Ini Lima Faktor yang Berkontribusi pada Kecelakaan QZ8501



Pada hari ini, Selasa (1/12/2015), Komite Nasional Keamanan Transportasi (KNKT) telah mengumumkan hasil investigasi kecelakaan penerbangan Indonesia AirAsia QZ8501 yang terjadi pada 28 Desember 2014. Seperti apa hasil penyelidikan dari KNKT itu?

Menurut KNKT penyebab kecelakaan lebih disebabkan oleh adanya gangguan pada pesawat. “Investigasi terhadap catatan perawatan pesawat dalam 12 bulan terakhir menemukan adanya 23 kali gangguan yang terkait dengan sistem Rudder Travel Limiter (RTL) di tahun 2014. Selang waktu antara kejadian menjadi lebih pendek dalam tiga bulan terakhir. Hal itu diawali retakan solder pada electronic module di Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) yang lokasinya berada pada vertical stabilizer,” ungkap KNKT dalam siaran persnya.

Selain itu, KNKT juga mengungkap sistem perawatan pesawat belum memanfaatkan Post Flight Report (PFR) dengan optimal. “Sistem perawatan pesawat yang ada saat ini belum memanfaatkan Post Flight Report (PFR) secara optimal, sehingga gangguan pada Rudder Travel Limiter (RTL) yang berulang, tidak terselesaikan secara tuntas,” jelas KNKT.

Secara pokok, KNKT menemukan lima faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan penerbangan QZ8501. Pertama, retakan solder pada electronic module di Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) menyebabkan hubungan yang berselang dan berakibat pada permasalahan yang berkelanjutan dan berulang. Kedua, Sistem perawatan pesawat dan analisa di perusahaan belum optimal, mengakibatkan tidak terselesaikannya masalah yang berulang. Kejadian yang sama terjadi sebanyak empat kali dalam penerbangan.

Faktor ketiga yang berkontribusi dalam kecelakaan adalah awak pesawat sudah melakukan prosedur sesuai Electronic Centralized Aircraft Monitoring (ECAM) pada tiga gangguan pertama. Namun, pada gangguan keempat Flight Data Recorder (FDR) mencatat perlakuan berbeda dilakukan oleh awak pesawat. Indikasinya serupa seperti Circuit Breaker (CB) di-reset sehingga terjadi pemutusan arus listrik pada Flight Augmentation Computer (FAC).

Keempat, terputusnya arus listrik pada FAC membuat auto-pilot tidak aktif, sehingga Flight Control Logic berubah dari Normal Law ke Alternate Law. Rudder kemudian bergerak 2 inch ke kiri yang berakibat pesawat berguling (roll) dengan sudut mencapai 54 derajat. Terakhir, pengendalian pesawat yang dilakukan secara manual pada Alternate Law oleh awak pesawat membuat pesawat dalam kondisi upset dan stall secara berkepanjangan sehingga berada di luar batas-batas penerbangan (flight envelope) yang dapat dikendalikan oleh awak pesawat.

Berdasarkan hasil investigasi ini, KNKT memberikan rekomendasi kepada Indonesia AirAsia, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Airbus, Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat, dan European Aviation Safety Administration (EASA). Indonesia AirAsia sendiri telah melakukan 51 tindakan perbaikan sebagai upaya untuk memperbaiki keadaan yang ada.

Foto: Istimewa

Be the first to comment

Leave a Reply