Categories
Heedful

Mereka Bisa Menambah Jam Terbang

Assalamualaikum semua …

Berkumpul bersama belasan pilot pemula (ab initio) rasanya ikut muda lagi. Sama-sama ikut mendengarkan pengalaman Capt Fajar Nugroho, pilot Qatar Airways, dan sama-sama bertanya apa yang ingin ditanyakan. Semangatnya adalah agar pilot-pilot muda ini tidak patah semangat.

Belasan pilot itu berkumpul di hanggar Indonesia Flying Club (IFC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, tadi (22/9/2018) pagi sampai siang. Mereka rutin mengisi waktu sembari saling berbagi dan berdiskusi. Ada yang masih baru bergabung, memang. Walau masih malu-malu, tapi semua berbaur.

IFC atas inisiatif Capt Fajar membuka klubnya sebagai tempat berkumpul para pilot ab initio. Bukan hanya yang masih belum mendapat pekerjaan di airline, tapi yang kemudian beruntung diterima di airline pun masih berupaya untuk datang ke Pondok Cabe. Begitu juga dengan Capt Fajar, yang sengaja datang dari Doha, Qatar, dalam libur kerjanya untuk berbagi dengan para pilot muda itu.

Sigit Samsu, yang menyediakan dua pesawat Cessna 152 dan satu Cessna 172, senang melihat aktivitas di hanggar IFC. Bahkan dalam dua bulan terakhir, geliat aktivitasnya mulai terlihat nyata. Belasan pilot muda itu datang ke IFC, sebagian ada yang jadi anggota, sebagian lagi hanya mendaftar untuk ikut bergabung dan kumpul-kumpul. Semuanya diterima dengan baik oleh komunitas ini.

Setahun lalu, beberapa pilot muda sudah aktif di IFC, di antaranya ada Adel, Wisnu, Yanwar, dan Aldo. Mereka terbang dan menghidupkan pesawat-pesawat Cessna itu. Jam terbang dan pengetahuan, juga keterampilan dan sikap mereka, mengantarkan mereka lolos seleksi dan diterima di maskapai penerbangan. “Ada tujuh atau delapan ab initio yang sekarang sudah masuk airline,” kata Sigit.

Di IFC, pilot-pilot tersebut bisa menambah jam terbangnya. Untuk satu jam terbang dikenakan biaya Rp1,5juta untuk bahan bakar dan instruktur atau pendamping. Tambah jam terbang, tambah pengetahuan, tambah teman berbagi, bahkan networking yang positif.

“Jadilah Anda seorang pilot yang memiliki value,” kata Capt Vincent Raditya, pilot Batik Air, yang juga ikut kumpul-kumpul.

Foto: Reni

Categories
Heedful

Kerja Sama BRI-Lion Air Group: Punya Hati yang Baik

Assalamualaikum semua …

Bank BRI punya hati yang baik pada warga kita dengan banyak membantu WNI di Malaysia. WNI yang pulang ke Indonesia, entah karena ada kasus atau tidak, dibantu dan dilatih BRI. Banyak dari mereka yang sudah mendapat pelatihan, tidak balik lagi ke Malaysia, tapi bisa membuka usaha. BRI juga memberikan beasiswa untuk mahasiswa S1, bahkan kalau mereka pintar sampai S2.

Begitu yang dikatakan Pendiri Lion Air Group Rusdi Kirana yang juga Duta Besar RI di Malaysia, kenapa kemudian Lion Air Group menjalin kerja sama lagi dengan Bank BRI. Lagi, karena BRI yang bermitra dengan Lion Air Group sejak tahun 2016 sudah melakukan berbagai kerja sama, seperti pengelolaan payroll seluruh karyawan, manajemen, pilot, dan awak kabin, juga penggunaan cash card yang tersebar di seluruh distrik.

BRI juga turut serta dalam pembentukan UMKM Centre “Jendela Indonesia” untuk mendukung kinerja pengusaha UMKM di Indonesia dan menjadi sponsor utama dalam BRI-Lion Air Group Expedition 2018. Juga penyediaan aplikasi BRI-Lion Air Group host to host untuk memaksimalkan operasional pembayaran tiket melalui channel BRI (e-pay, ATM, travel agent online). Untuk pembayaran deposit top up travel agent juga melalui BRI, termasuk pemberian fasilitas stand by LC.

