Categories
Heedful

Kita Bisa Mencapainya

Assalamualaikum semua …

Salut buat atlet-atlet Indonesia dalam Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang. Akhirnya, kontingen Indonesia meraih 98 medali: 31 emas, 24 perak, 43 perunggu. Prestasi besar sudah Indonesia capai. Malam ini (2/9/2018) perhelatan akbar olah raga se-Asia itu pun resmi ditutup.

Sebelum ajang Internasional itu digelar, beberapa persiapan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, sempat saya lihat. Begitu juga dengan transportasi di seputaran Jakarta dengan konsep ganjil-genap dari BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek) dan Dishub DKI Jakarta, juga LRT (Light Rail Transit) di Palembang. Persiapannya cukup matang, sehingga hasilnya pun tidak mengecewakan.

Persiapan matang dengan pengetahuan dan pemikiran yang tepat memberikan hasil yang memuaskan. Jangan lupa pula tekad kuat dan doa kepada Yang Maha Kuasa. Kesemuanya bisa dilakukan dan kita pun bisa membuktikan bahwa kita bisa.
Selanjutnya, prestasi bangsa itu patut kita syukuri.

Tidak ada yang mustahil, memang. Prestasi pun dicapai dunia penerbangan sipil Indonesia. Tahun 2016 kita kembali mendapat Kategori I FAA (Federal Aviation Administration) dalam aspek keselamatan penerbangan, setelah dari tahun 2007 turun ke Kategori II.

Akhir tahun 2017, pencapaian hasil audit ICAO (International Civil Aviation Organization) mendapat skor effective implementation 80,34%. Angka yang jauh di atas rata-rata skor dunia yang 64,71%, sementara Indonesia pada tahun 2016 hasilnya hanya 51,41%. Mulai pertengahan tahun 2018, larangan terbang ke negara-negara Eropa juga dicabut.

Membanggakan? Tentu, walaupun tantangannya adalah harus bisa terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Masih banyak pekerjaan rumah penerbangan sipil nasional. Salah satunya, menjadi anggota Dewan ICAO. Prioritas lainnya adalah meningkatkan aspek keselamatan penerbangan di Papua.

Seorang teman pilot mengatakan, kalau mengacu pada aturan, tak akan ada penerbangan di Papua. Ekstrem pernyataannya. Namun hal ini yang akan membuat kita membuka mata lebar-lebar, bagaimana cara untuk menjadikan Papua area penerbangan yang safety-nya nomor satu.

Kita kan tahu, penerbangan adalah moda transportasi vital di Papua. Jadikanlah Papua sebagai kawasan yang maju dengan konektivitas antardaerahnya yang terintegrasi lewat transportasi udara. Dengan bersungguh-sungguh dan pemikiran yang tepat dari para pakar penerbangan kita, penerbangan di Papua akan hebat.

Kenapa tidak, kalau kita sudah membuktikan bahwa kita bisa mencapainya.

Foto: Panitia Asian Games 2018

Categories
Heedful

Think Again

Assalamualaikum semua …

Kata-kata “Think again” mengingatkan saya pada kata-kata dalam bahasa Sunda “Emutan deui”, yang suka dikatakan ibu saya kalau ia memberi saran pada temannya. Ibu saya suka bilang begini, “Emutan deui atuh bilih lepat.” Maksudnya, pikir-pikir lagilah supaya jangan salah atau keliru. Dengan berpikir ulang lagi dan lagi diharapkan hasilnya menjadi lebih baik.

Nah, kata-kata itu pun rupanya menjadi penggugah dalam kampanye Tourism Australia untuk mengubah persepsi dan stereotipe tentang Australia di benak wisatawan dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Salah satu kampanye UnDiscover Australia itu tulisannya, “To the 84% of Indonesian who think: Australia is all about cute, furry animals. Think again.”

Australia rupanya ingin menampilkan lebih banyak lagi destinasi dan atraksi wisata, selain yang sudah dikenal khalayak. Makanya, wisatawan digugah untuk memikirkan lagi apa yang ingin dieksplorasinya di Australia. “Banyak tempat ‘tersembunyi’ yang menunjukkan bahwa Australia bukan sekadar ikon pariwisata yang selama ini kita kenal,” kata John O’Sullivan, Managing Director Tourism Australia di Jakarta, Sabtu (1/9/2018).

