Categories
Heedful

Sanksi Tegas Buat Lion Air?

 

Assalamualaikum semua …

Innalillahi wainnailaihi rojiun … sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 Lion Air berregistrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 pada 29 Oktober 2018 mengingatkan kita pada kecelakaan QZ 8501. Peristiwanya terjadi pagi hari dan jatuh di perairan laut.

QZ 8501 adalah nomor penerbangan pesawat Airbus A320 AirAsia Indonesia yang terbang rute Surabaya-Singapura pada pagi 28 Desember 2014 itu. Pesawat jatuh di perairan dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dengan korban meninggal dunia 155 penumpang dan tujuh kru pesawat. Sementara JT 610 terbang rute Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta)-Pangkal Pinang (Bandara Depati Amir) dengan 181 penumpang dan delapan kru pesawat dan jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Waktu itu, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan bertindak tegas pada AirAsia. Sampai-sampai CEO AirAsia Group Tony Fernandes seringkali menyanyikan lagu “Let It Go” soundtrack film Frozen, jika disinggung soal kebijakan Menhub.

Dengan adanya kejadian serupa pada Lion Air, ada yang menyatakan, beranikah kita memberi sanksi tegas bagi Lion Air? Apalagi kemudian, kecelakaan itu dikaitkan pula pada soal delayed dan banyaknya Lion Air melanggar aturan.

Di mention twitter @IndoAviation, beberapa menulis: @lionairgroup sudah berkali-kali melanggar aturan. Mungkin ini adalah momen yg tepat untuk memberikan SANKSI TEGAS kpd @lionairgroup. Berani @IndoAviation?

Lion Air atau Lion Air Group? Bisa jadi sanksi tegas itu hanya untuk Lion Air. Kalau untuk Lion Air Group, apakah Batik Air dan Wings Air, bahkan Malindo Air dan ThaiLion Air juga, terkena sanksi? Mungkin karena satu grup dengan pendiri atau pemilik yang sama, mereka menyebut sanksinya untuk Lion Air Group.

Sampai malam ini (29/10/2018), belum ada pernyataan pejabat yang menyebut-nyebut soal sanksi kepada Lion Air. Semua fokus pada pencarian korban dan pesawat terbang. KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dan Badan SAR Nasional (Basarnas) bergerak cepat. Walaupun sampai pukul 22.00 belum terungkap ditemukannya badan pesawat ataupun blackbox.

Presiden Joko Widodo dalam pernyataan persnya mengatakan, “Semuanya sudah saya perintahkan untuk bekerja keras malam hari ini; 24 jam.”

Categories
Heedful

INACA Menyambut Lion Air Group

Assalamualaikum semua …

Rapat Umum Tahunan Anggota INACA (Indonesia National Air Carriers Association) kali ini lebih menarik. Pasalnya, Lion Air Group (Lion Air, Wings Air, Batik Air, juga Lion Bizjet) bergabung lagi di asosiasi perusahaan penerbangan-perusahaan penerbangan nasional ini. Pendiri Lion Air Group yang sekarang menjadi Duta Besar RI di Malaysia, Rusdi Kirana pun hadir pada pembukaannya di Jakarta, Kamis (25/10/2018) pagi.

“Lion Air Group kembali jadi anggota INACA,” kata I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Ketua Umum INACA yang baru, yang juga Direktur Utama Garuda Indonesia.

Askhara kabarnya mengajak Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait, (Edo) sebagai kenalan baiknya, untuk bergabung dengan INACA lagi. Edo rupanya bersedia dan hadir pula pada rapat tahunan itu. Sebelumnya, kalau ditanya kenapa tidak menjadi anggota INACA, Edo mengatakan bahwa suara dan pandangan INACA seringkali berbeda dengan Lion Air Group.

Hampir lima tahun –sejak Novermber 2013– Lion Air Group tak menjadi anggota INACA. Sejak itu pula, kalau INACA mengajukan usul, saran, atau imbauan, Lion Air Group tak ikut campur. Apalagi soal tarif batas bawah, yang pandangannya tidak sepaham. Jadi, kata Askhara, dengan masuknya lagi Lion Air Group, usulan INACA bisa lebih bulat dan kuat. Soal tarif batas bawah pun INACA belum akan mengotak-atiknya lagi.