Kata Rusdi, hal-hal itulah yang menjadi dasar jalinan kerja sama tersebut. “BRI unggul bukan dari produk tapi hati. Keunggulan produknya marginal, sama dengan bank-bank lain,” ucapnya. pada acara penandatanganan kerja sama antara Direktur Hubungan Kelembagaan Bank BRI Sis Apik Wijayanto dengan Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait di Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Maka BRI pun resmi memfasilitasi pengelolaan keuangan Lion Air Group untuk layanan Cash Management System (CMS). BRI melakukan pengelolaan kas manajemen perusahaan menjadi lebih tepat waktu dan konsisten (real time), metode pengawasan semakin baik dan terkontrol, serta mengutamakan jaringan online yang terintegrasi.

CMS BRI meliputi Automatic Payment & Automatic Posting (host to host system). CMS BRI kepada Lion Air Group terdiri dari fasilitas pembayaran (payments), fitur account management (balance reporting), fitur liquidity management systems (LMS), manajemen rekening (account management), manajemen pembayaran (payables management), manajemen penerimaan (receivables management).

Kalau alasan Rusdi adalah hati yang baik, Direktur Utama Bank BRI Suprajarto menyebut dasar kerja sama berkelanjutan antara Bank BRI dengan Lion Air Group adalah layanan optimal bagi korporasi. “Dengan memanfaatkan CMS BRI, pengelolaan perusahaan menjadi efisien dan non-tunai (cashless) dengan mengedepankan prinsip good corporate governance,” ungkapnya.

Edward pun mengatakan, pihaknya dapat memroyeksikan proses transaksi bisnis dengan mudah melalui CMS BRI. “Layanan sistem cash management yang komprehensif dapat memperkuat transparansi, efisiensi, dan efektivitas dalam setiap proses transaksi,” ujarnya.

Banyak yang bisa dilakukan kalau melihatnya melalui hati. Ada trust atau rasa percaya yang menjadikan segala kemungkinan memungkinkan untuk direalisasikan. Satu langkah lagi dari Lion Air Group untuk memitigasi risiko jika rupiah terpuruk terhadap dollar AS.

Foto: Reni

Categories
Heedful

Peluang Bisnis Penerbangan Carter

Assalamualaikum semua …

Penerbangan carter di Indonesia memiliki peluang besar untuk bertumbuh. Maka penyelenggaraan IBCAS (International Business & Charter Association Summit) yang berlangsung di Jakarta 29-30 Agustus 2018 membuka banyak peluang tersebut.

Pemerintah juga memberikan dukungan dengan berbagai kemudahan dan aturan-aturan yang dikembangkan, juga membuka destinasi-destinasi potensial. Kepala Seksi Kerjasama Multilateral Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Aflaha Asri Nugraheni menjabarkan peluang-peluang itu, sebagai berikut.

Pertama, sebagai taksi udara bagi para eksekutif perusahaan;
Kedua, alat transportasi untuk VIP;
Ketiga, alat transportasi di perkotaan;
Keempat, masih menjanjikan di sektor perminyakan dan pertambangan;
Kelima, angkutan pariwisata, baik di darat maupun perairan atau laut;
Keenam, evakuasi medis atau medivac;
Ketujuh, alat transportasi udara perintis untuk penumpang dan kargo.

Kenyataannya, saat ini penerbangan carter masih belum tumbuh. Kala kegiatan di sektor migas menurun, penerbangan carter sebagai pendukungnya pun menurun pula. Rintisan untuk angkutan perkotaan seperti Helicity belum membuahkan hasil sesuai target. Namun pengelolanya masih tetap optimis, ke depan peminatnya bakal meningkat.

Pengguna penerbangan carter memang masih segelintir pengusaha multinasional, yang sebagian besar memiliki armadanya sendiri. Pertumbuhan yang cukup signifikan adalah pada middle class income, yang merupakan pasar potensial transportasi udara reguler. Mereka senang bepergian dan menjadikan wisata sebagai kebutuhan dan gaya hidup.

Dari tujuh poin tadi, poin kelima dan ketujuh memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Dengan pemerintah giat memajukan sektor pariwisata, penerbangan carter, baik dengan fixed wing maupun rotary wing, harus siap. Sementara untuk penerbangan perintis, setiap tahun operasionalnya tetap berjalan. Pekerjaan rumahnya adalah armada pesawatnya harus bertambah serta sistem pengelolaan dan operasionalnya dibenahi.