Kita pun punya Wonderful Indonesia, yang ingin mengenalkan tidak hanya Bali, tapi objek-objek wisata lain yang wonderful. Wonderful Indonesia, kata O’Sullivan, berhasil mengangkat nama Indonesia dan menambah banyak wisatawan mancanegara (wisman).

Memang target jumlah wisman per tahun pun selalu terlampaui. Namun target itu kok kecil ya, dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Saya suka terkesan dengan jumlah wisatawan ke Bangkok, misalnya. Satu kota di Thailand itu saja bisa kedatangan 20 juta wisman tahun lalu. Se-Indonesia targetnya sejumlah itu pun nanti tahun 2019. Pulau Jeju di Korea Selatan pun, yang sepuluhan tahun lalu hanya dikunjungi 1-2 juta wisman, tahun lalu kedatangan 7 juta wisman.

Masih banyak ternyata yang harus kita benahi untuk bisa mendatangkan lebih dan lebih banyak lagi wisman. Sebulan lalu kami ke Sumba, salah satu tempat wisata “tersembunyi” di Indonesia. Karena masih belum dikelola dengan baik, keindahannya pun nyaris tersembunyi pula. Padahal kalau bisa dikelola seperti objek-objek wisata di Jeju, jutaan wisman dipastikan datang.

Jadi, kalau Australia bilang “think again” pada wismannya, Indonesia harus “think again” pada pengelola pariwisatanya.

Foto: Reni

Categories
Heedful

Memburu Bandara untuk Poros Wisata

Assalamualaikum semua …

PT Angkasa Pura (AP) II mau mengembangkan bandara-bandara kecil sebagai poros pariwisata (tourism axis). Ada lima bandara yang sedang dan akan dikembangkannya, yakni Bandara Silangit di Tapanuli Utara, Bandara FL Tobing di Sibolga, Bandara Binaka di Nias, Bandara Fatmawati Soekarno di Bengkulu, Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya, Bandara Notohadinegoro di Jember, dan Bandara Blimbingsari di Banyuwangi.

Dua bandara, Silangit dan Banyuwangi, sudah masuk dalam pengelolaan AP II. Sementara Fatmawati Soekarno dan Radin Inten II sudah penyerahan aset dan sedang dalam pengkajian. Sisanya, masih penjajagan.

Tak kalah aktif PT AP I, yang juga akan menambah bandara di bawah pengelolaannya. Sekarang AP I masih mengelola 13 bandara, sementara AP II sudah 15 bandara. Bandara Juwata di Tarakan, Bandara Sentani di Jayapura, Bandara Sis Al-Jufrie di Palu, dan Bandara Dominic Eduard Osok di Sorong, adalah beberapa bandara yang sedang dikajinya.

AP I juga tertarik untuk mengelola Bandara Komodo di Labuan Bajo. Namun bandara sebagai poros ke objek wisata prioritas yang banyak diminati wisatawan ini ditawarkan pula pada pihak swasta, termasuk dari luar negeri. “Sudah banyak yang minat dan memasukkan penawarannya,” kata Polana B Pramesti, Direktur Bandar Udara Ditjen Perhubungan Udara ketika bertemu di acara IBCAS di Jakarta, Rabu (29/8/2018).

Peminat swasta untuk mengelola bandara di Indonesia, diakui Polana, cukup banyak. Bukan hanya perusahaan pengelola bandara, tapi juga perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor lain. Bahkan bakal Bandara Soekarno-Hatta 2, yang masih pra studi kelayakan pun sudah diminati investor dari Cina. Investor ini bahkan sudah presentasi di depan pemerintah.

Kalau kemudian dunia penerbangan melaju pesat, apakah sudah ada desain besar untuk pemetaan bandara-bandara yang jumlahnya hampir 400 itu? Mana bandara hub, mana bandara spoke, juga mana bandara untuk wisata yang membutuhkan akses antarmoda. Belum lagi bandara di perbatasan dan bandara perintis. Jangan sampai semua bandara ingin menjadi bandara besar atau internasional.

Categories
Heedful

Ingin Tahu Perkembangan R80

Ada dua pesawat yang dirancang segelintir orang-orang IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) atau PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pasca terhentinya aktivitas yang berkaitan dengan pesawat N250. Satu dirancang oleh mereka yang masih berkiprah di PTDI, yakni N219, satu lagi oleh mantan karyawan PTDI, yakni R80.

