KNKT Rekomendasikan Airbus untuk Perbaiki Kualitas Komponen



Hasil investigas Komite Nasional Keamanan Transportasi (KNKT) mengatakan bahwa salah satu penyebab kecelakaan penerbangan Indonesia AirAsia QZ8501 adalah kerusakan pada komponen. Memang kerusakan komponen tidak terkait dengan keamanan penerbangan, tapi penanganan yang tidak tepat telah membuat pesawat mengalami kecelakaan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo mengatakan bahwa pada bagian solderan komponen Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) pesawat Airbus A320 dengan registasi PK-AXC milik Indonesia AirAsia mengalami keretakan. “Dari ekor pesawat yang diangkat di dasar laut dan dibawa ke hanggar, ada satu komponen RTLU dan kita selidiki dan bawa ke Perancis, ada retakan di soldernya,” ungkap dia dalam konferensi pers di Kantor KNKT, Jakarta Pusat, Selasa (1/12/2015).

RTLU merupakan komponen yang berada di ekor pesawat dan menjadi bagian yang mengatur kemudi pesawat. Berdasarkan hasil analisa, keretakan pada RTLU terjadi karena seringnya mengalami perubahan suhu yang ekstrem. “Di mana di situ tidak ber-AC jadi ekstrem saat parkir di bandara panas. Tapi saat terbang di ketinggian jelajah itu dingin, bisa minus 50 derajat. Perubahan cuaca ekstrem yang kemungkinan menyebabkan kerusakan dari RLTU,” jelas Cahyo.

Menurut Cahyo, komponen RTLU memang harus ditempatkan di bagian ekor pesawat. Melihat penyebab keretakan akibat pesawat sering menghadapi suhu yang ekstrem, KNKT pun meminta produsen pesawat, dalam hal ini Airbus, untuk memperbaiki kualitas komponen. “Memang harus di ekor. Jadi ya memang kualitasnya yang perlu ditingkatkan Airbus sebagai pabrik pesawat,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang invetigator KNKT Oni mengatakan, kerusakan-kerusakan pada RTLU sudah menjadi isu yang cukup lama bagi Airbus. Sudah ada beberapa insiden terkait dengan RTLU dan Airbus terus melakukan berbagai perbaikan. “Pesawat Airbus sebenarnya sudah didesain dengan bagus. Pesawat sudah mendapat perbaikan terbaru dari Airbus. Jadi mereka ada penelitian dan mengeluarkan technical follow up (TFU). Pertama tahun 1993, 1996, dan 2000. Pesawat ini sudah update. Airbus menyadari mengalami hal yang sama maka mereka melakukan riset lagi tapi belum dirilis. Mereka sudah aware dan terbitkan TFU ketiga. Ini kaitannya dengan mechanical. Mereka secara prinsip melakukan perbaikan secara menyeluruh,” ujar dia.

Foto: Istimewa

Be the first to comment

Leave a Reply