Kemenhub Ragu Pondok Cabe Bisa Beroperasi Komersial Pada 2016



Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Suprasetyo (kanan) didampingi Direktur Operasional Lion Air Daniel Putut (kiri) memberikan keterangan pers terkait kasus penundaaan penerbangan (delay) maskapai tersebut di Kantor Kemenhub, Jakarta, Senin (23/2). Kemenhub memberikan dua sanksi kepada maskapai Lion Air yakni pembekuan sementara pengajuan izin rute baru serta pembekuan izin terbang bagi rute yang selama 21 hari tidak diterbangkan Lion Air misalnya rute Ujung Pandang-Jayapura. ANTARA FOTO/Andika Wahyu/ama/15.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Suprasetyo mengaku ragu Bandara Pondok Cabe yang berada di Tangerang Selatan bisa beroperasi mulus sebagai bandara komersial pada tahun 2016. Bahkan Suprasetyo menilai peluang beroperasinya Bandara Pondok Cabe sebagai bandara komersial baru sekitar 70 persen.

Seperti diketahui, Garuda Indonesia bekerjasama dengan Pertamina selaku pemilik Bandara Pondok Cabe untuk mengoperasikan penerbangan komersial dari bandara tersebut. Rencananya Garuda Indonesia akan mengoperasikan pesawat ATR 72-600 di Bandara Pondok Cabe mulai Maret 2016 dengan melayani penerbangan jarak pendek ke sejumlah kota Jawa, Sumatera, dan Kalimatan.

Menurut Suprasetyo, pengoperasian Bandara Pondok Cabe menjadi bandara komersial tidaklah efisien, namun Kementerian Perhubungan masih akan mengkajinya terlebih dahulu. “Kalau (menurut) saya, peluangnya 70 persen. Tidak bisa (Bandara Pondok Cabe jadi bandara komersial), tidak efisien. Saya sampaikan (pada perwakilan Pertamina dan Garuda Indonesia) ajukan saja (permohonan) kepada Menteri Perhubungan (Ignasius Jonan) nanti kita evaluasi. Jadi perjalanannya masih jauh,” ujar Suprasetyo.

Suprasetyo menjelaskan, ada tiga hal yang harus dipenuhi oleh operator bandara sebelum menjadikan Bandara Pondok Cabe sebagai bandara komersial. Pertama, operator harus memenuhi standar keselamatan dan keamanan bandara dan penerbangan. Untuk itu, operator harus melakukan berbagai pembenahan seperti pembangunan terminal penumpang.

Kedua, Suprasetyo mempertanyakan efisiensi wilayah udara dari operasional bandara tersebut mengingat landasan pacu Bandara Pondok Cabe tegak lurus dengan landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma. “Jadi kalau (pesawat terbang) mau take off (dari Bandara Pondok Cabe) menunggu Halim di-stop dulu baru takeoff,” ujarnya.

Terakhir, kata Suprasetyo, operator juga harus memperhatikan karakteristik peralatan navigasi pesawat udara yang sensitif terhadap guncangan. Selain itu, ruas jalan di Pondok Cabe tergolong padat sehingga operator harus membuat rencana pengalihan ruas jalan.

Foto: Istimewa

Be the first to comment

Leave a Reply