Awalnya saya mengenal R80 –kepanjangannya adalah Regio 80– lewat wawancara dengan Ilham Habibie tahun 2013. Penjelasan lebih lanjut diperoleh dari Agung Nugroho, yang menjadi salah seorang penggagasnya. Tentu penggagas utamanya adalah BJ Habibie. Sampai sekarang, apa pun yang berkaitan dengan R80 dilaporkan kepada Presiden RI ketiga ini.

Ternyata semangat N250 tidak hilang. Walaupun sampai saat ini masih tanda tanya karena tak terdengar lagi informasinya. Bisa dipahami pula karena untuk mewujudkannya membutuhkan proses yang sangat panjang.

Kemarin (29/8/2018) saya bertemu dengan mereka dari PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan yang akan membangun R80, pada acara IBCAS (International Business & Charter Association Summit) di Jakarta. Kata mereka, proses R80 masih berjalan. Artinya, pembangunan pesawat propeller berkapasitas 80 kursi ini masih ingin diwujudkan.

Persoalannya tentu saja pendanaannya. Untuk membangun pesawat sekelas N219 yang berkapasitas 19 kursi saja, investasi Rp500miliar itu masih kurang. Apalagi sekelas R80, dana awalnya saja barangkali harus ada Rp1triliun. Pernah saya dengar, kalau kita mau menghidupkan lagi N250, harus ada dana sedikitnya sekitar Rp4triliun.

Namun R80 adalah proyek optimis. Faktanya, sampai sekarang masih terus dilakukan kajian-kajian dan penyempurnaan desain. Begitu kata mereka yang ketemu di IBCAS itu. Mereka juga ingin mengetahui pendapat para pilot. Salah satu item yang ditanyakan, “Apakah pilot lebih nyaman menggunakan kemudi sidestick atau yoke?”

Jawabannya ternyata bisa mengundang canda. Kata sang pilot, ia suka yoke karena lebih familiar. Namun ada juga yang suka sidestick karena tubuh sang pilot gemuk.

Categories
Heedful

Ini Hambatan Berkembangnya Penerbangan Carter

Assalamualaikum semua …

Tadi pagi (29/8/2018) saya hadir di acara IBCAS (Indonesia Business & Charter Aviation Summit) di Jakarta. Acara dua tahunan berskala internasional ini untuk yang ketiga kali diadakan di Indonesia, dengan tuan rumah INACA (Indonesia National Air Carriers Association) dan Avcon Group dari Australia.

Kalau bicara peluang, tak dipungkiri Indonesia memiliki banyak sekali peluang untuk mengembangkan penerbangan carter. Melihat gambaran dari seorang presentrator dari Airflite Australia, peluangnya “lebih dari seribu persen” kalau dibandingkan dengan peluang di gabungan tiga negara Eropa (Jerman, Prancis, Inggris). Soalnya, mereka sudah lebih dulu maju, sementara kita baru akan maju. Walaupun di negara Eropa itu banyak miliardernya, sedangkan di Indonesia miliardernya masih sedikit.

Namun peluang kan baru di atas kertas. Sejak beberapa tahun lalu pun pelaku bisnis penerbangan carter tahu peluang-peluang itu, tapi kendala dan hambatannya sangat-sangat banyak. Kalau dari presentasi tadi, pengembangan dari industrinya termasuk sumber daya manusia, juga dukungan dari pemerintah, menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

Apa yang masih menjadi hambatannya saat ini? Ketua Penerbangan Carter INACA Denon Prawiraatmadja menjelaskan, peluang besar itu bukan dari para miliarder, tapi orang kaya kelas menengah dan keperluan-keperluan mendesak, juga wisatawan yang saat ini prioritas dikembangkan pemerintah. Peluang ini membutuhkan regulasi yang fleksibel untuk bisnis dan kalau regulator sepakat, hambatan ini nyaris tak ada lagi.

Denon pun mengakui kalau sekarang hubungan dengan Kementerian Perhubungan untuk dukungan regulasi teknis sudah mulai berjalan harmonis. “Ada lagi soal affordability. Saya sudah bicara sama manufaktur, sama financial company, juga bank-bank. Tahukah, berapa juta dollar AS transaksi pembelian pesawat itu yang di-cover oleh financing dari luar? Kenapa sudah satu dekade bank belum juga meresponse secara positif?”