Categories
Heedful

Menilai Unit Layanan Publik

Assalamualaikum semua …

Indotrans Ekspo 2018 di Jakarta Convention Center sudah ditutup kemarin (18/9/2018). Gelaran pameran dalam rangka Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) tanggal 17 September ini juga bersamaan dengan penganugerahan Pelayanan Prima Unit Pelayan Publik Sektor Transportasi 2018.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam sambutan pembukaannya menyatakan ingin lebih memaknai Harhubnas dengan meningkatkan kualitas pada aspek keselamatan, keamanan, dan pelayanan. Maka dinilailah unit-unit pelayanan publik sektor transportasi, baik dalam lingkup pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), maupun swasta, di seluruh Indonesia. Apresiasi pun diucapkan Menhub bagi unit pelayanan publik yang sudah naik ke level utama.

Ada 179 unit layanan publik yang menjadi peserta, tapi hanya 166 unit yang dinilai. Tim penilai terdiri dari wakil Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kantor Staf Kepresidenan, Ombudsman, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), akademisi, pengamat transportasi, dan jurnalis.

Penilaiannya mengacu pada tiga asas yang paling penting dalam penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan Undang-Undang 25 tahun 2009, yaitu transparansi, aksesibilitas, dan partisipatif. Hasilnya, level Prima Utama diberikan pada 30 unit layanan, Prima Madya 85 unit, dan Prima Pratama 32 unit.

Tahun ini untuk kali pertama pameran pencapaian di sektor transportasi diselenggarakan lebih besar dengan nama Indotrans Expo yang berlangsung 17-18 September 2018. Namun diakui, pengunjungnya masih belum mencapai target jumlah yang diinginkan. “Bagus juga, pengunjung datang mengalir daripada membludak,” ujar Suroyo Alimoeso, Ketua Panitia Indotrans Expo 2018.

Diakuinya pula kalau penyelenggaraannya hanya dipromoskan dalam tiga bulan. Pada kesempatan selanjutnya, kata Suroyo, promosi bisa lebih gencar. Di sisi lain, partisipan pameran kurang antusias dan tidak mengikuti keinginan penyelenggara.

Mobil yang dipajang misalnya, Menhub inginnya mobil karya anak bangsa, tapi yang tampil mobil mewah dengan merek terkenal dari luar negeri. Begitu juga dengan aktivitas di gerai pameran. Di gerai Garuda Indonesia contohnya, akan lebih menarik jika membuat mini travel fair.

“Kekurangan dalam penyelenggaraan Indotrans Expo kali ini akan dikoreksi,” ucap Suroyo.

Categories
Heedful

Ternyata Berlatih Terbang Bisa Jenuh

Assalamualaikum semua …

Beruntung saya berkenalan dengan dua calon pilot helikopter yang istimewa; seorang pria hebat berusia 58 tahun dan seorang perempuan cantik enerjik berusia 22 tahun. Akhir tahun 2017 mereka mulai belajar terbang di Genesa Flight Academy dan berlatih privat di Lapangan Terbang Purdirga, Cibubur, Jakarta Timur.

Tadi (18/9/2018) siang, saya bertemu dengan mereka di kawasan Rempoa, Jakarta. Mereka ternyata belum mendapat lisensi terbang, PPL (Private Pilot License) apalagi CPL (Commercial Pilot License). Kesibukan yang menjadi hambatan, walaupun diakui keterampilan mereka dalam menerbangkan helikopter patut diacungi jempol.

Ternyata pula, berlatih terbang itu menimbulkan rasa jenuh; bukan hanya pada siswa tapi juga instrukturnya. Apalagi kalau area terbangnya di situ-situ saja dan tidak ada manuver terbang yang menantang. “Saya jenuh,” begitu alasan perempuan muda calon pilot helikopter itu.

“Untuk menghilangkan jenuh terkadang kami melakukan manuver quick stop,” katanya. Manuver terbang ini rupanya sedikit memacu adrenalin dan bisa mengikis kebosanan.

Untuk mengasah keahlian memang membutuhkan minat besar, tekad kuat, dan kesabaran. Lihat saja kisah para atlet peraih medali Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang yang sukses itu. Mereka berlatih sejak kecil, terus berlatih dan meningkatkan prestasi, sehingga berbuah manis bertahun-tahun kemudian.