Askhara juga mengatakan, maskapai bergabung dalam INACA tidak untuk mencampuri urusan bisnis masng-masing, tapi bersinergi. “Tadi pak Rusdi mengatakan, di sini kita akan melakukan share services dan centralize procurement, seperti simulator, agar cost bisa turun,” ucapnya.

Ditambahkannya bahwa INACA dengan suara bulat ingin lebih intensif berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan lain, terutama dengan regulator, pengelola bandara, dan pemasok bahan bakar (Pertamina). Tentang pengenaan tarif-tarif di bandara misalnya, INACA ingin aktif memberikan masukan, tidak asal menerima. Begitu juga dengan Pertamina, agar negosiasi tidak dilakukan masing-masing, tapi secara bulat dari asosiasi.

Hal menarik lainnya adalah tentang Ketua Umum INACA. Kata Sekjen INACA Tengku Burhanuddin, ketua adalah seorang direktur utama perusahaan penerbangan, baik yang reguler, carter, maupun kargo. Periode jabatannya tiga tahun (atau empat tahun?) dan bisa dua periode, setelah itu harus diganti dulu.

Kalau melihat yang menjabat Ketua Umum INACA sejak tahun 2013, juga menarik. Pada rapat umum tahunan anggota INACA di Surabaya pada November 2013, terpilih M. Arif Wibowo, yang saat itu Dirut Citilink Indonesia, menggantikan Emirsyah Satar yang Dirut Garuda Indonesia.

Pada 12 Desember 2014, Arif menjadi Dirut Garuda, menggantikan Emirsyah. Ketua Umum INACA tetap Arif, bukan Dirut Citilink yang baru, saat itu Albert Burhan. Arif pun dikukuhkan sebagai Ketua Umum INACA periode 2015-2018. Namun 12 April 2017, Arif diganti Pahala Nugraha Mansury, yang kemudian juga menjadi Ketua Umum INACA. Pada 12 September 2018, Pahala digantikan Askhara, yang kemarin dikukuhkan pula sebagai Ketua Umum INACA. Pada masa tersebut, Lion Air Group memang bukan lagi anggota INACA

Menurut Ketua Penerbangan Carter INACA yang juga CEO Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja, Garuda menjadi pilihan anggota INACA karena perusahaannya besar dan BUMN. Dirutnya memiliki akses dan koneksi yang luas pula. “Kalau perusahaannya kecil dan dirutnya tidak dikenal pula, siapa kamu? Kan begitu,” katanya.

Namun, kata Tengku, dirut maskapai apapun bisa menjadi Ketua Umum INACA asal dipilih anggota dan terpilih. “Pasti anggota memilih yang sosoknya bisa mewakili suara INACA, bukan sekadar ketua-ketua-an,” ujarnya.

Categories
Heedful

Rupanya di Tiap Sudut Bandara Sheremetyevo Ada Kios Berderet-deret

Assalamualaikum semua …

Masuk gerbang Terminal D Bandara Internasional Sheremetyevo (SVO) di Moskow, kios (tenant) bar & kitchen dan toko makanan ringan menyambut. Di depannya, kios self check in dan konter check in berjajar. Ternyata, sampai ke ruang boarding pun kios-kios berderet, sampai-sampai tempat duduk penumpang tak mencukupi.

Kios Bandara Sheremetyevo. Foto: Reni Rohmawati.

Pada 11 Oktober 2018 siang itu, perjalanan naik kereta dari St Petersburg ke Moskow berlanjut dengan terbang ke Riga di Latvia. Usai check in dan drop bagasi, mulailah penjelajahan di terminal SVO. Rupanya, walaupun check in di terminal D –pada tabel penerbangan tertulis konter D58-D90– ruang boarding-nya di terminal F. Jauh? Ya, waktu tempuhnya 20 menit selepas imigrasi dan security check.

Kami memang ke luar dari Rusia, maka penerbangannya pun internasional. Begitu telitinya petugas imigrasi Rusia memeriksa penumpang dan dokumen. Kita harus kontak mata sampai beberapa detik. Paspor pun diteliti detail, dilihat dengan kaca peneliti.

Peta Bandara Sheremetyevo. Foto: Reni Rohmawati.

