Harga Saham Garuda Indonesia Tak Kunjung Bergerak Naik



Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia melaporkan keuntungan sebesar US$ 50,12 juta pada kuartal ketiga 2015. Angka itu mengalami kenaikan yang sangat signifikan dibandingkan dengan kerugian sebesar US$ 222,3 juta pada laporan keuangan kuartal ketiga 2014. Akan tetapi, keuntungan yang dicatatkan oleh Garuda Indonesia itu belum bisa mengerek harga saham perseroan yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Analis PT KDB Daewoo Securities Franky Rivan mengatakan bahwa keuntungan yang didapatkan oleh Garuda Indonesia di kuartal ketiga 2015 dipengaruhi oleh turunnya harga minyak dunia. Biaya bahan bakar dalam operasional Garuda Indonesia berkontribusi sebesar 29 persen di kuartal ketiga 2015, turun angka 34 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Bila harga minyak jet tidak jatuh sebanyak itu, maka perseroan akan sulit membuahkan keuntungan lantaran pendapatan turun 0,5 persen kuartal per kuartal, apabila mengecualikan pendapatan haji pada kuartal ketiga 2015,” tuturnya.

Menurut Franky, meskipun kinerja Garuda Indonesia sudah cukup membaik, namun harga sahamnya terus mengalami tekanan. Saham Garuda Indonesia berada di level harga tertinggi Rp 435 pada 5 Agustus 2015, kemudian merosot tajam ke angka Rp 316 per lembar saham pada 8 Desember 2015. Musim liburan akhir tahun diharapkan dapat mendongkrak kinerja keuangan Garuda Indonesia, sehingga harga sahamnya pun ikut terkerek naik. Apalagi melihat tren selama empat tahun terakhir, Garuda Indonesia membukukan pendapatan yang baik di kuartal keempat, dengan rata-rata kenaikan sebesar 15 persen kuartal per kuartal.

Foto: Leonardo Kosasih/PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

Be the first to comment

Leave a Reply