Indonesia Jadi Incaran Produsen Helikopter



Joy flight Bell 429 di Jakarta. Foto: Reni Rohmawati.

Geografis wilayah Indonesia yang berupa kepulauan dengan belasan ribu pulau menjadi incaran para produsen helikopter dunia. Populasi helikopter di Indonesia pun dianggap tumbuh dengan signifikan, sehingga pasarnya cukup menjanjikan. Tak heran jika produsen helikopter, baik untuk kebutuhan penerbangan sipil maupun militer, berdatangan berkesinambungan. Salah satunya adalah produsen Bell Helicopter, yang kali ini menawarkan Bell 429 dengan mendatangkannya ke Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (25/9/2017).

“Populasi helikopter di Indonesia memang bertumbuh dan menjadi pasar potensial. Bell 429 ini terbang ke Halim, spesial hanya ke sini, kemudian akan kembali lagi ke fasilitasnya di Singapura,” ujar Leigh-Ann Subuh, Business Development Manager Bell Helicopter Asia (Pte) Ltd.

Helikopter Bell 429 gencar dipromosikan di Singapore Airshow sejak tahun 2010. Pada 3 Desember 2012, Textron sebagai induk perusahaan Bell Helicopter mengumumkan pengiriman perdana Bell 429 dari Bell’s Helicopter Service Facility, kantor cabang operasi mereka di Singapura. Helikopter yang dikirim ini adalah pesanan dari PT Whitesky Aviation, yang saat ini mengoperasikan dua Bell 429 dan tiga Bell 407s. Sementara itu untuk Bell 407GXP, PT Air Pacific Utama menjadi penerima pertamanya.

Selain Whitesky, Jhonlin Air Transport juga mengoperasikan satu unit Bell 429. Begitu pun dengan Balai Besar Kalibrasi Kementerian Perhubungan yang menggunakan dua unit Bell 429 untuk kalibrasi penerbangannya. Bahkan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk operasi Direktorat Kepolisian Udara (Polisi Udara) juga mengoperasikan dua Bell 429 GlobalRanger.

“Ada seratusan produk helikopter Bell dalam berbagai tipe yang dioperasikan di Indonesia,” ujar Leigh-Ann. Tipe-tipe Bell yang pernah dan masih beroperasi di Indonesia, antara lain, Bell 47G, Bell 205, Bell 206, Bell 212, Bell 412, Bell 407, dan Bell 429, juga akan datang Bell 505 JetRanger.

Memang patut diingat kalau IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) –sekarang PT Dirgantara Indonesia (PTDI)– sudah membuat helikopter dibawah lisensi Bell Helicopter sejak tahun 1980-an. Pada era tahun 1980-1990, semua pesawat Bell 412SP dan Bell 412HP dibuat IPTN dan pada era akhir tahun 2000-an, PTDI bekerja sama dalam memroduksi Bell 412EP.

Bell 429 yang tiba di Halim itu memang bukan buatan PTDI, tapi produksi pabrikannya yang berbasis di Bell’s Helicopter Service Facility, Singapura. Model yang ditawarkan adalah helikopter perusahaan (corporate helicopter) dengan kabin VIP (Very Important Person). Kursi penumpang dirancang empat berhadapan dan bisa sampai enam kursi, tergantung pesanan.

“Letak kursi bisa diubah; dibalik menghadap ke depan semua, misalnya. Di kabin juga dilengkapi dengan layar kaca untuk tayangan film, internet, dan lain-lain,” ungkap Capt William Smith, pilot Bell 429 tersebut, seraya membuka layar kaca yang tersembunyi di atas kabin.

Helikopter dengan dua mesin Pratt & Whitney Canada PW207DI itu, kata William, bisa terbang maksimum 3,5 jam dengan daya jelajah 746 kilometer dan kecepatan maksimum 274 kilometer per jam. Bell 429 IGW (Internal Gross Weight) ini dilengkapi flight manual supplement, Helicopter Terrain Awareness Warning System (HTAWS), Cockpit Voice Recorder/Flight Data Recorder (CVR/FDR), flashing forward light, dan radar altimeter.

Dengan pilot Capt William yang didampingi pilot Premiair, Bell 429 berregistrasi C-FXQR itu melakukan demo terbang. Beberapa wartawan, termasuk Indoaviation, ikut terbang menjelajah kawasan Cibubur-Sentul di ketinggian 1.200 kaki sekitar 25 menit.

Be the first to comment

Leave a Reply