INACA Tidak Setuju Izin Delapan Maskapai Dibekukan



Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan selaku regulator penerbangan di Indonesia mengancam akan membekukan izin usaha delapan maskapai penerbangan. Alasannya, delapan maskapai penerbangan itu belum memenuhi syarat kepemilikan dan pengoperasian pesawat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.

Delapan maskapai penerbangan yang izinnya terancam dibekukan itu antara lain Indonesia AirAsia X, TransNusa Aviation Mandiri, Aviastar Mandiri, Jayawijaya Dirgantara, MyIndo Airlines, TRI MG Intra Asia, Asian One Air, dan Matthew Air Nusantara.

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menyayangkan langkah Kementerian Perhubungan yang mengancam akan membekukan izin usaha delapan maskapai penerbangan tersebut. INACA menilai, pembekuan izin usaha yang akan dilakukan oleh Kementerian Perhubungan di tengah kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang tidaklah tepat.

Sekretaris Jenderal INACA Tengku Burhanudin mengatakan, pembekuan izin usaha maskapai penerbangan hanya akan mengganggu perekonomian yang sedang tumbuh. “Kalau dibekukan karena masalah kepemilikan pesawat, saya kurang sependapat. Harusnya ada relaksasi ekonomi, jangan terburu-buru,” ujar Tengku.

Menurut Tengku, salah satu maskapai penerbangan yang izinnya terancam dibekukan mengantongi dua izin sekaligus, yaitu izin sebagai maskapai penerbangan charter dan maskapai penerbangan berjadwal. Maskapai penerbangan itu adalah TransNusa Aviation Mandiri. “Dia beroperasi di daerah timur, kalau dibunuh kan jadi terganggu ekonomi,” katanya.

Selain TransNusa Aviation Mandiri, Tengku juga mencontohkan Indonesia AirAsia X yang sedang fokus dalam menggarap rute-rute penerbangan internasional. Perusahaan penerbangan berbiaya rendah yang berafiliasi dengan AirAsia X asal Malaysia ini sedang berupaya mendatangkan banyak wisatawan asing ke Indonesia. Tengku menuturkan, melihat kondisi ini harusnya Kementerian Perhubungan harus lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. “Ekonomi harus bergerak dulu, jangan dibebani,” imbuhnya.

Foto: Wikimedia

Be the first to comment

Leave a Reply