Minat besar sampai memunculkan rasa cinta bisa pula menghilangkan kejenuhan. Ini yang kata istri almarhum Capt Toos Sanitioso, seorang pilot uji helikopter, ada pada diri suaminya. “Kalau pak Toos itu, sehari tidak terbang saja bisa uring-uringan. Pening kepala; pusing,” katanya. Maka ia pun memberi semangat pada calon pilot perempuan tersebut untuk terus berlatih dan memupuk rasa cinta terbang helikopter.

Sementara calon pilot pria sungguh cinta pada helikopter. Bukan lisensi yang menjadi tujuan utamanya tapi untuk memotivasi sesama pengusaha kaya agar berminat terbang. “Usia bukan masalah. Siapa pun bisa melakukannya dengan keinginan positif yang kuat,” katanya.

Kecintaannya pada penerbangan, terutama operasional helikopter, mendorongnya untuk berbuat lebih banyak. Dia ingin menggerakkan para pengusaha untuk turut serta membeli pesawat atau helikopter. Bisa dipakai sendiri atau dimanfaatkan para pilot yang membutuhkan jam terbang. Bahkan dukungan sarana transportasi udara bisa menjangkau berbagai sektor, termasuk pertanian, untuk menapak modernisasi.

Foto: Reni

Categories
Heedful

Ada Lagi Bagasi Rusak

Assalamualaikum semua …

Ada foto koper warna kuning yang rusak di salah satu whatsapp group. Tulisannya: “Prilaku Wings Air di Bandara Bali, koper gress baru hancur berantakan, padahal sdh ada stiker Fragile”.

Tentu saja foto itu ada yang menanggapi. Dialognya begini: “Kok bisa bolong begitu ya.” .. “Kayaknya dilempar Uda.”… “Waduh…nggak Baca atau nggak ngerti “fragile” doi bin..”

Itu benar-benar tulisan aslinya. Koper rusak itu milik seorang wartawan yang terbang dengan Wings Air dan mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Betul kalau untuk penanganan bagasi penumpang yang bertanggung jawab adalah maskapai penerbangan yang mengangkutnya. Makanya tudingan “yang merusakkan” koper itu pun dialamatkan pada Wings Air.

Umumnya yang menangani bagasi itu adalah perusahaan ground handling. Bukan bagian dari operator penerbangan, tapi perusahaan tersendiri, bisa anak usaha maskapai tersebut bisa juga perusahaan mandiri.

Garuda Indonesia misalnya, untuk penanganan check in, bagasi, dan lain-lain di bandara, adalah perusahaan ground handling PT Gapura Angkasa, yang dimiliki oleh Garuda dan PT Angkasa Pura II.

Grup Lion Air di Indonesia (Lion Air, Wings Air, Batik Air) ditangani oleh beberapa perusahaan ground handling, ada juga anak usahanya. Empat tahun lalu, di Bali ditangani perusahaan yang berbeda dengan yang di Jakarta atau bandara lainnya. Entah kalau sekarang semua ditangani anak usah Lion Air Group.

Ada juga perusahaan ground handling yang mandiri, PT Jasa Airport Service (JAS), yang kliennya lebih banyak maskapai penerbangan asing. Tentu standar penanganannya di bandara harus sesuai dengan apa yang menjadi standar maskapai-maskapai kliennya.

Mengenai kasus koper kuning tadi, Wings Air bertanggung jawab untuk mengganti kerugiannya. Namun Wings Air tentunya akan melakukan evaluasi para perusahaan ground handling-nya.

Perilaku yang ceroboh dalam menangani bagasi memang seringkali dikeluhkan penumpang. Bukan cuma kecerobohan, pendodosan dan pencurian bagasi pun masih terdengar.

Pemberian pelatihan dalam hal penanganan bagasi dan rasa tanggung jawab harus terus ditumbuhkan pada personelnya di lapangan. Pengawasan pun harus lebih diperketat, sebelum rasa tanggung jawab itu tumbuh dan melekat pada diri tiap personelnya. Dengan tak ada lagi keluhan tentang bagasi rusak atau didodos, bukan cuma menaikkan citra maskapai tapi juga bandara.

Categories
Heedful

Penerbangan ke Tasikmalaya Masih Ada

Assalamualaikum semua …

Penerbangan dari Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya, rupanya masih ada dari dan ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Padahal sebelumnya ada destinasi Bandara Adi Sumarmo, Solo, yang hanya operasi satu bulan, 28 Maret-25April 2018.