Mulailah perjalanan ke area boarding di gate 48. Di sisi kiri berderet kursi duduk penumpang dengan pemandangan apron yang sibuk dan di kejauhan terlihat pesawat take off pada sekitar pukul 17.00 itu. Pesawat berlogo Aeroflot mendominasi karena SVO memang markasnya maskapai penerbangan berbendera (flag carrier) Rusia ini.

Perjalanan 20 menit tak begitu terasa karena kiri-kanan banyak yang bisa dilihat. Hanya jangan sampai mepet waktu karena bisa-bisa terlambat sampai area boarding. Gate 48 ternyata menyatu dengan gate 47. Kursi yang sedikit itu penuh! Pantas saja banyak penumpang yang duduk agak jauh dari pintu untuk naik ke pesawat, bahkan terpaksa duduk di kafe dengan hanya memesan segelas teh, kopi, atau jus. Terasa padat, tapi mungkin itulah cara pengelola bandara meraup pendapatan non-aeronautika yang besar.

Sampai waktu boarding diumumkan, petugas Aeroflot belum menyilakan naik pesawat karena masih banyak penumpang lewat di lorong yang sama untuk penerbangan lain; supaya tak keliru, saking padatnya. Beberapa menit kemudian barulah penumpang penerbangan SU 2680 tujuan Bandara Internasional Riga (RIX) boarding.

SVO merupakan bandara terbesar di Moskow. Mulai Mei 2018 ada terminal B, terminal yang baru selesai dibangun –terminal D, E, F merupakan terminal lama. Ada fasilitas aviametro di terminal B, menggunakan lift horizontal klasik dengan pintu kaca untuk mencapainya. Aviametro memiliki empat gerbong masing-masing berkapasitas delapan kursi dan 19 orang berdiri. Beroperasi tiap empat menit dengan waktu tempuh empat menit, menghubungkan terminal lama dan baru.

Categories
Heedful

Giliran Eksplorasi Saint Petersburg

Assalamualaikum semua …

Tak afdol rasanya kalau ke Rusia hanya mengunjungi Moskow, tapi tidak ke Saint Petersburg. Maka kami pun berkereta ke Leningrad, begitu nama sebelumnya, pada 7 Oktober 2018. Russian Railways menyediakan kereta cepat dari stasiun Leningradskiy, stasiun kereta di Moskow yang khusus untuk perjalanan ke stasiun Moskovskiy, stasiun di St Petersburg yang juga khusus membawa penumpang rute sebaliknya.

Banyak frekuensi perjalan rute Moskow – St Petersburg dalam sehari; kami mendapat kereta yang berangkat pukul 15.45 waktu setempat –lebih lambat empat jam dari waktu Jakarta. Perjalanannya tak lama, hanya empat jam sepuluh menit. Pemandangan selama perjalanan khas negara-negara di Eropa pada menjelang musim gugur. Pepohonannya sebagian tinggal ranting-ranting, sebagian daunnya menguning dan ada yang sudah oranye, tapi masih banyak juga pepohonan masih berdaun hijau.

Eksplorasi kota tua yang eksotis pun dimulai. Seperti di Moskow, kami juga menggunakan kereta bawah tanah metro di St Petersburg. Stasiun metronya tak seindah di Moskow, tapi tetap saja mengundang decak kagum melihat beberapa seni mozaik dindingnya. Kami mencoba pula naik bus dan angkutan umum, tapi sayang tak sempat naik trem kuno.

Mesjid Soekarno yang pertama kali kami kunjungi. Ceritanya, waktu Presiden Soekarno berkunjung ke Leningrad, sewaktu menjadi ibukota Uni Soviet, ingin sholat. Karena tak ada mesjid, Bung Karno meminta pada Pemerintah Uni Soviet untuk menggunakan gudang tak terpakai yang ada di sana dan membersihkannya. Diizinkan, dan rupanya setelah itu gudang tersebut dijadikan mesjid dan direnovasi menjadi mesjid indah berkubah biru toska.

Berkeliling museum Hermitage, tentu. Wow… luasnya! Tiga jam di sana hanya melihat sebagian kecil saja objek yang glamor peninggalan Tsar Russia. Ada juga objek dari beberapa istana di negara-negara Eropa lain, termasuk mumi dari Mesir.

