Hari ini, 40 Tahun Peristiwa Tenerife



Pada 27 Maret 1977, menjadi hari yang kelam bagi dunia penerbangan. Pada hari itu dua buah Boeing 747 yang masing-masing dioperasikan oleh maskapai penerbangan asal Amerika Serikat, Pan Am dan maskapai penerbangan asal Belanda, KLM, bertabrakan satu sama lain di Bandara Los Rodeos, Tenerife, Spanyol. Sebanyak 583 orang tewas dalam musibah ini, menjadikannya sebagai peristiwa kecelakaan penerbangan paling mematikan dalam sejarah penerbangan.

Bermula dari serangan bom yang menimpa Bandara Gran Canaria, Spanyol, memaksa sejumlah pesawat untuk mengalihkan tujuannya ke Bandara Los Rodeos, di mana bandara ini berukuran kecil sehingga memaksa petugas air traffic control memarkir pesawat di jalur taxiway. Beberapa jam kemudian, Bandara Gran Canaria dibuka kembali. Dikarenakan penuhnya taxiway oleh berbagai pesawat, memaksa pesawat Pan Am dengan nomor penerbangan 1736 dan KLM dengan nomor penerbangan 4805 untuk melakukan taxi di landasan yang juga digunakan untuk lepas landas. Pada saat yang bersamaan, kabut yang sering terjadi di Los Rodeos juga membatasi jarak pandang, baik bagi pilot maupun petugas ATC.

Pesawat KLM mendapatkan clearance untuk taxi ke ujung landasan pada pukul 4.40 sore, sedangkan Pan Am diinstruksikan untuk mengikuti di belakang KLM dan keluar pada taxiway dan menggunakan parallel taxiway untuk bersiap lepas landas.

Namun, kondisi kabut yang tebal di mana Los Rodeos berada pada ketinggian 633 meter di atas permukaan laut mengakibatkan kebiasaan awan yang berbeda dengan di bandara lainnya membuat pilot Pan Am mendapatkan jarak pandang yang rendah dan cepat memburuk, segera seteah pesawat Pan Am memasuki landasan pacu. Selain itu, kesalahpahaman antara ATC dengan pilot KLM di mana pilot KLM tidak memahami bahasa Inggris dengan kental, justru bersiap untuk lepas landas ketika pesawat Pan Am belum keluar dari landasan.

Segera setelah melihat pesawat KLM melaju di landasan pacu, pilot Pan Am sesegera mungkin untuk keluar dari landasan dengan full power. Selain itu, pilot KLM yang melihat pesawat Pan Am di landasan justru menaikkan pesawat (rotate) lebih awal dan menyebabkan tailstrike sepanjang 22 meter.

Pesawat KLM berjarak 100 meter dari Pan Am ketika lepas landas. Mesin, fuselage bawah dan main landng gear pesawat KLM menabrak sisi atas kanan pesawat Pan Am dengan kecepatan 140 knot, merobek fuselage pesawat Pan Am. Mesin sisi kanan menerobos dek atas Pan Am dengan segera di belakang kokpit. Pesawat KLM sempat mengudara, tetapi dampak tabrakan dengan Pan Am telah memotong mesin kiri luar yang menyebabkan sebagian besar badan pesawat KLM rusak. Setelah itu, pesawat KLM mengalami stall dan menghantam tanah di titik sekitar 150 meter dari tabrakan dan meluncur 300 meter dari landasan. Kedua pesawat mengalami kerusakan berat. Sebanyak 234 penumpang dan 14 awak pesawat KLM tewas. Selain itu, 326 penumpang dan 9 awak pesawat Pan Am juga tewas. Hanya 54 penumpang dan 7 awak pesawat Pan Am yang selamat.

Dari hasil investigasi menunjukkan bahwa selain pilot KLM yang mengusahakan pesawat lepas landas tanpa izin ATC, kecelakaan ini juga disebabkan oleh kebingungan kedua pilot pesawat oleh instruksi ATC, yaitu masalah bahasa, di mana bahasa Inggris dengan aksen Spanyol membingungkan awak pesawat. Selain itu, pilot KLM juga tidak menggunakan bahasa standar penerbangan ketika berkomunikasi dengan ATC. Peralatan komunikasi serta peralatan darat lain ditambah kabut tebal juga berkontribusi dalam musibah besar ini.

Foto: Istimewa

2 Comments

Leave a Reply