Categories
Kisah sejarah

Kisah PD 1: Ada Panggung Hiburan di Medan Perang

Berbicara tentang perang dunia, seperti tak lepas dari pasukan yang berlindung di parit-parit kotor, tembakan arteleri kelas berat, serangan bunuh diri, bunyi desing peluru, bunyi bom, dan sejenisnya. Namun Rusia, kejadian itu rupanya juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial di antara para tentara. Ada sisi lain dari kehidupan para tentara yang dipenuhi kesenangan, perayaan, bahkan kebodohan.

Pada Perang Dunia I misalnya, yang paling diingat dalam pertempuran-pertempuran di perbatasan selama berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun. Tentara berjaga tepat di batas negaranya dengan negara lain. Hari-hari para tentara dipenuhi kebosanan, maka tidak heran mereka melakukan apa pun untuk mendapatkan hiburan. Pentas teater sangat populer di kalangan tentara Rusia. Terkadang mereka menampilkan aksi amatir sendiri, tapi suasana selalu heboh ketika artis terkenal mengunjungi mereka.

Seorang tentara Rusia dikabarkan sempat menuliskan surat mengenai kunjungan dari seorang balerina ternama Evgenia Lopukhova: “Para ‘Kesatria’ dari Kursk, Smolensk, Ryazan, dan tempat-tempat lain mengelilingi sang artis dan melihat bagaimana Madam Lopukhova berdansa. Penampilannya bagus. Hutan dan bukit melindungi kami dari musuh, dan kami bersenang-senang tanpa diketahui Jerman.”

Di sisi lain,para tentara juga dikabarkan sempat menerima hadiah tidak hanya dari keluarga mereka, namun juga dari berbagai kalangan seperti pemerintah kota, pebisnis, dan rakyat. Hiburan dan hadiah terbukti dapat  meningkatkan moral tentara. Seperti dituliskan wartawan koran Sovremennoye Slovo, para prajurit menerima hadiah ini sebagai simbol ikatan yang erat antara masyarakat dan tentara, bukti bahwa negara tak melupakan jasa mereka.

Sumber: Russian Beyond

Categories
Kisah sejarah

Piggyback Anson: Kecerobohan yang Dicatat Sejarah

Perang dunia rupanya meninggalkan banyak kisah unik, salah satunya kisah Piggyback Ansons. Kisah ini melibatkan dua pesawat latih Avro Anson dan dua pilot Angkatan Udara Australia.

Avro Anson merupakan pesawat latih tempur bermesin dua pada zaman Perang Dunia II. Angkatan Udara Australia menggunakannya juga sebagai pesawat latih tempur mereka.

Kisah Piggyback Ansons terjadi tanggal 29 September 1940. Ketika itu dua pesawat Anson Mk1 tengah melakukan latihan terbang pada zona terbang berdekatan. Langit di atas New South Wales cerah. Kedua pesawat memiliki tujuan terbang yang sama. Pesawat Anson pertama dikemudikan oleh Leonard Fuller. Ia tengah turun dari ketinggian ke level terbang lebih rendah. Tak sengaja, pesawat Fuller itu pun hinggap di atas Mk1 kedua yang dikemudikan oleh Jack Hew­son. Roda Anson Fuller menempel pada kedua sayap pesawat Hewson, dan perutnya menempel pada kokpit. Jack Hewson sendiri tengah terbang level menuju arah yang sama dengan Fuller.

Berada dalam konsisi bahaya, Hewson memutuskan untuk keluar dari jendela pesawat dan lompat menyelamatkan diri dengan parasutnya. Sebelumnya, ia mengencangkan kedua throttles (pedal gas pada mobil) dan mengikat yoke pada level jelajah menggunakan seat belt.

Sementara itu, Fuller tak bisa banyak berbuat. Sistem kemudi pesawatnya tak berfungsi. Pesawatnya dan pesawat Hewson masih mengudara karena dorongan kencang mesin pesawat Hewson, dan mesin kanan pesawat Fuller.

Perlahan dan pasti, pesawat semakin rendah. Ketika berada pada ketinggian 500 kaki, Fuller berharap dapat menguasai keadaan dan mendaratkan kedua pesawat, walau dalam kondisi crash. Harapannya menemui titik cerah. Kedua mesin pesawat Hewson tiba-tiba mati. Hewson pun rupanya sempat mengeluarkan roda pesawatnya. Sesaat setelah mesin pesawat Hewson mati, Fuller pun serentak mengurangi laju mesin pesawatnya dan berhasil mendaratkan kedua pesawat. Sayangnya, pesawat Hewson rusak parah dan harus dibuang. Sementara itu Anson yang dikemudikan Fuller berhasil diperbaiki dan terbang memperkuat Angkatan Udara Australia selama tujuh tahun setelah kejadian.