Sehari sebelumnya, kami mengekplorasi Istana Peterhof, yang dijuluki “Istana Versailles Rusia”. Taman-tamannya, yang diselingi istana-istana, itu sungguh menakjubkan. Istana musim panas ini dibangun oleh Peter The Great, Tsar Ketiga yang memindahkan ibukota Uni Sovyet ke St Petersburg. Letaknya di luar kota St Petersburg, dengan area yang menghadap ke Laut Baltik.

Malam sebelum menikmati Istana Peterhof, kami masuk ke area panggung pertunjukan di Hermitage. Menonton balet, tentunya. Pertunjukan legendaris “Swan Lake One Leg” memberi kenangan yang tak terlupakan.

St Petersburg sekarang memang menjadi kota wisata unggulan di Rusia. Terlihat wisatawan dari Cina dan India banyak mengunjungi objek-objek wisata di kota tua yang indah ini. Walaupun masyarakatnya belum seterbuka negara-negara lain yang sudah menawarkan pariwisata dunia, tapi sambutan anak-anak mudanya lebih ramah.

Categories
Heedful

Menjelajah Stasiun Gaya Moskow

Assalamualaikum semua …

Andai saja kota-kota besar kita punya akses metro subway atau kereta bawah tanah, boleh jadi kemacetan tak akan terjadi. Apalagi jika stasiun metronya seperti di Moskow, yang menjadi objek wisata yang ikonik.

Stasiun metro di Moskow ibarat ruang bawah tanah sebuah gedung yang mewah. Ruangnya berlantai marmer dan granit, juga penuh dengan karya seni mengagumkan dari epos realisme sosialis. Sampai-sampai Russia Beyond the Headlines (RBTH) membuat rute wisata untuk menjelajahi stasiun-stasiun metro yang paling menarik di Moskow.

Ada 12 lini dan 196 stasiun metro di Moskow, 44 di antaranya memiliki kategori warisan budaya. Setiap tahun rata-rata tujuh juta penumpang menggunakan fasilitas stasiun bawah tanah tercantik di dunia ini. Dengan harga tiket yang hanya 28 rubel (sekitar Rp7.000), bisa masuk ke beberapa stasiun yang buka pukul 05.35-01.00 ini. Pada tahun 2020, Metro Moskow yang berdiri tahun 1935 ini berencana membangun 78 stasiun baru dan memperpanjang jangkauannya hingga lebih dari 160 kilometer.

Stasiun paling ikonik adalah Ploshchad Revolyutsii (Lapangan Revolusi), yang didesain oleh arsitek ternama Rusia Aleksei Dushkin. Ada 76 patung perunggu berupa figur yang mendukung revolusi Rusia karya pematung Matvey Manizer. Patung-patung besar ini ditempatkan di relung mungil dinding stasiun. Unik!

Sebenarnya, petualangan menjelajah stasiun bawah tanah bisa di Moskow dimulai dari lini biru tua di stasiun Elektrozavodskaya yang menghubungkan Arbatskaya-Pokrovskaya di timur. Plafonnya unik dengan 318 lampu dan relief pada pilar di aula utama. Stasiun yang mulanya dibangun untuk menjadi stasiun energi listrik ini desainnya terbuat dari marmer Prokhoro-Balandino (Chelyabinsk).

Keindahan lainnya bisa dinikmati di stasiun Kievskaya, yang merupakan proyek Nikita Khrushchev. Desain dengan 18 ornamen mozaik Ukraina ini mengisahkan tentang hubungan Rusia dan Ukraina sejak masa “Pereyaslav Rada”. Saat itu, suku Cossacks dari Zaporizhie bersatu dengan Rusia dan bersumpah untuk setia pada Tsar.

Ada lagi stasiun Taganskaya, yang bertemakan perang. Pilar-pilar besar dan dinding lengkung stasiun ini terbuat dari marmer berwarna terang dan dihiasi panel yang menggunakan teknik majolika. Warna birunya melambangkan Perang Rusia.

Gaya kubah Romawi kuno juga tak ketinggalan diterapkan di stasiun Belorusskaya. Di tengah plafon terdapat 12 ilustrasi kehidupan masyarakat Belarusia, sedangkan lantainya berhiaskan motif ornamen khas Belarusia.