Dukungan finansial untuk pembelian pesawat memang belum diminati bank-bank nasional. Jangankan pesawat besar bernilai puluhan sampai ratusan juta dollar AS, pesawat-pesawat kecil yang harganya jutaan sampai belasan juta dollar AS pun belum. Mungkin pihak bank belum tertarik atau belum paham industri penerbangan atau takut risikonya yang sangat besar. Makanya sampai saat ini belum ada bank yang berani berinvestasi untuk transaksi pesawat itu.

“Padahal rapor kita di financing luar itu biru, lho,” ucap Denon. Namun ia optimis karena saat ini ada beberapa bank yang sudah melirik hal itu. “Bank BRI dan Bank BNI sudah terlihat ada response positif.” Ya, Bank BNI sempat mengungkapkan ketertarikannya pula untuk menyisihkan dananya bagi pembelian pesawat N219 Nurtanio.

Categories
Heedful

Menyoal Cargo Village Soekarno-Hatta

Assalamualaikum semua …

Pembangunan Cargo Village di Bandara Internasional Soekarno-Hatta rupanya masih menjadi kontroversi. Para pelaku di industri kargo udara, termasuk pengelola gudang yang sudah sejak Soekarno-Hatta berdiri, masih bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan PT Angkasa Pura (AP) II. Mereka melihatnya proyek ini mandek dan pembangunannya tidak akan selesai sesuai target.

Wacana pembangunan Cargo Village sudah ada sejak 10 tahun lalu. Namun dari AP II memiliki direktur kargo, kemudian sekarang menjadi PT Angkasa Pura Kargo yang dipimpin seorang direktur utama, konsep pembangunannya tidak jelas. Begitu yang dikatakan para pelaku usaha di industri kargo udara karena AP II dinilai tidak melibatkan mereka. Pihak AP II pernah mengatakan, proyek Cargo Village akan berstandar internasional. Karena itu, pengusaha yang tidak berstandar internasional tidak masuk daftar untuk dilibatkan.

Cargo Village akan dibangun di kawasan seluas 90 hektare, dua kali lipat dari luas kawasan kargo sekarang yang sekitar 45 hektare dengan kapasitas sekitar 750.000 ton per tahun. Kapasitas kargo yang bisa bergerak di Cargo Village nanti menjadi 1,5 ton per tahun.

Kabarnya, pembangunannya diperkirakan membutuhkan dana Rp3,1triliun. Kalau Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin mengatakan bahwa proyek Cargo Village akan segera dimulai dan diproyekskan beroperasi pada akhir 2019 (cnbcindonesia.com), sedangkan Direktur Utama PT AP Kargo Denny Fikri menyebut rencana target pembangunannya pada 2019 dan akan beroperasi penuh pada 2021 (bisnis.com).

Pada awal Februari 2018, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga mengatakan, Cargo Village akan dibangun dua tahap, yaitu tahun 2018 dan tahun 2019 dengan luas total 90 hektare. Katanya, pemerintah sedang mempersiapkan dan membangun tempat khusus yang menangani kargo di Bandara Internasional Soekarno-Hatta itu. “Kita akan mencari strategic partner,” ujarnya. (dephub.go.id). Saat ini, apron seluas 18.000 meter persegi yang nantinya terhubung langsung ke lini satu pergudangan Cargo Village memang sudah selesai dibangun, tapi pergudangannya masih finalisasi master plan.

Masih belum disebutkan, siapa yang akan menjadi partner stategis AP Kargo untuk mengelola Cargo Village itu. Ditanyakan kepada JAS Airport Service dan Garuda Cargo, yang saat ini menangani gudang kargo Soekarno-Hatta, tak ada yang menjawab. Apakah perusahaan kargo internasional yang sudah masuk ke Indonesia, seperti Fedex atau DHL, juga belum terjawab.

Saya memang sangat tertarik dengan kargo udara. Namun seiring dengan meningkatnya penumpang pesawat udara yang tajam sejak akhir tahun 2000-an, kabar kargo udara jadi kurang greget. Sempat ramai dibahas tentang RA (regulated agent), yang seiring waktu menghilang juga. Padahal bisnis kargo udara, walaupun sangat kecil dibandingkan kargo laut, tetap memiliki dampak ekonomi yang memikat.

