Ini Langkah Ditjen Perhubungan Udara Kurangi Emisi Karbon



Kepala Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara, Yusfandri Gona mengatakan, ada beberapa langkah yang dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dari penerbangan di Indonesia.

“Jadi tidak ada penambahan karbon di udara dengan bermacam-macam aksi yang dilakukan, seperti pesawat yang relatif baru dengan teknologi yang baru. Kemudian juga operational efficiency. Kemudian ada alternative fuel, jadi bahan bakar yang berbasis bio, kemudian menggantikan bahan bakar konvensional,” ujar Yusfandri di sela-sela kegiatan ICAO Regional Seminar on States’ Action Plans and Carbon Off Setting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) di Hotel Mandari Oriental, Jakarta, Senin (10/4).

Yusfandri menambahkan, perencanaan untuk pencampuran bahan bakar itu sebesar 2 persen di tahun 2016, kemudian 3 persen di tahun 2020 dan 5 persen di 2025. “Sekarang masih dalam tahap research and development. Jadi belum ada yang kita gunakan secara voluntary maupun komersial. Namun di negara lain sudah dimulai secara voluntary,” tambahnya.

Menurut Yusfandri, terdapat juga kegiatan-kegiatan mitigasi lain yang dapat mengakibatkan terjadinya reduksi terhadap karbon.

“Oleh karena itu, sekarang kegiatan-kegiatan mitigasi lain yang perlu dilakukan oleh maskapai, sehingga manakala di tahun 2021 itu diberlakukan carbon offsetting ini, maka maskapai kita sudah bisa kompetitif dengan maskapai penerbangan internasional lainnya. Itu sasaran kita,” terangnya.

Karena carbon offsetting ini, menurut Yusfandri, carbon saving harus dibeli atau diganti dengan kegiatan-kegiatan yang dapat mereduksi karbon. “Kalau kita bisa gunakan carbon saving yang ada di Indonesia, itu harganya mungkin lebih murah dan lebih berbasis local content, dibandingkan jika kita harus membeli carbon saving dari luar negeri,” jelas Yusfandri.

Disinggung bahan dasar untuk bahan bakar berbasis biofuel, Yusfandri menyebut ada berbagai macam bahan dasar yang dapat digunakan. “Pada dasarnya Indonesia ini sangat kaya, terutama dengan biomass. Apakah itu dari sisa panen padi, panen sawit, sisa dari kegiatan penebangan pohon yang industri, kemudian kita juga punya pump oil, minyak kelapa, minyak kemiri, macam-macam. Cuma sekarang kita harus mencari teknologi yang tepat,” tutup Yusfandri.

Foto: Fikri Izzudin Noor / IndoAviation.co.id

Be the first to comment

Leave a Reply