Stasiun Komsomolskaya dua kali saya amati, selain stasiun Ploshchad Revolyutsii. Desainnya bermotif barok Moskow yang digunakan sejak sebelum revolusi. Inilah puncak dari gaya imperial metro Moskow dari masa Stalin.

Masih banyak stasiun yang bisa dieksplorasi, tapi waktu memang membatasi. Waktu memang mengiringi kita, bahkan seluas langit pun tetap ada batasnya.

Categories
Heedful

Menjejakkan Kaki di Moskow

Assalamualaikum semua …

Sampai juga kaki ini ke Red Square. Area paling hit di Moskow ini yang pertama dikunjungi dalam tur Moskow-Saint Petersburg pada 3-12 Oktober 2018. Area ini merupakan kawasan wisata sejarah Moskow, yang letaknya berdekatan. Ada St Basil Cathedral, Moscow Kremlin, Bolshoi Theatre, juga GUM Shopping Mall.

Di GUM Shopping Mall sedang diadakan tampilan aneka buah yang segar-segar, termasuk jus dan roti. Terbayang kan, ada anggur hijau dan ungu kehitaman yang ranum, delima, jeruk, apel, plum, kesemek kuning, peach, ceri, serta banyak lagi. Begitu juga di depan pintu masuk Red Square, aneka labu dipajang dan direka menjadi perahu, astronot, dan bentuk binatang. Ada juga labu raksasa berdiameter sekitar 70cm.

Berbagai area dijelajahi, termasuk kemudian bisa berkunjung dan sholat di Mesjid Katedral Moskow. Ini mesjid utama di Rusia, yang dibangun tahun 1904 sesuai rancangan arsitek Nikolay Zhukov dan sekarang menjalani pembangunan ulang. Mesjid ini dijuluki “Mesjid Tatar” karena didominasi oleh arsitektur Tatar.

Pasti yang paling diminati adalah The Memorial Museum of Cosmonautics. Museum yang dikenal juga sebagai Memorial Museum of Astronautics atau Memorial Museum of Space Exploration ini didedikasikan untuk mengeksplotasi ruang angkasa. Lokasinya di area monumen penguasaan ruang angkasa di timur laut kota Moskow.

Sejarah penerbangan, astronomi, eksplorasi dan teknologi ruang angkasa, serta seni dalam ruang angkasa, ditampilkan dengan menarik; mengundang penjelajahan ke semua sudut. Hampir dua jam penjelajahan di museum yang asyik ini.

Lanjut ke tempat indah dengan situs yang paling penting, yakni Air Mancur Persahabatan Rakyat. Air mancur di Taman VDNKh ini masih menjadi air mancur yang paling terkenal di Rusia. Katanya, situs ini seharusnya menjadi lokasi pembangunan monumen untuk Stalin. Namun pada tahun 1954 kultus pemujaan Stalin berakhir. Sebagai gantinya, dibangun air mancur yang dalam perencanaannya sebagai “Air Mancur Utama” di Rusia.

Air mancur ini juga aering disebut sebagai “Air Mancur Perempuan” atau “Air Mancur Emas” karena di sekitar mata air terdapat patung 16 perempuan mengenakan pakaian nasional bersepuh emas, yang masing-masing melambangkan 16 republik Soviet. Di tengahnya terdapat sejumput besar tanaman utama yang populer kala itu: gandum, bunga matahari, dan rami. Sayangnya, air mancur sedang direkonstruksi, sehingga hanya bisa difoto tanpa air mancur.

Categories
Heedful

Empat Jam Menunggu di Area Pengambilan Bagasi

Assalamualaikum semua …

Penerbangan sembilan jam dengan Thai Airways dari Bandara Internasional Suvarnabhumi (BKK), Bangkok, ke Bandara Internasional Domodedovo (DME), Moskow, cukup menyenangkan. Pesawat tak penuh, sehingga kami bisa leluasa bergerak. Ke lavatory pun tak harus antre.

Tiba sekitar pukul 16.00 waktu setempat atau pukul 20.00 waktu di Jakarta pada 4 Oktober 2018, disambut hawa dingin khas negara empat musim. Sampai di antrean imigrasi, cukup penuh karena areanya tak luas. Ruangnya bergaya zaman tahun 1990-an dengan ruang petugas bertutup kaca.

