Garuda Kurang Sepakat dengan Penurunan Tarif Batas Bawah



Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah memutuskan menurunkan tarif batas bawah penerbangan yang semula 40 persen dari tarif batas atas menjadi 30 persen saja. Penurunan tarif batas bawah itu dilakukan karena daya beli masyarakat yang menurun akibat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat. Jika tarif batas bawah tidak diturunkan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan khawatir tingkat isian kursi pesawat bakal rendah. Meskipun demikian, pemerintah juga menaikkan tarif batas atas tiket kelas ekonomi sebesar 10 persen untuk memberikan kompensasi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menanggapi hal itu, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia mengaku kurang sepakat dengan keputusan dari pemerintah. Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, penurunan tarif batas bawah bisa membuat perusahaan yang dipimpinnya itu merugi. Apalagi saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sedang melemah. “Itu diputuskan keseluruhan, pengaruhnya batas atas dinaikkan, peak season naik paling kecil 10 persen maka tingkatkan penjualan lebih baik. Batas atas dinaikkan tarif kita pasti akan sesuaikan,” tutur Arif.

Menurut Arif, meskipun kurang sepakat dengan penurunan tarif batas bawah, pihaknya akan mengikuti keputusan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Dia juga mengatakan penurunan tarif batas bawah tidak akan mengurangi standar keamanan dan keselamatan penerbangan Garuda Indonesia. “Kalau sudah diputuskan oleh pihak kementerian, ya kita ikutin mereka saja. Kan sudah diturunkan batas atas itu menteri yang sudah putuskan, jadi ya akan berpengaruh bagi perusahaan,” tambahnya.

Foto: Joe Roland S. Bokau/PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

Be the first to comment

Leave a Reply