar stakeholder di penerbangan. Elfi mencotohkan kejadian di Pulau Lombok yang sempat dilanda bencana alam gempa bumi dan mengakibatkan hancurnya bangunan-bangunan hingga jatuhnya ratusan korban jiwa.

“Kejadian tersebut mengingatkan pentingnya kolaborasi antar stakeholder penerbangan dalam berbagi informasi untuk menjalankan operasi angkutan udara. Dengan kolaborasi yang baik, informasi yang akurat terkait keadaan run way, bandara, layanan navigasi dan sebagainya pasca gempa secara cepat dapat dihimpun. Sehingga secara cepat pula dapat disimpulkan penerbangan di daerah Lombok dan Bali tetap bisa diselenggarakan dengan selamat, aman, nyaman, efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Seiring dengan hal tersebut, Mr. Shane Sumner mengatakan hal serupa, bahwa berdasarkan data statistik ICAO pertumbuhan jalur udara di Asia Pasifik meningkat 6,7%. Sementara masih terdapat keterbatasan-keterbatasan dalam kapasitas, di antaranya keterbatasan pada infrastruktur maupun SDM. Untuk itu, guna mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan The Airport Collaborative Decision Making (A-CDM) untuk meningkatkan penyebaran informasi yang cepat dan akurat dalam setiap pengambilan keputusan yang terkait operasi penerbangan melalui kolaborasi seluruh stakeholder penerbangan.

Perlu diketahui bahwa APA-CDM/TF/3 yang diselenggarakan di Bali, Indonesia merupakan meeting ke-3 untuk wilayah Asia Pasific setelah yang pertama diselenggarakan pada bulan April 2017 di Kunming, China dan kedua pada akhir November 2017 di Hongkong, China.