Kerja Bersama Demi Mencapai Kelas Dunia




Warna warni maskapai penerbangan Indonesia. Foto: RMS.

Dibukanya kembali larangan terbang oleh Uni Eropa terhadap maskapai penerbangan Indonesia diharapkan dapat membuka pertumbuhan pasar international Indonesia baik itu bisnis penerbangan dan wisata maupun bisnis-bisnis yang lain yang terkait.  Hal tersebut karena penerbangan mempunyai  turunan multiplier effect yang luar biasa karena penerbangan merupakan suatu moda transportasi yang paling aksesibel dan bisa langsung menjangkau networking ke seluruh dunia. Hal ini disampaikan Dirjen Perhubungan Udara, Agus Santoso, dalam diskusi panel dengan tema ” Indonesia Aviation to the world” di Markplus Conference ke 12 di Jakarta, Kamis 7 Desember 2017.

Selain pekembangan positif pada penerbangan internasional, di tingkat nasional, diperkirakan pertumbuhan industri penerbangan nasional juga akan memberi dampat positif terhadap pertumbuhan perkonomian nasional. Hal ini ditandai dengan sejalannya rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional per tahun sebesar 5,06 persen ( periode tahun 2015 – 2017) dengan  pertumbuhan penumpang transportasi udara yang mencapai 12,45 persen per tahun. Sementara itu rata rata kenaikan tingkat ketepatan waktu keberangkatan pesawat (on time performance/ OTP) tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 sebesar 1,74%, sementara rata rata pertumbuhan seat capacity sebesar 5,98 persen dan rata rata gap antara supply & demand pertahun sejak 2015 s.d 2017  sebesar 36,81%.

Yang juga membanggakan adalah saat ini Indonesia berada dalam jajaran elite dunia dalam bidang keselamatan penerbangan setelah 10 tahun terpuruk pada tingkat yang lebih rendah dari rata-rata standar penerbangan negara-negara lain di dunia. Kini nilai efektivitas implementasi pemenuhan keselamatan penerbangan  Indonesia yang mencapai 81,15%, berada  jauh di atas rata-rata dunia yang berada di tataran 62%, dan jauh dari persyaratan ICAO Global Aviatiin Safety Plan 60%. Nilai Indonesia 81, 15% tersebut didapat  dari hasil On Site Visit ICAO Coordinated Validation Mission (ICVM) pada audit keselamatan penerbangan Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) yang dilakukan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) pada Oktober 2017 lalu.

“Dampak dari kondisi keselamatan penerbangan Indonesia yang masuk elite dunia itu besar sekali. Hal tersebut menjadikan penerbangan Indonesia mendapat apresiasi dan menghadirkan trust atau kepercayaan dari dunia internasional bahwa Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub selaku Regulator penerbangan Indonesia mampu mengawasi dan mengelola penerbangannya dengan baik,” ujar Agus Santoso.

Untuk membawa penerbangan Indonesia ke tingkat dunia, tambahnya, diperlukan kerja bersama secara lebih erat, harmonis dan terus menerus antara penyelenggara penerbangan (stakeholder) yaitu  regulator, operator dan masyarakat.

“Kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Harus ada kerjasama yang baik antara pengelola bandara, maskapai penerbangan, pengelola navigasi penerbangan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang di Navigate oleh jajaran Ditjen Perhubungan Udara sebagai Regulatory Leader serta masyarakat tentunya. Untuk itu saya meminta komitmen dari para stakeholder tersebut ikut menjaga dan meningkatkan keselamatan penerbangan pada level yang tinggi seperti saat ini sehingga bisa membawa penerbangan Indonesia terbang tinggi ke tingkat dunia,” ujar Agus.