Tadi (16/9/2018) waktu reuni SMA Negeri 1 Tasikmalaya, seorang teman bertanya, kenapa rute penerbangan ke Solo tutup? Padahal harapan sewaktu rute Tasikmalaya-Solo dibuka, akan dibuka pula destinasi lain, seperti Yogyakarta dan Bandung.

Ketika rute Tasikmalaya-Solo akan ditutup, Wings Air beralasan kalau ada kendala teknis dalam rotasi pesawat. Kendala yang terkait dengan rotasi pesawat memang acapkali menjadikan suatu rute penerbangan ditutup sementara tapi tanpa batas waktu kapan bisa dibuka lagi.

Keterbatasan armada pesawat suatu maskapai penerbangan menjadi hambatan untuk ekspansi ke banyak destinasi. Solusinya bukan hanya dengan penambahan pesawat, tapi sistem manajemen rute dan personel penerbangan yang paling penting untuk ditingkatkan kapabilitasnya.

Maskapai penerbangan tentu memiliki pertimbangan kenapa suatu rute dibuka atau sebaliknya kenapa ditutup. Penumpang umumnya tak mau tahu soal pertimbangan itu, yang pasti penumpang akan senang ada banyak pilihan moda transportasi ketika suatu rute penerbangan dibuka dan kecewa ketika ditutup.

Seperti ketika rute Tasikmalaya-Jakarta dibuka 1 Juli 2016, yang diperjuangkan Pemkot Tasikmalaya selama 12 tahun, masyarakat Tasikmalaya senang. Teman reuni juga ada yang terbang dari Jakarta ke Tasikmalaya, walaupun terkadang mengeluhkan jadwal pulangnya yang tengah hari. “Kalau ada penerbangan sore dari Tasik, itu lebih baik. Jadinya kalau pulang ke Jakarta saya naik bus super eksekutif saja,” katanya. “Lama, bisa enam-delapan jam, tapi murah dan nyaman.”

Ya, bus super eksekutif jadi pilihan dan tarifnya ada yang Rp85.000 ada juga yang Rp125.000. Lebih murah daripada naik travel Jakarta-Bandung yang tarifnya antara Rp88.000-Rp160.000. Kalau naik pesawat tarifnya, Rp400.000-Rp700.000 dengan waktu tempuh 55 menit.

Sampai sekarang rute ini masih eksis diterbangi Wings Air, walaupun tidak setiap hari ada –padahal jadwalnya daily. Hanya Wings Air, padahal sewaktu meresmikan Bandara Wiriadinata menjadi bandara enclave sipil dan sehari kemudian meresmikan operasi penerbangannya, Presiden Joko Widodo yakin pada akhir tahun 2017 akan ada maskapai lain yang terbang ke Tasikmalaya.

Categories
Heedful

Ini Anak Muda Berdaya Saing Global

Assalamualaikum semua …

Ada dua anak muda kakak-adik asal Salatiga yang punya daya saing global. Namanya Arfi’an Fuadi dan M Arie Kurniawan. Mereka lulusan SMK, bukan perguruan tinggi hebat di luar negeri. Arfi’an lulusan SMK Negeri 7 Semarang tahun 2005, sedangkan Arie dari SMK Negeri 2 Salatiga tahun 2009; keduanya dari jurusan Otomotif.

Itu yang dikatakan Handry Satriago, CEO General Electric (GE) Indonesia dalam acara Workshop Learning Experience yang diselenggarakan Balitbang Perhubungan di Jakarta, Kamis (13/9/2018). Di hadapan para finalis “Transhub Challenge 2018” dari kalangan umum dan mahasiswa itu, Handry berbicara tentang leadership dan memotivasi agar generasi milenial memiliki daya saing global dengan mencontohkan dua anak muda tersebut.

Saya jadi teringat pada Arfi’an dan Arie sebagai pemenang pertama “GE 3D Printing Design Quest 2013”. Tantangannya dalam lomba itu adalah merancang ulang penahan (bracket) mesin pesawat jet. Desain karya mereka berhasil menyisihkan hampir 700 desain peserta yang berasal dari 56 negara. Desain bracket-nya sangat ringan, hanya 327 gram, 84% lebih ringan dari yang asli 2.033 gram.

