Kampung Arab Surabaya



“Jati diri budaya adalah harta sebuah bangsa yang diwariskan kepada keturunannya.”

Menjadi kota terbesar kedua di Indonesia, setelah Jakarta, membuat Surabaya banyak dihuni oleh berbagai macam masyarakat yang berasal dari beragam budaya. Sebagai kota pesisir menjadi daya tarik bagi pedagang-pedagang di masa awal terbentuknya kota Surabaya.

Etnis pendatang dari negeri Cina dan Arab hidup berdampingan dengan pendatang dari negara Eropa. Pembagian daerahnya yang dapat diperhatikan dengan bentuk bangunan tempat tinggal masing-masing. Kekhasan ini masih dapat disaksikan hingga saat ini, meskipun memang beberapa tidak terawat.

Kampung Arab, yang ada disekitaran jalan Kyai Haji Mas Mansur, di daerah Surabaya Utara, adalah salah satu kampung tua yang masih eksis di tengah perubahan kota Surabaya. Perkenalan saya dengan kampung ini terjadi sewaktu saya mengikuti sebuah komunitas pejalan kaki yang sedang menghabiskan waktu menjelang buka puasa dengan mengelilingi kampung Arab ini. Kampung ini ternyata terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya sejak kecil hingga lulus kuliah.

Arsitektur khas timur tengah dengan ornamen-ornamennya menjadi penghias hampir semua bangunan di tempat ini. Selain menjadi tempat tinggal, kebanyakan berfungsi sebagai toko kitab/buku agama, beberapa dipakai sebagai toko parfum khas timur tengah. Di tengah-tengah kampung Arab, ada sebuah komplek wisata religius Islam, di sini terletak makam Sunan Ampel. Suasana bulan puasa sangat terasa di kompleks ini, pengunjungnya membeludak dengan semakin dekatnya waktu ke saat-saat berbuka puasa.

Perjalanan menuju kompleks makam dimulai dari ujung gang Ampel, sebuah gang panjang, di kanan kirinya berjajar pedagang-pedagang peralatan ibadah seperti kopiah, sajadah, tasbih, dan lain-lain. Pedagang makanan khas kurma yang berasal dari beberapa negara, makanan-makanan khas timur tengah dapat dengan mudah dijumpai. Masjid Ampel nampak penuh dengan peziarah yang melepaskan lelah maupun yang khusuk melakukan sholatnya.

Matahari sore yang makin menguning mengingatkan saya untuk segera menuju ke salah satu pasar tua yang ada di kota ini. Hanya dibutuhkan waktu tidak sampai 10 menit berjalan kaki dan tibalah saya di pasar Pabean. Pasar yang sewaktu kecil selalu saya hindari karena bau dan tanah lumpur beceknya. Sore hari adalah waktu tepat untuk menyaksikan keriuhan transaksi jual beli ikan segar, sebuah atraksi menarik yang mampu membuat saya berlama-lama di sini, tidak seperti sewaktu saya kecil dulu.

Hari yang mulai kehilangan sinar matahari pun mengingatkan saya untuk mulai berjalan ke parkiran, tetapi ternyata kampung Arab masih menyisakan satu suguhannya. Sebuah gang tepat sebelum parkiran motor sedang mengadakan sebuah bazar muslimah. Bazar yang pengunjungnya dibatasi hanya untuk muslimah, pengunjung pria tidak diijinkan masuk. Beruntung seorang panitia mengijinkan saya masuk sebentar untuk mengambil beberapa foto bazar ini. Bazar ini lebih banyak menyuguhkan makanan-makanan yang dibuat sendiri oleh pesertanya yang kebanyakan adalah warga sekitar yang saling mengenal satu sama lain.

Beberapa lembar rupiah pun berganti menjadi beberapa kue-kue yang menarik perhatian saya. Petualangan kampung Arab pun saya akhiri sambil menikmati suasana berbuka puasa di tempat berbagai macam budaya bertemu dan hidup berdampingan sambil tetap mempertahankan keasliannya.

Photo & Text: Yulianus Liteni