Garuda Maintenance Facility Tawarkan 10 Miliar Lebih Saham



GMF menawarkan saham. Foto: Reni Rohmawati.

Demi Jadi 10 MRO Terbaik Dunia, Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia menawarkan 10.890.068.700 lembar saham kepada publik, yang keseluruhannya merupakan saham baru. Jumlah tersebut, yang per lembarnya senilai antara Rp390-Rp510 itu, setara dengan 30 persen dari jumlah modal disetor perusahaan.

“GMF merupakan perusahaan MRO (maintenance repair overhaul) pesawat terbang terbesar di domestik. Sekarang kita menjadi MRO ke-13 terbaik di dunia. Kita jual saham agar aset terbaik ini dimiliki bangsa dan menjadi aset yang membanggarakan,” ujar Iwan Joeniarto, Direktur Utama GMF AeroAsia usai Paparan Publik (Public Expose) dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Jakarta, Senin (11/9/2017).

Paparan publik IPO GMF itu merupakan yang terbesar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017. Penawaran IPO GMF, perusahaan MRO pertama yang IPO di Indonesia, akan belangsung 2-4 Oktober 2017. “Dalam 17 tahun terakhir ini belum ada lagi MRO yang melakukan IPO, yang terakhir adalah Singapore International Airline Engineering,” ungkap Iwan.

Menurut Iwan, IPO merupakan langkah strategis untuk menjadikan GMF “Top Ten MRO in The World” atau 10 MRO terbaik dunia dengan pendapatan 1 miliar dollar AS pada tahun 2021. “Dengan manajemen yang kompeten dan teknisi yang andal, serta rekam jejak perusahaan dan prospek usaha yang baik, kami yakin IPO GMF akan mendapat respons positif dari investor,” tuturnya.

Komisaris Utama GMF, Helmi Imam Satriyono mengatakan, dengan IPO, GMF akan menjadi perusahaan publik yang harus menunjukkan kinerja positif kepada seluruh stakeholders dan shareholders. “GMF mutlak menerapkan good corporate governance yang lebih baik guna memberikan nilai tambah dan kepercayaan bagi para stakeholders dan shareholders,” katanya.

Dalam aksi korporasi GMF itu, PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT BNI Securities, bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Saham (underwriters). Keempat underwriters tersebut memberikan kesanggupan penuh terhadap seluruh saham yang ditawarkan.

Iwan menjelaskan, saham yang ditawarkan itu bukan hanya untuk publik, tapi juga manajemen dan karyawan GMF. Nantinya, dana dari IPO GMF tersebut, 60 persen untuk belanja modal guna kebutuhan ekspansi, 25 persen untuk modal kerja perusahaan, dan 15 persen untuk refinancing berupa pelunasan utang-utang GMF. “Ini dilakukan supaya jalannya GMF smooth ke depannya,” ujarnya.

Rencana ekspansi GMF fokus pada peningkatan kapasitas dan kapabilitas dengan memperbarui teknologi dan keterampilan sumber daya manusia. Dengan demikian, GMF dapat menjadi Total Solutions Provider yang memberikan layanan terintegrasi bagi pelanggannya. “Layanan kami dari hulu sampe ke hilir, sehingga dapat memberi kemudahan bagi pelanggan kami,” papar Iwan.

GMF juga akan melakukan pengembangan perusahaan dengan memperbesar pasar dan menambah footprint global dengan mengembangkan kapabilitas di luar negeri, juga bekerja sama dengan MRO lokal. “Joint operational atau joint venture akan dilakukan untuk mendekatkan diri dengan pelanggan kami,” ujar Iwan.

Berdasarkan riset dari Canadian Association of Marketing Research Organizations (CAMRO), kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah diperhitungkan akan mengalami kenaikan jumlah pesawat terbang dan pertumbuhan MRO tertinggi. Maka GMF akan melakukan ekspansi
di kawasan Asia Timur, Timur Tengah, dan Australia karena ada peluang ekspansi dan pasarnya potensial.

Iwan menggambarkan bahwa MRO merupakan industri yang aman, walaupun entry barrier-nya tinggi. “Industri ini tak bisa dibangun dalam sekejap,” ucapnya. Industri MRO juga
menguntungkan karena dengan bertambahnya jumlah pesawat udara pasti membutuhkan bengkel perawatan. “Marginnya dua digit dalam dollar AS dan margin laba GMF naik 16 persen tahun 2016.”

Di pasar domestik, prospeknya sangat besar. Anggaran perawatan pesawat tahun ini sekitar 1 miliar dollar AS. Walaupun demikian, kata Iwan, “GMF baru menyerap 32 persennya dan sisanya masih ke MRO luar negeri.” Tahun 2021, anggaran tersebut akan naik sampai mencapai 1,6 miliar dollar AS. Bahkan di kawasan global, pada tahun itu anggarannya mencapai 8,96 miliar dollar AS.

GMF merupakan market leader di Indonesia dan salah satu pemain utama di Asia. Catatan historisnya baik hingga tahun buku tahun 2016. EBITDA margin GMF 26 persen, tercatat sebagai yang tertinggi di industri MRO. Pertumbuhan pendapatan secara konsisten mencapai dua digit selama tiga tahun terakhir, dengan 27,18 persen pada tahun 2016. Pendapatanya 389 juta dollar AS tahun 2016 dengan laba bersih 57,7 juta dollar AS.

“Sampai Agustus 2017 ini, pendapatan GMF mencapai 202 juta dollar AS. Profit naik 60 persen. Kami juga melakukan efisiensi yang signifikan hingga 25 juta dollar AS, seperti perbaikan kontrak, negosiasi, dan lainnya,” ucap Iwan, yang optimis IPO GMF berjalan lancar.

Be the first to comment

Leave a Reply