Categories
Heedful

Harga Tiket

Assalamualaikum semua …

Pada Lebaran kemarin, maksudnya Idul Fitri 1439H, pemerintah mengingatkan penumpang, kalau ada penyimpangan harga tiket agar melaporkannya. Ada beberapa laporan, kata pihak Ditjen Perhubungan Udara, tapi setelah ditelusuri tak ada maskapai penerbangan yang melanggar tarif batas atas.

Teman saya yang sering bolak-balik Jakarta-Malang menanyakan, berapa sebenarnya tarif batas atas untuk rute itu. Katanya, pada musim padat penumpang itu harga tiket sangat tinggi, lebih dari dua kali lipatnya dari yang biasa ia beli. Biasanya ia beli Rp500.000-an, tapi pada libur Lebaran sampai Rp1,2juta.

Tak ada penumpang yang tahu pasti, berapa sebenarnya tarif batas atas setiap rute penerbangan. Penumpang tahunya dari “biasanya ia beli” atau “kata teman yang pernah”. Kata teman saya itu, bagaimana kalau di bandara dituliskan tarif resmi pemerintah untuk setiap rute? Misalnya di T1A Bandara Soekarno-Hatta, ditampilkan tarif batas atas untuk rute-rute penerbangan Lion Air ke berbagai bandara lain yang diterbanginya dari sana.

Boleh juga idenya, walaupun pihak pengelola bandara harus jeli menempatkan tayangan urutan tarif itu. Kan sekarang era digital, kenapa tidak dimanfaatkan? Ohya, pemerintah bisa menyosialisasikan lebih intensif lagi kepada masyarakat, apa alamat untuk kita bisa membuka daftar tarif penerbangan itu. Kalau memang ada di situsnya.

Pihak Ditjen Perhubungan Udara pernah mengatakan akan mengkaji ulang penetapan tarif penerbangan itu. Katanya, bisa dengan menaikkan tarif batas bawah agar rentangnya dengan batas atas tak terlalu besar. Sekarang ini batas bawahnya 30% dari batas atas. Namun, katanya lagi, pihaknya akan diskusi lebih intensif lagi dengan maskapai penerbangan.

Secara psikologis, rentang antara tarif batas atas dan batas bawah yang besar memang mengundang pertanyaan. Kalau batas atasnya Rp2juta misalnya, batas bawah hanya Rp600.000. Kalau kita biasanya beli tiket suatu rute penerbangan hanya Rp600.000, kemudian pada masa sibuk Rp1,8juta karena batas atas untuk LCC 90%-nya dari tarif batas atas, bedanya Rp1,2juta. Bedanya saja dua kali lipatnya ya.

Solusinya, bagaimana? Hukum pasar memang begitu. Jika masyarakat sudah sejahtera dan konsumen mendapat hak selayaknya, barangkali hal-hal tersebut tak akan menjadi masalah dan dipermasalahkan.

 

Categories
Heedful

Dari Hati

Assalamualaikum semua …

Selamat Idul Adha, semoga kurban kita menjadi pengobanan yang penuh rahmat dan berkah dari Allah swt. Insya Allah.

Bicara pengorbanan, kita ingin merasakan keikhlasan dari hati yang bersih. Kalau semua yang kita lakukan dengan dan dari hati, hasilnya akan lebih baik. Hal ini saya ingat dari kata-kata kenalan saya seorang direktur utama maskapai penerbangan carter.

Suatu waktu pada awal tahun 2018, ia mengatakan, sekarang ini ia melihat Garuda Indonesia kurang memiliki nilai. Kenapa begitu? “Saya melihat pengelola Garuda bekerja tidak dengan hati,” jawabnya. Ini tentu saja opininya dalam melihat Garuda, yang walaupun tetap mendapat penghargaan terbaik seperti sebelumnya bahkan dapat mengurangi kerugiannya, tapi seolah-olah tidak bernilai.

Barangkali opini seperti itu tidak melihatnya dari fakta. Namun rasa yang keluar dari hati juga tidak bisa diabaikan.

Saya teringat pula penyataan Emirsyah Satar sewaktu masih direktur utama Garuda pada peluncuran buku “From One Dollar to Billion Dollars Company” di Jakarta, 4 September 2014. Kurang lebih katanya, untuk menjalankan perusahaan yang untung, pimpinannya harus menggunakan 50 persen akal atau logika dan 50 persen rasa atau hati. Kalau terlalu banyak logika karyawan akan menderita, tapi kalau sebaliknya perusahaan bisa bangkrut.

