Jalan-Jalan Singkat di Bumi Garis Khatulistiwa



Sebagai negara dengan iklim tropis, beberapa wilayah Indonesia dilalui oleh garis khatulistiwa. Salah satunya kota Pontianak di Kalimantan Barat. Kota yang didiami oleh 3 etnis berbeda dan hidup rukun berdampingan yaitu etnis Cina, Melayu dan Dayak ini ternyata menawarkan banyak tempat-tempat untuk dikunjungi.

Pagi hari yang dingin masih menyelimuti udara kota Jakarta pada pertengahan bulan Maret 2013 saat taksi yang saya tumpangi mulai melesat cepat membelah ibukota yang masih terlelap itu. Dalam gelap pagi hari, terlihat samar-samar cuaca yang sebentar lagi akan saya arungi. Cuaca berawan, sedikit hazy dan dikonfirmasi dengan data akurat yang saya dapatkan melalui sebuah website yang menyediakan informasi cuaca penerbangan pagi itu.

Hari itu menjadi hari yang santai bagi saya, cuti baru saja dimulai beberapa hari lalu. Kali ini perjalanan saya akan dimulai menuju kota Pontianak di Kalimantan Barat. Ini adalah kali keduanya saya datang ke kota yang didiami oleh 3 etnis berbeda dan hidup rukun berdampingan yaitu etnis Cina, Melayu dan Dayak.

Tiba di bandara Soekarno-Hatta, dari ruang tunggu terminal 1B saya dapat menyakskan cahaya matahari yang sudah menerangi badan pesawat yang parkir dengan indahnya di apron bandara. Pesawat-pesawat yang akan siap menunaikan tugasnya menerbangkan manusia dengan berbagai tujuan dan kepentinganya.

Tepat pukul 6 pagi, pesawat Boeing 737-500 dengan winglet yang terpasang di ujung sayapnya mulai bergerak meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, saya sudah tak memperdulikan lagi kicauan para penumpang yang saling bicara di dalam pesawat yang masih bernuansa Continental Airlines ini, kantuk sudah tak dapat diajak berkompromi lagi.

Tak terasa, hampir 1 jam 30 menit berlalu, pesawat mulai meninggalkan ketinggian jelajahnya, hutan khas kalimantan dan sungai besar yang berkelok-kelok mulai nampak di bawah sana, asap yang biasanya memenuhi langit Pontianak dan sekitarnya tidak terlihat di pagi hari yang cerah itu, jarak pandang cukup baik untuk pendaratan di bandara Supadio.

Ada beberapa titik di Pontianak yang akan menjadi perhatian saya. Sayang sekali, saya tidak mempunyai waktu yang cukup banyak untuk menjelajahi kota yang tepat dilintasi garis khatulistiwa ini. Saat saya turun dari pesawat, saya sudah disuguhi oleh pembangunan terminal baru bandara Supadio, yang tentunya pembangunan ini juga diharapkan meningkatkan infrastruktur teknis bandara Supadio yang terkenal rawan karena seringnya insiden pesawat tergelincir dalam beberapa bulan terakhir.

Panas terik mulai menusuk badan, padahal hari belum tepat siang hari. Dalam perjalanan menuju pusat kota saya mulai mempersiapkan segala sesuatu nya untuk memulai keperluan pribadi dan kemudian bersiap hunting kuliner khas Pontianak di pusat kota.

Istana Kadriah, Kampung Beting

Cukup lama saya menantikan momen untuk memotret di tempat ini. Pada kunjungan saya sebelumnya di kota Pontianak, saya tidak jadi memotret di tempat yang menjadi salah satu objek pariwisata kota Pontianak ini. Ironisnya justru informasi yang saya dapatkan dari warga, bahwa kampung Beting ini memiliki citra yang agak negatif.

Saya diwanti-wanti untuk ekstra hati-hati saat melakukan pemotretan di kawasan Beting ini, apalagi saya adalah pendatang baru dan berasal dari luar Kalimantan. Saya terima dan jadikan informasi tersebut menjadi sebuah catatan khusus dalam perjalanan ini.

Memasuki kawasan Kampung Beting yang sekaligus menjadi pintu masuk untuk menuju kawasan Istana Kadriah, saya menyaksikan pemandangan dan gambaran suasana tradisonal Kalimantan Barat. Rumah Panggung dengan warganya yang didomonasi oleh ras Melayu dan Dayak. Tidak ada informasi yang bisa djadikan tuntunan bagi pengunjung yang ingin berwisata disini. Suasana yang dihadirkan di kawasan Beting ini pun masih amat jauh dari suasana tempat pariwisata. Makin kedalam memasuki kawasan Kampung Beting ini, hanya lingkungan padat penduduk yang cenderung kumuh yang dapat disaksikan.

Informasi dari warga lokal bahwa kawasan Beting ini memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi dan terkenal sebagai kawasan keras makin kental menempel di benak. Membuat saya yang baru pertama kali datang ke tempat ini meningkatkan tingkat kewaspadaan. Saya tetap berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan ini sebaik mungkin.

Sesampainya saya di Istana Kadriah, saya hanya bisa menyaksikan sebuah bangunan cagar budaya yang sudah tak terurus. Kayu belian (ulin) yang menjadi bahan utama dalam istana ini terlihat usang dan tak terawat. Pengunjung yang datang pun bisa dihitung dengan hitungan jari. Disana-sini hanya ada pemandangan kumuh yang masih banyak harus dirapikan.

Istana Kadriah merupakan cikal bakal kota Pontianak. Istana ini dibangun oleh Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie pada tahun 1771 M dan baru selesai pada tahun 1778 M. Saya amat tertarik dengan bangunan yang sudah sangat tua ini. Bangunan ini masih terlihat sangat orisinil, sangat disayangkan jika bangunan ini harus hancur termakan usia jika tidak ditangani dengan baik.

Tak jauh dari Istana Kadriah ini, berdiri dengan megahnya sebuah masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Masjid yang juga dibangun pada tahun 1770 ini cukup banyak menyita perhatian saya. Saya amat kagum dengan kemegahan masjid ini yang bangunan nya di dominasi oleh kayu belian (ulin) dengan bentuknya khas.

Sayang, awan mendung membuat saya harus bergegas menyudahi petualangan kawasan Istana dan masjid yang terletak tepat di pinggir sungai Kapuas ini. Saya pun meninggalkan kawasan ini dengan guyuran hujan yang cukup lebat untuk kemudian melanjutkan jalan-jalan singkat saya di kota Pontianak sebelum akhirnya kembali ke kota Metropolitan, Jakarta raya.

Photo & Text: Himanda Amrullah