Waktu mendengar Arfi’an dan Arie menang, Handry berseru, “Wow asyik, orang Indonesia menang!” Keunggulan desain mereka adalah dalam bobot yang sangat ringan. Dalam dunia aviasi, apa pun yang paling ringan akan memberikan efisiensi yang paling besar. “Mereka luar biasa; dari perjuangan dan cita-citanya,” katanya, sehingga ia tulis di twitter-nya: Dari rumah yang sederhana menghasilkan pemikiran yang luar biasa.

Kenapa Arfi’an dan Arie punya daya saing global? Karena mereka terus menerus menciptakan inovasi lewat DTech-Engineering yang didirikan tahun 2009 di Salatiga. Bukan sekadar inovasi karena dalam kamus mereka, “Inovasi tak ada gunanya kalau tidak ada keinginan besar. Inovasi hidup kalau punya tekad kuat dan keinginan yang besar.”

Dalam inovasi, mereka punya keinginan besar dan tak pernah lelah belajar. Untuk menciptakan produk inovatif, mereka mendengarkan keinginan klien. “Klien kami 70% senior engineer berpengalaman. Saya dapat ilmu karena saya diajari dulu kalau dapat pesanan,” kata Arfi’an sewaktu saya wawancara pada Agustus 2013 di Jakarta.

Sudah ratusan proyek desain inovatif hebat yang dikerjakan DTech bersama klien-klien di berbagai negara. Dari awalnya mendesain jarum untuk alat ukur di kapal dari klien seorang pengusaha Jerman sampai mendesain pesawat terbang ringan (ultralight) bersama klien di Wichita, AS.

Dalam berinteraksi dengan klien-klien, mereka punya prinsip: Kalau ingin meraih peluang, mereka juga harus jadi peluang. “Klien di Wichita melihat kami sebagai kesempatan. Kami pun melihat mereka sebagai kesempatan. Dalam inovasi, feedback-nya 4,9 dari 5 poin. Kami pertahankan inovasi dan berdedikasi pada klien. Desain kami juga detail,” kata Arfi’an.

Klien yang puas pun merekomendasikan mereka kepada teman-temannya. Mata rantai pemasaran yang hebat.

Categories
Heedful

Jasa Mereka Pasti Berarti

Assalamualaikum semua …

Nama-nama mantan direktur utama (dirut) PT Dirgantara Indonesia (PTDI) setelah era BJ Habibie disebut pada “Awarding Day” di hanggar Rotary Wing, Bandung, Rabu (12/9/2018). Ada nama Hari Laksono, kemudian Surasno Paramayuda, lanjut Jusman Sjafi’i Djamal, Edwin Sudarmo, dan Budi Santoso.

Sayangnya, mereka yang disebut sebagai penerima “Lifetime Award for Contributing Ideas for the Company” dan “Lifetime Award for the Outstanding Leadership for the Company” itu hanya Edwin dan Budi yang naik ke atas panggung.

Edwin, yang menjadi dirut tahun 2002-2005, menyampaikan rasa bangganya sempat menjadi seorang pilot uji. Pesannya, “Jadilah safe pilot dan selalu melakukan cek, cek, dan cek ketika akan terbang. Jangan sampai ada hal sekecil apa pun yang menjadi kesalahan.”

Ada jeda dua tahun sebelum Budi ditunjuk menjadi dirut setelah era Edwin. Masa itu tak ada dirut dan PTDI sudah dinyatakan pailit, tapi masih ada. Menurut Budi, ia dipanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk jadi dirut PTDI tahun 2007. “Saya tanya dulu, ini permintaan atau perintah? Karena kalau permintaan, saya menolak, tapi kalau perintah, saya harus menerima. Kata pak SBY, ini perintah!”

Jadilah Budi dirut perusahaan yang waktu itu statusnya pailit. “Mana ada dirut BUMN yang status perusahaannya pailit. Pesawat saja cuma ada satu di hanggar, padahal karyawannya masih banyak,” ungkapnya.

Awalnya tak ada bank yang mau memberikan dana untuk operasi perusahaan. Namun kemudian Bank BNI bersedia dengan agunan aset-aset PTDI, sehingga perusahaan pun mulai berjalan. “Untuk tambahan dana, kami mengajukan pula pada Bank BRI, tapi sudah tidak ada lagi yang bisa diagunkan. Namun BRI mau memberikan dananya,” ucap Budi.