Logika dan hati memang harus seiring sejalan. Namun keikhlasan, yang artinya keluar dari hati dengan niat yang tulus ikhlas, selayaknya menjadi dasar kita dalam menjalani kehidupan. Bukan cuma Garuda, tapi seluruh industri penerbangan juga akan lebih bernilai jika seluruh unsur yang berkiprah di dalamnya bekerja dengan dan dari hati.

 

Categories
Heedful

Kenapa Maskapai Internasional Enggan Pindah ke Terminal 3?

Beberapa maskapai asing belum pindah ke Terminal 3 (T3) Bandara Internasional Soekarno-Hatta sampai saat ini. Sebut maskapai-maskapai yang punya nama, seperti Emirates Airlines, Singapore Airlines, Cathay Pacific, Eva Air, All Nippon Airlines (ANA), Asiana Airlines, dan Qatar Airways.

Belum ada tanda-tanda kalau mereka akan segera pindah ke T3. Pernah saya tanya pada Country Manager Emirates untuk Indonesia, Rashid Al Ardha, kenapa belum pindah ke T3? Tahun 2017, alasannya menunggu habis tahun karena terkait anggaran operasional dari kantor pusatnya. Tahun 2018, tak ada jawaban karena, kata dia, ini masalahnya sensitif.

Kelihatannya, pengelola bandara pun tidak segiat sebelumnya untuk “mengajak” mereka pindah dari T2. Kalau dikaitkan dengan kondisi T3, masih ada pengembangan terminal, terutama untuk penambahan garbarata. Fasilitas penghubung dari terminal langsung ke pintu pesawat ini, menjadi salah satu tuntutan maskapai-maskapai tersebut demi kenyamanan penumpangnya.

Di T3 saat ini ada 44 garbarata –T2 juga 44 dan T1 ada 23 garbarata. Jumlah ini kenyataannya kurang untuk menampung pesawat yang tiba bersamaan. Tak heran jika seringkali pesawat parkir di remote apron dan kita menggunakan bus untuk sampai ke terminal atau akan naik pesawat.

Kondisi lainnya, T3 sekarang sudah penuh penumpang. Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengakui kalau tahun ini akan tembus 28 juta penumpang, padahal kapasitas T3 itu 25 juta penumpang per tahun. “Padahal belum semua maskapai asing pindah kan?” katanya.

Boleh jadi kenyamanan penumpang akan terganggu jika penumpang di T3 terus bertumbuh. Apalagi kalau tidak ada inovasi dalam penataan interior terminal agar arus penumpang lancar dan pengguna jasa tetap nyaman.

Sebagai tuan rumah, pengelola Soekarno-Hatta tentu ingin menjamu tamu-tamunya, termasuk maskapai asing, dengan menu yang prima. Kalau kondisinya seperti itu, apalagi yang akan ditawarkan? “Kenapa harus pindah, kalau di tempat baru tidak menjadi lebih baik? Lebih mahal lagi!” seorang teman membisikkan pesan dari maskapai asing.

Sepertinya, saat ini AP II sedang memetakan kembali peruntukan terminal-terminalnya. T1 dan T2 akan dijadikan LCCT atau terminal untuk penerbangan hemat biaya, sedangkan T3 dan nanti T4 untuk maskapai full service dan asing. Untuk menjadi bandara terbaik dunia, pelayanannya memang harus hebat.

 

Categories
Heedful

Penerbangan Perintis

Assalamualaikum semua …

Penerbangan di Indonesia bukan sekadar moda transportasi udara, tapi sangat penting untuk pemersatu bangsa dan penyejahtera masyarakat. Kalau untuk masyarakat yang sudah sejahtera, penerbangan adalah sarana transportasi untuk berbisnis dan berwisata. Sangat berbeda bagi masyarakat yang masih memerlukan kehidupan yang sejahtera di tempat terpencil, penerbangan adalah harapan.

Pemerintah sudah memiliki program penerbangan perintis, bahkan sejak tahun 2017 ada angkutan udara perintis barang. Tahun 2018 angkutan udara perintis barang disubsidi untuk 41 rute dari sebelumnya hanya 12 rute. Anggarannya Rp 106 miliar dari sebelumnya hanya Rp 33 miliar. Untuk angkutan udara perintis penumpang, tahun 2017 ada 188 rute, sedangkan tahun 2018 menjadi 209 rute. Namun anggarannya berkurang dari Rp 568 miliar jadi hanya Rp 480 miliar.

“Angkutan perintis ini perlu mendapat perhatian khusus dari kita semua. Salah satunya karena keterbatasan armada yang dimiliki maskapai.” Begitu yang dikatakan Direktur Angkutan Udara Maria Kristi Endah Murni dalam Rapat Koordinasi I Angkutan Udara Perintis di Denpasar pada akhir Januari 2018.