Foto: Australian War Memorial

Categories
Kisah sejarah

The Gimli Glider: Mendarat Darurat di Arena Drag Race

Pilot pesawat B767-200 Air Canada Flight 143 yang terbang pada 23 Juli 1983 tak pernah menyangka mendengar alarm bahaya pada kokpit mereka. Suara itu tak pernah mereka dengar sebelumnya, termasuk ketika dalam serangkaian latihan emergensi. Rupanya, suara alarm itu mengindikasikan bahwa kedua mesin pesawat yang mereka terbangkan itu kehabisan bahan bakar. Sebuah kondisi yang sangat tidak masuk akal terhadap sebuah pesawat terbaik saat itu, Boeing 767-200, yang terbang dari Montreal ke Edmonton, Kanada.

Para pakar atau awam mungkin tak habis pikir, bagaimana mungkin sebuah pesawat keluaran Boeing bisa kehabisan bahan bakar di udara. B767-200 tentu memiliki indikator bahan bakar yang canggih. Sistem pun juga tentunya sudah menghitung berapa bahan bakar yang dibutuhkan selama penerbangan sejak tinggal landas hingga mendarat.

Rupanya, hasil penyelidikan menemukan fakta sederhana sebagai penyebab 767-200 itu kehabisan bahan bakar di udara. Ketika mengisi ulang bahan bakar di Montreal, telah terjadi kesalahan jumlah bahan bakar yang dimasukkan ke dalam tangki pesawat. Bahan bakar yang masuk ke dalam pesawat dihitung berdasar skala metric (liter) sementara crew mengasumsikannya dalam skala gallon. Akibatnya, pesawat pun kehabisan bahan bakar di udara.

Untungnya Captain Robert Pearsonn yang menerbangkan pesawat juga seorang penerbang pesawat glider, pesawat terbang layang tanpa mesin. Seketika, ia pun menghitung kemampuan glide 767-nya, sambil berharap dapat memutar dan mendarat di lapangan terbang Winnipeg, yang menurut pehitungannya masih dalam jangkauan.

Di sisi lain, kopilot pesawat, 1st officer Maurice Quintal, tadinya berdinas di Angkatan Udara Kanada dan ditempatkan di pangkalan udara Gimli. Dari posisi pesawat, Gimli lebih dekat dibandingkan Winnipeg. Quintal pun mengusulkan Gimli sebagai pilihan. Sayangnya, Quintal tidak tahu bahwa Gimli telah berubah menjadi Gimli Industrial Park Airport, yang salah satu runway-nya telah diubah sebagai arena balap mobil drag. Peristiwa ini pun kemudian dikenal sebagai The Gimli Glider.

Foto: Wayne Glowacki / Winnipeg Free Press

Categories
Kisah sejarah

Kisah PD 2: Pemboman Leningrad, 650.000 Orang Tewas

Sembilanbelas September 1941, Pasukan Jerman mengebom sistem pertahanan udara di Leningrad (sekarang St. Perterburg) sebagai bagian dari upaya menguasai wilayah Uni Soviet. Serangan itu membunuh lebih dari 1.000 orang pasukan Rusia.

Tentara Jerman sendiri telah hadir di wilayah Uni Soviet sejak Juni 1941. Namun upaya untuk menyerang Leningrad menggunakan pasukan panzer gagal. Pimpinan tertinggi Jerman saat itu, Adolf Hitler, ingin memusnahkan Leningrad dan menyerahkannya kepada sekutunya, Finlandia, yang saat itu sedang menyerang Rusia dari sisi utara.

Kegagalan serangan pasukan panzer Jerman dipicu oleh kuatnya sistem pertahanan antitank di Leningrad, dan membuat laju pasukan Jerman tertahan. Pasukan Jerman mengepung Leningrad untuk mengisolasi kota itu dari wilayah Rusia.

The Fuhrer (Hitler) telah memutuskan untuk menghapuskan Leningrad dari muka bumi. Serangan udara yang terjadi tanggal 19 September 1941 sangat brutal.

Tertahannya pasukan darat Jerman dan penarikan pasukan panzer saat menyerang Leningrad tak menyurutkan niat Luftwaffee (angkatan udara Jerman) untuk menyerang kota itu. Sebagian pasukan Rusia bahkan sipil yang terbunuh tengah dalam pemulihan akibat luka perang. Pasukan udara Jerman menyerang apa saja yang ada di permukaan kota, termasuk rumah sakit.

Pengepungan terhadap Leningrad berlangsung 872 hari, dan terbukti berhasil melumpuhkan kota. Selama 1942 saja, lebih dari 650.000 warga Leningrad tewas akibat kelaparan, penyakit, dan serangan arteleri Jerman yang ditembakkan dari luar kota.