Ingat Kansay Eh Kansai




Assalamualaikum semua…

Badai taifun merusakkan infastruktur Bandara Internasional Kansai di Osaka, Jepang. Seluruh penerbangan tidak bisa mendarat di sana sejak 4 September 2018, termasuk penerbangan Garuda Indonesia.

Kerusakan bandara yang berdiri di atas reklamasi laut itu jarang terjadi. Bahkan waktu terjadi gempa Kobe yang dahsyat dengan pusatnya di 20km dari Kansai tahun 1995, konstruksinya tetap kokoh. Begitu pula waktu badai topan dengan kecepatan angin 200 km per jam tahun1998, bandara tetap kokoh. Konstruksi dengan rekayasa gempa yang sebagian besar menggunakan sendi geser menyelamatkanya.

Namun setiap waktu ada penurunan tanah reklamasi. Awalnya pulau ini memiliki tingkat tenggelam 50cm, yang berangsur-angsur berkurang menjadi hanya 7cm tahun 2008. Setelah masalah tenggelam dianggap selesai, pengembangan bandara dikembangkan, seperti dibangunnya landasan kedua dan terminal baru, juga landasan ketiga. Rupanya masalah tenggelam ini yang menyebabkan Kansai harus tutup operasi selama beberapa waktu.

Pembangunannya menghabiskan dana sangat besar; 1,5 triliun yen atau 15 miliar dollar AS atau Rp32triliun, bahkan investasinya kemudian bertambah lagi 5 miliar dollar AS. Dana ini menjadikan bandara memilki utang yang besar. Biaya pemeliharaannya pun sangat mahal.

Kansai merupakan bandara yang melekat dalam ingatan saya. Pada Oktober 1992, saya pernah menulis di majalah Angkasa tentang garbarata buatan Bukaka. Produk putra-pitri bangsa Indonesia ini melengkapi bandara fenomenal dunia pada waktu itu. Saya sedikit malu karena menulisnya “Kansay” padahal yang benar adalah “Kansai”. Judulnya pula!

Angan-angan saya pada tahun 1992 itu menjadi kenyataan ketika kaki menginjak bandara yang dibangun di atas pulau buatan di Teluk Osaka itu pada pertengahan Mei 2012. Pengalaman ini saya tuliskan pula di Angkasa edisi September 2012.

Turun dari pesawat Airbus A330-300 AirAsia X, saya menelusuri garbarata. Apakah ini buatan Bukaka, yang pernah saya tulis dari narasumber Rahmat Ismail? Sebelumnya, dari jendela pesawat sempat pula saya perhatikan lengkungan atap terminal bandara. Bentuknya seperti airfoil, yang difungsikan untuk meningkatkan sirkulasi udara.

Kansai memiliki sistem pergerakan orang yang canggih, Wing Shuttle. Dengan menaiki sarana untuk memindahkan orang dari ujung gate ke ruang lain itu, saya tiba di area CIQ (custom, imigration, quarantine).

Ada wacana pula untuk membangun Bandara Soekarno-Hatta 2 di kawasan utara, dengan reklamasi total seperti Kansai atau reklamasi sebagian. Bukankah itu sangat mahal dan penuh risiko? “Teknologi kan makin canggih. Soal biaya, bisa diupayakan,” jawabnya.




Be the first to comment

Leave a Reply