Kalau rute bertambah, sementara maskapai penerbangan tidak memiliki pesawat, bagaimana penerbangan perintis itu bisa dijalankan? “Pemainnya” saat ini adalah Susi Air dan Dimonim Air yang masing-masing mengerahkan pesawat Cessna Caravan, CASA 212, Twin Otter, atau Pilatus Porter, hanya hitungan jari. Sementara Trigana Air dan ada Airfast Indonesia sebagai pendatang baru, hanya mengoperasikan masing-masing satu pesawat Twin Otter.

Bagus Sunjoyo yang pada tahun 2008-2016 menjadi Kepala Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BBKFP), mengusulkan agar BBKFP menjadi operator penerbangan perintis. Balai yang sejak awal 2016 sudah menjadi BLU (Badan Layanan Umum) ini memang memiliki AOC (Air Operator Certificate) 135, yang bisa mengoperasikan pesawat-pesawat berkapasitas di bawah 30 kursi. Namun usul ini tak terjawab.

Apa kabar pula N219 Nurtanio, yang peruntukannya untuk penerbangan perintis? Andi Alisjahbana sudah memetakan sebaran pesawat rancangan PT Dirgantara Indonesia ini di Papua, khususnya. Namun uji penerbanganya belum selesai, sertifikat belum keluar, dan tentu belum ada produksi.

Saya pernah ke Bandara Tempuling di Riau dengan penerbangan perintis CASA 212 Susi Air. Untuk tahun 2017, baru Maret diterbangi, sehingga Januari-Februari penerbangan seminggu sekali itu terhenti. Kalau pesawat ada kerusakan, penerbangan terhenti pula. Untung masih ada moda lain, walaupun dengan waktu yang lama dan tidak efektif. Bagaimana kalau di Papua?

Penerbangan di Papua itu vital. Banyak penerbangan perintis di sini. Namun ada pernyataan dari Kementerian Perhubungan bahwa aspek keselamatan pada penerbangan perintis belum memenuhi standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Karena itu, katanya, ke depan aspek keselamatan pada penerbangan perintis akan lebih mendapatkan perhatian. Kapan ya?

Foto: Reni

Categories
Heedful

Pesawat Supersonik

Assalamualaikum semua …

Agus Santoso, mantan Dirjen Perhubungan Udara yang sekarang jadi Widyaswara di Kementerian Pehubungan, dengan penuh semangat mengatakan kalau saat ini dunia sudah mulai memasuki era pesawat supersonik. Dia mengucapkan hal itu di Singapore Airshow 2018 pada Februari lalu di Singapura.

New aircraft technology menjadi isu pembahasan karena beberapa saat lagi pesawat supersonik akan meramaikan penerbangan komersial dunia, melanjutkan program yang terhenti pada era pesawat supersonik Eropa, yaitu Concorde,” kata Agus.

Saya pun kembali teringat, atas kebaikan Wisnubroto yang waktu itu sebagai Wakil Ketua Panitia Indonesia Air Show (IAS) 1996 di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, saya diajak naik Concorde. Kenapa saya diajaknya?

Penerbangan Concorde itu sebagai hadiah ulang tahun BJ Habibie dan panitia menyediakan lima doorprize bagi pengunjung IAS. Rupanya hanya dua pengunjung yang mendengar pengumuman pemenang, tiga kursi lagi buat siapa ya? “Ah, kursi Concorde itu salah satunya buat Reni saja,” begitu kata Wisnubroto pada saya, setelah kami mendarat.

Dengan izin Allah swt, saya pun terbang bersama 99 penumpang lain dalam kabin Concorde yang ramping. Sekitar satu jam terbang, sang pilot mengumumkan bahwa kami berada di atas Perth, Australia. Satu jam kemudian, kami balik lagi ke Soekarno-Hatta.

Hm, satu jam lebih dari Jakarta ke Perth memang mencengangkan karena kalau dengan penerbangan Boeing 787 Dreamliner misalnya, bisa lebih dari empat jam. Kecepatan Concorde yang Mach 2,04 atau 2.179km/jam seperti kecepatan pesawat jet tempur.

Begitulah kalau pesawat supersonik nanti bisa beroperasi komersial pasca Concorde yang pensiun pada tahun 2003. Concorde yang dioperasikan British Airways dan Air France itu terbang perdana 2 Maret 1969 dan terbang terakhir 24 Oktober 2003.

Siapkah Indonesia menyambutnya? Pasti, insya Allah!

Foto: concordesst.com

Categories
Heedful

Mengelola Soekarno-Hatta

Assalamualaikum semua…

Suatu hari saya berbincang dengan sahabat saya, seorang mantan direktur utama maskapai penerbangan. Saya mengenalnya sejak pertengahan tahun 1990-an. Tidak sering bertemu, tapi setiap kali bertemu ada saja kejutan yang dibicarakan.