Maskapai penerbangan nasional yang besar pun tak ada yang memiliki freighter (pesawat khusus kargo). Padahal dulu Garuda Indonesia punya, termasuk juga pesawat DC-10 Combi (sebagian penumpang sebagian kargo). Maskapai sudah cukup puas dengan belly cargo. Hanya Cardig Air yang menjadi maskapai reguler khusus kargo, walaupun hanya memiliki dua-tiga pesawat kargo Boeing 737-300. Maskapai lain yang mengangkut kargo masih beroperasi carter.

Majunya bisnis transportasi udara memang bukan hanya berkembangnya teknologi navigasi penerbangan, pengelolaan bandara, dan kian banyaknya penumpang, tapi juga besarnya volume dan tonase kargo dengan nilai devisa yang besar pula.

Categories
Heedful

Menyapa Bandara Kertajati

Assalamualaikum semua …

Beberapa kali saya ke Bandara Kertajati di Majalengka. Paling akhir saya melihatnya pada peresmian oleh Presiden Jokowi pada 24 Mei 2018. Waktu itu pesawat kepresidenan mendarat mulus, disusul pesawat Garuda Indonesia, di bandara baru itu. Keduanya jenis Boeing 737-800 NG.

Saya terkesan dengan desain interior terminalnya, terutama di ruang keberangkatan. Bagus dengan ornamen khas Jawa Barat. Bahkan towernya pun berhias ornamen Kujang. Karena belum beroperasi, saya belum tahu tentang kenyamanan untuk arus penumpangnya.

AirNav Indonesia yang mengatur lalu lintas udara di Bandara Kertajati menyatakan kesiapannya, begitu pula dengan Angkasa Pura II yang mengelola bandara. Namun sayang operasional penerbangannya belum banyak diminati.

Apa pasal? CEO AirAsia Indonesia Group Dendy Kurniawan pernah mengatakan, “Bandaranya saya akui bagus, tapi aksesnya bagaimana?” Hal ini pula yang disampaikan oleh Direktur Komersial Sriwijaya Air, Toto Nursatyo. Kalau Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait bilangnya, “No comment kalau soal Bandara Kertajati.”

Nah, tanpa akses menuju bandara yang lancar dan mudah, mana ada penumpang yang akan terbang dari sana? Namun salut buat Citilink Indonesia yang terbang rute Kertajati-Surabaya pp sejak 1 Juli 2018 sampai sekarang masih terbang sekali sehari.

Awalnya, di penjualan tiket online Citilink ditulis Bandara Kertajati itu adanya di Cirebon. Untuk daya tarik? “Sekadar menjelaskan kota yang terdekat, bukan lokasi bandara tersebut. Sama sekali bukan klaim dari kota Cirebonnya,” begitu penjelasan Direktur Utama Citilink Indonesia, Juliandra Nurtjahjo lewat whatsapp pada 25 Mei 2018, seraya mengatakan, “Makanya kita take out supaya tidak ada isu lagi. Itu murni kesalahan.”

Selain Citilink memang belum ada maskapai lain yang terbang dari dan ke Kertajati. Beberapa penerbangan haji Garuda yang sebelumnya disebut-sebut akan terbang dari Kertajati juga batal. Saya juga bertanya-tanya, kalau terbang dari Kertajati tapi harus turun dulu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta karena belum ada kode KJT di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, rasanya pemborosan, ya.

Pindah bandara atau membuka penerbangan dari bandara baru memang memerlukan biaya dan upaya yang besar. Apalagi ada prasarana vital yang belum terpenuhi, yakni akses menuju dan keluar bandara dari kota-kota yang potensi pasar penerbangannya besar.

Dalam hal Kertajati, pasar potensialnya adalah warga Bekasi, Karawang dan sekitarnya, juga Bandung, serta Cirebon. Dari kota-kota itu, akses jalan yang lancar sulit karena kemacetan, sementara kereta api belum terwujud.

Pembangunan prasarana transportasi, seperti bandara atau pelabuhan, memang bukan sekadar membangun bandara atau pelabuhannya. Namun berbagai aspek penunjangnya harus seiring dibangun pula. Semoga saja Bandara Kertajati mendapat perhatian penuh dari pemerintah pusat dan pemerintah Jawa Barat agar bisa beroperasi dengan optimal.

