Inilah Kronologi Insiden Penamparan Petugas Avsec oleh Calon Penumpang



Agus Santoso, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI. Foto: RMS.

Insiden penmparan petugas avsec (aviation security) Bandara Sam Ratulangi berbuntut panjang. Peristiwa itu kini tengah menjalani proses hukum di kepolisian.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso, pun bereaksi. Ia menyatakan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara selaku regulator penerbangan nasional akan melindungi setiap petugas penerbangan nasional yang sedang bertugas. Tugas mereka dilindungi oleh Undang-Undang no. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan dan undang-undang lain seperti misalnya Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Jadi bagi siapa saja yang mengganggu para petugas penerbangan yang sedang melaksanakan tugasnya, Ditjen Perhubungan Udara tidak akan segan-segan mengambil langkah hukum bagi yang bersangkutan.

“Hal (penamparan) tersebut merupakan pelecehan terhadap semua petugas penerbangan, bukan hanya pada petugas avsec tersebut. Karena para petugas penerbangan, termasuk avsec, bekerja berdasarkan standar prosedur operasi yang baku dan dilindungi oleh Undang-Undang,” ujar Agus. Terkait kejadian di Manado, Agus menjelaskan, kejadian tersebut terekam oleh kamera CCTV bandara sehingga mudah untuk diketahui kejadiannya. Karena penamparan termasuk kasus pidana, Agus menyatakan saat ini pihaknya sudah melaporkan hal tersebut ke petugas hukum yang berwajib. Kepala Kesatuan Pelaksana Pengawasan Pelabuhan Udara ( KP3U) Bandara Sam Ratulangi sedang membuatkan laporan untuk selanjutnya di BAP. Sedangkan petugas avsec yang terkait telah menjalani visum.

Belajar dari kejadian tersebut, Agus Santoso mengharapkan agar para petugas penerbangan tidak surut dan takut dalam menjalankan tugasnya. Melalui keterangan tertulis, Agus Santoso juga memaparkan tentang kronologi insiden penamparan itu. Berikut kronologi yang disampaikannya:

  • Kurang lebih Jam 07.46 WITA, datang dua orang penumpang yang terdiri dari ibu dan anak melalui pemeriksaan WTMD SCP 2.
  • Pada saat melalui WTMD, alarm WTMD berbunyi. Personil body search saudari Amelia Magriang meminta ibu tersebut kembali untuk melepas jam tangan dan dilakukan pemeriksaan dgn mesin X-Ray.
  • Pada saat melepas jam tangan miliknya, ibu tersebut mengeluarkan kata, “dibuang saja jam tangannya!”. Selanjutnya ibu tersebut masuk melalui WTMD dan alarm tidak berbunyi.
  • Pada saat mengambil barang-barang miliknya di mesin X-Ray, ibu tersebut memukul lengan kanan petugas body search saudari Amelia Magriang.
  • Melihat saudari Amelia Magriang dipukul, spontan saudari Jeny Wehantow menanyakan kepada ibu tersebut mengapa memukul petugas.
  • Ibu tsb berargumentasi dengan saudari Jeny Wehantow menyatakan,” Saya ini bos-mu. Kamu lihat nanti!” Sambil berargumentasi ibu tsb menampar saudari Jeny Wehantow.
  • Pada jam 07.50 WITA, Team Leader melaporkan kejadian tsb ke Section Head, dan Section Head melaporkan ke Airport Security and Safty Departement Head.
  • Pada, jam 08.00 WITA, sesuai arahan dari SH dan ASSDH, Team Leader saudara Sapta Saputra berkoordinasi dengan pihak Batik Air untuk membatalkan keberangkatan ibu tersebut guna proses lanjut di kepolisian.
  • Pada jam 08.15 WITA, permasalahan ditindak lanjuti pihak Polsek Bandara. Koordinasi dengan pihak polsek, pihak polsek sudah menawarkan mediasi namun yang bersangkutan menolak.

Be the first to comment

Leave a Reply