Siapa pula yang menjadi dirut PTDI selama 11 tahun setelah era Habibie, selain Budi. PTDI pun mulai bangkit dan bisa membangun pesawat baru N219 Nurtanio, sampai bisa terbang perdana pada 16 Agustus 2017. Setelah ini, Budi pun diganti dirut yang sekarang, Elfien Goentoro.

Saya mengenal Hari, dirut pertama setelah Habibie, setelah wawancara dengannya sewaktu ia menjadi Kepala UMC (Universal Maintenance Center) pada tahun 1993. UMC adalah bagian dari IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara).

Kalau dengan Paramayuda, saya kenal sewaktu ia menjadi ketua panitia (steering committee) Indonesia Air Show 1996. Setelah Hari, ia jadi caretaker sebelum ada dirut baru semasa IPTN terimbas krisis moneter.

Dengan Jusman, saya pernah wawancara tentang nostalgia N250. Buku tentang N250 yang diterbitkan Angkasa tahun 2015 itu pun sebagian besar isinya berdasarkan keterangannya. Penjelasannya komprehensif, sehingga saya yang awam bisa memahaminya.

Mengingat mantan-mantan dirut PTDI pada peringatan ulang tahun BUMN strategis ke-42 ini memunculkan kenangan pada orang-orang hebat milik bangsa. Semoga kita tidak pernah melupakan jasa mereka karena walau dianggap sekecil apa pun, jasa mereka tetap dan pasti berarti.

Foto: PTDI

Categories
Heedful

Garuda Butuh Stabilitas

Assalamualaikum semua …

Garuda Indonesia ganti direktur utama lagi. Entah kenapa. “Karena saya tidak familiar dengan rencana-rencana Kementerian BUMN. Yang jelas, setiap organisasi perlu ‘stability’, sementara sejak awal tahun 2015 sampai hari jni Garuda sudah ada tiga CEO dan empat direktur niaga,” kata seorang teman, yang sebelumnya bekerja di Garuda Indonesia.

Teman saya tahu, stabilitas suatu organisasi sangat penting dan pengokoh stabilisasi organisasi itu adalah seorang direktur utama, termasuk para direksinya. Sayangnya, di maskapai penerbangan bintang lima ini tampaknya tidak ada “stability” itu.

Barangkali pada disruptive era ini –kalau kata CEO General Electric (GE) Indonesia Handry Satriago, disruptive era itu sudah ada sebelumnya, tapi sekarang kian terasa– pergantian pimpinan dalam waktu yang singkat itu bukan hal yang luar biasa. Namun kajian yang tepat pada semua aspeknya tetap tak bisa diabaikan.

Sayangnya pula, apa yang sudah dilakukan direksi sebelumnya seringkali terabaikan atau diabaikan direksi baru. Langkah-langkah yang sudah dikerjakan dengan pemikiran, tenaga, waktu, juga dana, seringkali pula tak berbekas. Hilang, bahkan merugikan berbagai pihak.

Harapannya tentu Garuda bisa semakin baik, lebih baik, dan menjadi yang terbaik. Sebagai masyarakat Indonesia, saya bangga punya Garuda, walaupun terkadang sedih kalau melihat kinerjanya tidak selayak suatu flag carrier yang punya nama besar di kancah penerbangan dunia.

Komisaris Utama Garuda Indonesia yang baru, Agus Santoso memberi gambaran apa yang akan disarankannya untuk pengembangan Garuda. “Penekanannya adalah untuk ekspansi penerbangan rute-rute internasional. Di regional dulu karena di sini pasarnya sangat potensial,” kata mantan Dirjen Perhubungan Udara ini ketika bertemu di Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Agus menjelaskan kalau rute Jakarta-Amsterdam sudah bagus. Sementara itu, sasaran yang dinilainya lebih menjanjikan daripada destinasi London adalah Paris. Untuk destinasi baru di Asia Pasifik akan dikaji dulu, rute mana yang prioritas untuk segera diterbangi.

Untuk rute-rute domestik, kata Agus, pasarnya sangat bagus. “Garuda hampir selalu penuh.” Namun ia ingin memetakan rute-rute domestik itu agar tidak saling mematikan antar-airline nasional. Jadi, tak akan ada lagi maskapai penerbangan berjadwal yang mati.