Jangan sampai seperti Bandara Samarinda Baru, yang bangunan terminalnya sudah selesai empat tahun lalu tapi bandaranya baru diresmikan tahun ini. Arsiteknya menyayangkan karena bangunannya banyak yang mulai rusak karena tidak digunakan dan kurang dirawat dengan baik.

Categories
Heedful

Apa Kabar Sekolah Pilot?

Assalamualaikum semua …

Apa kabar sekolah pilot di Indonesia? Masih beraktivitas, tentu saja. Beberapa hari lalu saya memang menanyakan hal itu pada pengelola Global Aviation Flying School dan Perkasa Flight School. Masih jalan, jawab keduanya.

Seiring makin berkurangnya penyerapan pilot pemula (ab initio) oleh maskapai penerbangan nasional sejak tahun 2015, pamor sekolah pilot menurun pula. Namun bukan tidak ada peminat. Kalau sebelumnya satu sekolah bisa mendidik 60-80 calon pilot dalam setahun, sekarang ini menerima 20 siswa saja sudah bagus. Bahkan STPI dalam satu-dua periode sempat pula tidak menerima calon pilot.

Untuk kesinambungan generasi penerus, bagaimana pun sekolah pilot harus tetap berjalan, entah itu milik negara atau swasta. Keduanya memiliki tujuan yang sama: mencetak pilot muda berkualitas. Namun yang harus dipikirkan, bagaimana caranya agar jumlah lulusan pilot itu seimbang dengan kebutuhannya.

Sampai saat ini saya prihatin dengan masih banyak atau ratusan pilot ab initio yang belum terserap pasar. Anak dari seorang teman saya yang lulus sekolah pilot di Bandung tahun 2014, sampai sekarang masih belum jadi pilot. Berkali-kali ikut seleksi, tapi belum berhasil. Barangkali belum saatnya atau belum beruntung, tapi doa dan upaya tetap harus dilakukan.

Beberapa bulan lalu saya pernah menanyakan upaya yang dilakukan Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Ditjen Perhubungan Udara. Kata direkturnya, Capt Avirianto, evaluasi dan diskusi sudah dilakukan dengan pihak sekolah pilot dan asosiasinya, Perkumpulan Institusi Penerbangan Indonesia (PIP2I) atau Indonesian Association of Aviation Education Institution.

Beberapa sekolah dari 21 sekolah pilot yang ada sudah berhenti dengan sendirinya, sebagian lagi saling bergabung. Beberapa sekolah melebarkan jangkauan pendidikannya sampai ke type rating dan ATPL Ground. Namun mereka tidak boleh lagi mengeksposenya melalui media. “Instruksi dari ‘atas’,” kata mereka.

Categories
Heedful

Pengalaman Asyik Tur Demo

Assalamualaikum semua …

Dua hari lalu (23/8/2018), saya diajak Bell Helicopter mencoba terbang dengan helikopter Bell 505 Jet Ranger X. “Kami ingin mengajak teman-teman media merasakan terbang dengan Bell 505,” kata Eugene Tan, Senior Communications Strategist Bell Helicopter Asia Pacific di lounge Premiair Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Bersama rekan dari Kompas.com, saya mendapat kesempatan menikmati “media flight” helikopter lima kursi itu. Sebelas bulan lalu, tepatnya 25 September 2017, saya pernah pula diajak terbang naik helikopter Bell 429.

Setelah duduk aman, Bell 505 Jet Ranger X naik 1-2 meter dari apron Halim. Pilot heli ini Carl Bertrand, Senior Test Pilot Specialist Certification Delegate dari FAA, helinya pun berregistrasi FAA, N505LD. Dua minggu sejak 21 Agustus 2018, tur demo ini akan berlangsung di Jakarta, Semarang, Surabaya, Banyuwangi, dan Bali.

Setelah berputar, heli tak langsung terbang, tapi menunggu pesawat Batik Air mendarat lebih dulu. “Penerbangan di sini cukup padat,” kata Carl. Apalagi waktu itu ada pula latihan pesawat-pesawat TNI AU. Sekitar tiga menit menunggu, akhirnya kami terbang.

Di samping kanan Carl, duduk peminat dari Flybest Flight Academy. Carl pun menjelaskan beberapa fungsi avionik glass cockpit yang canggih. Selama terbang, suara mesin heli yang cukup senyap memberi ketenangan dalam menikmati kawasan Halim dari ketinggian. Cuma 10 menit terbang, tapi mengasyikkan.

