Garuda Wisnu Kencana, Mahakarya yang Tertunda



Patung dewa pemelihara dalam agama Hindu karya I Nyoman Nuarta ini memang belum selesai dibuat. Namun, potongan-potongan yang menjadi bagian dari pating tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi yang terbesar di dunia mengalahkan patung Liberty

Pendaratan di Denpasar Bali siang itu berlangsung lancar dan tanpa kendala diiringi dengan cuaca yang cerah. Masih ada banyak waktu untuk menikmati susasa pulau Bali di tengah cuaca yang sempurna ini. Naluri fotografi langsungberbicara.

Setibanya di Hotel saya langsung mempersiapkan kamera dan bergegas menuju ke jasa penyewaan motor yang terletak di seberang hotel tempat saya menginap. Sebuah motor usang dengan konsumsi bensin yang diatas rata-rata membuat saya harus menuntun motor tersebut lantaran habis bensin sebelum tiba di stasiun pengisian bahan bakar yang berjarak 1 km dari tempat jasa penyewaan motor dengan ditemani oleh sebuah helm usang yang memiliki aroma khas pengusir tikus dan binatang lainnya sebagai paket dari penyewaan motor tersebut.

Semua tantangan di awal perjalanan menuju ke kawasan Garuda Wisnu Kencana ini sama sekali tidak memupuskan niat saya untuk memotret. Cuaca yang baik ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Hari itu adalah kali pertama saya berkunjung ke kawasan wisata Garuda Wisnu Kencana di pulau Bali. Jarak sekitar 30 km yang saya tempuh dari kawasan Sanur tidak terasa melelahkan dan jauh dengan sebuah sepeda motor yang memiliki kecepatan diatas rata-rata dan boros bahan bakar ini.

Sesampainya di kawasan GWK, saya menghabiskan waktu dengan mengamai hasil karya seni manusia yang belum selesai ini. Saya hanya berpikir dan berpendapat, ketidakselesaian karya seni agung ini dengan bongkahan batu serta patung utama yang masih tercerai berai menjadikan kawasan ini mempunyai daya tarik sendiri di benak saya.