Hari itu, ia melemparkan pernyataan kalau Bandara Internasional Soekarno-Hatta diwacanakan untuk dikelola oleh perusahaan tersendiri. Masih BUMN –atau boleh jadi dikerjasamakan dengan pihak swasta, tapi maksudnya adalah dikelola bukan oleh PT Angkasa Pura II, yang sekarang mengelola 15 bandara.

“Bandara Soekarno-Hatta itu sudah sangat besar untuk dikelola AP II yang juga mengelola bandara-bandara lain. Kalau perusahaan tersendiri, pengelolaannya bisa fokus,” kira-kira begitu lanjutan pernyataannya.

Lantas saya tanyakan hal itu kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, tapi jawabannya diplomatis. “Ada pemikiran itu, tapi semuanya memerlukan kajian,” katanya. Saya belum menanyakannya kepada Menteri BUMN Rini M Soemarno, yang barangkali lebih pas untuk menjawabnya. Sampai sekarang, wacana itu tidak diperpanjang lagi di ranah publik.

Mengelola bandara sebesar Soekarno-Hatta yang saat ini pergerakan penumpangnya 66 juta orang memang bukan main. Soekarno-Hatta juga ingin menjadi The Best Smart Connected Airport in The Region, yang bisa bersaing dengan bandara-bandara kelas dunia. Jadi, saya setuju kalau bandara gerbang negara Indonesia ini dikelola oleh perusahaan yang fokus untuk visi misinya itu dan digerakkan oleh para profesional berkelas dunia.

Foto: patainanews.com

Categories
Heedful

Berpikir Beyond

Assalamualaikum semua…

Ini tentang obrolan saya bersama pakar, praktisi, atau siapa saja yang memiliki pemikiran menarik dan bikin asyik. Ditambah pengetahuan saya yang sedikit itu, inginnya tulisan ini menjadi bacaan yang membuat Anda tersenyum. Tersenyum itu ibadah dan membuat orang tersenyum, ibadahnya plus.

Tulisan ini kami namakan “heedful”, setelah dirasa-rasa cocok. Rasa-rasanya, kata dalam bahasa Inggris yang artinya penuh perhatian, peka, atau terbuka, ini lebih bersemangat dan maskulin. Semangat ini kami mulai pada hari Jumat, 17 Agustus 2018. Pas ya harinya dengan 73 tahun lalu ketika dikumandangkan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Seminggu lalu, tepatnya 11 Agustus 2018, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin berbicara tentang berpikir “beyond”. Ah, padahal dulu saya sangat ingin berbahasa Indonesia yang “seutuhnya”. Namun zaman ini saya belum bisa melakukannya. Sudah sangat minim pakar bahasa memberi pelajaran di media, pembicaraan para pejabat dan figur publik pun seringkali mencampurnya dengan bahasa asing, terutama Inggris. Mau membahasakan istilah yang disampaikan juga kerap sulit.

Selain “beyond”, sebelumnya kata “ultimate” juga dipertanyakan. Walaupun sudah jarang diucapkan lagi dalam kata-kata “pembangunan bandara ultimate” misalnya, kalau dijelaskan menjadi “pembangunan bandara sampai batas akhir” rasanya kurang klop. Nah, ”beyond” juga begitu. Kalau dikatakan “luar” atau “lebih jauh” atau “melebihi” atau “mendalam” atau apa pun yang artinya “ke luar dari hal biasa”, terkadang maknanya jadi terasa ringan.

Pak Awal, begitu kami menyapanya, menyuarakan, “Sekarang kita harus berpikir tentang memiliki Bandara Soekarno-Hatta kedua. Kita harus berpikir beyond!”

Saya teringat waktu kembali menjadi wartawan majalah Angkasa tahun 2012, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono giat menyampaikan tentang pembangunan bandara “penambah Soekarno-Hatta” yang lokasinya di Karawang. Selanjutnya, grup Lion Air juga sibuk menyiapkan bandara baru di Lebak, Banten. Keduanya tentu sudah berpikir “beyond”. Namun seiring waktu, pembicaraan tentang kedua bakal bandara itu nyaris senyap.

“Saya tidak dalam kapasitas untuk menyatakan, apakah bandara-bandara itu dibatalkan atau tidak,” kata Pak Awal. Dia mengatakan, dari pra studi fisibilitas yang sedang dilakukan, ada tiga titik di utara Jakarta yang sedang dikaji sebagai lokasi bakal bandara baru itu, bukan di Karawang atau Lebak.

Hm, berpikir “beyond” ternyata juga “beyond” ya.