Menyenangkan mengikuti tur demonstrasi helikopter ataupun pesawat baru yang akan dipasarkan di Indonesia. Namun sejak kecelakaan tur demo pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) di Gunung Salak pada 9 Mei 2012, nyaris tidak ada lagi aktivitas tersebut.

Saya beberapa kali mengikuti tur demo terbang, bahkan tahun 1990-an cukup kerap. Selain terbang dengan Concorde, satu lagi yang berkesan, yaitu diajak naik pesawat Airbus A340 dari pabrikannya. Tahun 1995 itu, pesawat tersebut ditawarkan pada Garuda Indonesia dan dirutnya Wage Mulyono beserta Tommy Suharto menjadi tamu kehormatan.

Pesawat wide body itu terbang dari Jakarta ke Bali. Mendarat dan masuk ke gedung VIP Bandara I Gusti Ngurah Rai, beberapa saat kemudian pesawat pun balik lagi ke Jakarta.

PR Airbus waktu itu, Sean Lee, menjelaskan tentang A340 dengan ramah. Saya sungguh terkesan, sehingga ketika tahun 2015 bertemu lagi di pusat simulator pesawat Lion Air Group, saya sempat menyapanya.

“Wow, itu 20 tahun lalu. Anda masih mengenal saya? Dulu saya handsome ya,” kata Sean sambil tersenyum. Saya terkesan karena begitulah sikap seorang public relation yang baik. Saya sebagai wartawan pemula bisa mengerti apa yang ingin disampaikannya dengan jelas.

Foto: Reni

Categories
Heedful

Indonesia Mengangkasa

Assalamualaikum semua …

Kita punya manufaktur atau pabrik pesawat PT Dirgantara Indonesia (PTDI), yang dikukuhkan pada 23 Agustus 1976. Kemarin PTDI berusia 42 tahun dan mulai besok (25/8/2018) dalam dua hari menyelenggarakan Festival Dirgantara Indonesia “Indonesia Mengangkasa” di Bandung.

Bicara PTDI yang dulu namanya PT Nurtanio kemudian Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), kesedihan itu masih ada. Sedih karena pesawat N250 tak jadi diproduksi. Namun kesedihan itu menjadi kenangan manis karena saya pernah sedikitnya ikut menyaksikan bagaimana proses dari first part cutting sampai penerbangan perdana “Sang Gatot Kaca” pada 10 Agustus 1995.

Pensiunan Garuda Indonesia, Prijastono Purwanto (Ipunk) juga pernah melontarkan kesedihan itu. Apalagi melihat perusahaannya, sewaktu ia menjabat sebagai vice president, mengoperasikan pesawat ATR 72-600 dan CRJ1000. “Ini kelasnya N250 dan N2130 yang dirancang IPTN,” ucapnya. Kalau saja N250 jadi diproduksi dan rancangan N2130 terwujud…

Ini memang Indonesia. Ada penyesalan di hati orang-orang yang cinta dirgantara, walaupun tidak harus menjadikannya patah semangat. Seperti beberapa orang yang masih berkiprah di PTDI kemudian membuat rancangan N219, yang diberi nama “Nurtanio” oleh Presiden Jokowi pada 10 November 2017.

Kelihatannya tidak mudah juga mewujudkan N219 Nurtanio untuk bisa terbang di bumi Nusantara ini. Baru puluhan jam terbang dikantonginya, dari tigaratusan jam terbang agar bisa mendapat sertifikasi. Targetnya, awal tahun 2019 memperoleh sertifikasi dan kemudian diproduksi. Kata Chief Test Pilot PTDI Capt Esther Gayatri Saleh, ini pesawat yang dari awal kita rancang. Prosesnya tidak semudah membalik telapak tangan.

PTDI rupanya tidak ingin terlalu mengekspose diri terkait proses N219 Nurtanio itu. Padahal kata mantan Dirut PTDI Jusman Sjafii Djamal, perancangan pesawat baru membutuhkan ekspose agar diketahui dunia internasional. Industri penerbangan memang sarat regulasi dan sangat erat kaitannya dengan dunia internasional.

Saya sangat bangga dengan akan hadirnya N219 Nurtanio. Semoga terwujud dan “Indonesia Mengangkasa” menjadi kenyataan.