Lancar, walaupun memakan waktu lebih dari 40 menit karena prosesnya masih semi manual. Namun ada satu rekan seperjalanan yang terkena hambatan tertahan di ruang pemeriksaan. Tak ada pemeriksaan khusus, lebih karena kendala bahasa –banyak petugas imigrasinya tak bisa berbahasa Inggris– kiranya. Namun kami harus menunggu hampir empat jam, sampai akhirnya rekan tersebut lolos juga.

Menunggu di area pengambilan bagasi menyenangkan juga. Ada tiga conveyor belt di sana dan bergerak terus mengeluarkan bagasi-bagasi penumpang. Menyenangkan melihat banyak penumpang dari berbagai negara yang turun dari pesawat milik Emirates, Ural Airways, atau S7, beberapa maskapai yang terbang ke DME.

Setelah beres urusan di bandara, kami naik AeroExpress, kereta bandara, menuju hotel tempat menginap di area Paveletskaya Square, Moskow. Untuk sampai ke stasiun kereta, kamk naik ke area keberangkatan. Pada pukul 21.00 itu ruang check in DME penuh orang. Moskow sekarang memang terbuka dan mulai banyak diminati wisatawan, khususnya dari Asia.

Disambut hujan tak lebat, kami keluar terminal menuju gerbang ke stasiun AeroExpress. Tak jauh, hanya sekitar 50 meter. Beli tiket di konter stasiun dengan tarif keluarga (family) lebih murah daripada harga satuan. Satu keluarga empat orang tarifnya 900 rubel, kalau per orang 500 rubel. Untuk tiket per orang bisa juga beli lewat mesin yang ada di terminal bandara.

Hanya satu rute kereta dari bandara, yakni stasiun DME-stasiun Paveletskaya dan sebaliknya. Seperti kereta bandara di Jakarta, tidak penuh penumpang. Waktu tempuhnya sekitar satu jam. Sampai juga ke hotel yang bersih dan nyaman, Istirahat untuk besok memulai mengeksplorasi Moskow, yang pertama Red Square.

Categories
Heedful

Animasi Menarik di Thai Airways

Assalamualaikum semua …

Ini kali kedua saya terbang dengan Thai Airways. Pertama kali terbang pada tahun 2002 atas undangan PT Aviotech International, perusahaan jasa perawatan mesin pesawat terbang di Indonesia. Duduknya di kelas bisnis, dijemput di Bangkok-nya pun dengan limousine.

“Nanti bisa lihat, mesin pesawat klien kami dirawat di MRO (maintenance repair overhaul) milik Thai Airways,” kata Ismail R Razak, CEO Aviotech.

Sejak tahun 2004, saya tak mendengar lagi kabar Aviotech. Saya memang dipindahkan ke media yang isinya tentang arsitektur dan interior. Lost contact. Setelah saya cari, rupanya Pak Ismail mendirikan Cepot Group tahun 2013. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas pemberian ilmu, pengetahuan, dan pengalaman, terlebih penghargaannya tersebut.

Thai Airways Animation

Pada pengalaman kedua terbang dengan Thai Airways, saya menemukan hal menarik. Pertama, announcement prosedur keselamatan penerbangan yang ditayangkan di layar tv di kursi dibuat dengan animasi khas Thailand. Membuat fokus penumpang, apalagi yang baru pertama kali melihatnya.

Thai Airways Animation

Pramugari memeragakan penggunaan life vest misalnya, atraktif di antara animasi teratai, kupu-kupu, dan burung bangau. Tayangan tak harus di kabin pesawat sebenarnya, yang penting pesan safety-nya sampai pada penumpang.

Kedua, sebelum mendarat Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok, ditayangkan peta bandara: di mana imigrasi, ambil bagasi, sampai tempat taksi, bus, juga kereta. Jadi, kita tak terlalu buta ketika mendarat di bandara yang barangkali baru pertama kita injak.

Sebelumnya, peristiwa 12 anak dan seorang pelatih yang terjebak di gua dan menjadi perhatian dunia juga ditampilkan. Thailand berterima kasih dan inti pesannya, “Dunia adalah Satu”.

Yang jadi perhatian pula, pada penerbangan Jakarta-Bangkok dan Bangkok-Moskow, cukup banyak penumpang Indonesia. Di antaranya ada sekitar 30 remaja lulusan SMA yang akan kuliah di Rusia.

Categories
Heedful

Jalan Melelahkan di Terminal Bandara

Assalamualaikum semua …

Perjalanan saya ke Rusia dimulai kemarin (3/10/2018). Tidak naik Aeroflot, maskapai Rusia, dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang ke Bandara Internasional Domodedovo di Moskow, tapi terbang dengan Thai Airways. Jadi, kami transit di Bandara Internasional Suvarnabhumi dan bermalam dulu di hotel transit di Bangkok.

“Kita nggak terbang dari Terminal 2 lagi. Thai sudah pindah ke Terminal 3 per Mei (2018).”

“Wah, jalannya jauh nggak ya? Cape, mbak!”

“Kalau berangkat di terminal internasional, nggak jauh. Domestik iya ada yang jauh kalau jalan sampai gate 20-an. Pulangnya, di internasional ya jauh juga.”

Begitu percakapan di chat grup teman-teman seperjalanan. Beberapa teman yang sering terbang dengan Garuda Indonesia memang mengeluhkan melelahkannya jalan menuju pintu keberangkatan dan kepulangan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Padahal betapa jauhnya juga pintu keberangkatan dan kedatangan di bandara-bandara internasional lainnya. Sebut Bandara Internasional Changi di Singapura, Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan, atau Bandara Internasional Suvarnabhumi, walau jauh tapi tak terasa melelahkan.

Pandangan subjektif? Bisa jadi. Namun keluhan dari seorang pengguna jasa bandara pun patut dikaji. Kenapa? Apa yang harus diubah?

Satu lagi. Di Terminal 3 internasional itu, setelah melewati imigrasi tak banyak restorannya, beda dengan di domestik. Teman yang lapar kecele. Jadinya, beli dan makan burger saja.

Categories
Heedful

Bencana Alam Kita

Assalamualaikum semua …

Gempa bumi, tsunami, erupsi gunung, tanah longsor, angin puting beliung, banjir bandang. Inilah bencana-bencana alam yang kita tak bisa mengelakkannya. Ada pencegahannya, tapi bisa jadi hanya penundaan. Karena alam makin tua, kita pun tak lagi menghormatinya.

Alam dan manusia ibarat orangtua dan anaknya. Alam yang muda begitu memanjakan manusia. Namun ketika alam menua dan kian rewel, manusia umumnya tak mau memanjakannya. Alam pasti sedih dan kesal. Lantas seolah-olah cerita Malin Kundang, dikutuklah manusia jadi batu, yang diawali dengan bencana-bencana.

Itu hanya cerita. Kenyataannya, kita sekarang sedang dilanda bencana-bencana. Berturut-turut dan menelan korban jiwa ratusan bahkan ribuan orang. Saya sangat yakin dengan innalillahi wainnailaihi rojiun (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jualah kami kembali).

Tadi (3/10/2018) pagi terjadi erupsi Gunung Soputan di Sulawesi Utara. Tinggi kolom abu teramati ± 4.000 meter di atas puncak atau ± 5.809 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga cokelat dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut.

Berdasarkan pengamatan KESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunungapi Soputan, erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 39 milimeter dan durasi ± 6 menit. Statusnya tadi, Level III (Siaga).

Imbauannya, masyarakat agar tidak beraktivitas di seluruh area pada radius 4 km dari puncak Gunung Soputan dan di area perluasan sektoral ke arah barat-barat daya sejauh 6,5 km dari puncak. Area ini merupakan daerah bukaan kawah untuk menghindari potensi ancaman guguran lava dan awan panas.

Sebagai antisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu, masyarakat sekitar dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut. Waspada juga pada potensi ancaman aliran lahar yang dapat terjadi setelah terjadinya erupsi. Material erupsi terbawa oleh air, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng Gunung Soputan, antara lain, Sungai Ranowangko, Sungai Lawian, Sungai Popang, dan Londola Kelewahu.

Itu bencana alam kita. Imbauan ahli kita ikuti, selanjutnya kita serahkan pada Allah swt.

Foto: KESDM Badan Geologi