Eksotisme Taman Air Keraton Yogyakarta



Awalnya dikenal dengan Istana Air karena dulunya berada ditengah danau, Taman Sari yang berarti “taman yang indah” merupakan tempat pesanggrahan Sultan dan kerabat istana, juga tempat permandian para selir Sultan.

Aura romantis dengan paduan arsitektur pertengahan abad ke-18 begitu terasa begitu memasuki pintu gerbangnya. Berada di tengah danau buatan (dalam bahasa Jawa disebut sebagai Segaran), yang membuat tempat ini hanya bisa dikunjungi oleh keluarga Raja pada waktu itu.

Dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1757 dan selesai pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II, tempat ini dirancang sebagai taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta. Kebun sejenis juga ada di Bogor, Kebun Raya Bogor, yang merupakan kebun Istana Bogor. Dengan luas lebih dari 10 hektare dan sekitar 57 bangunan seperti gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan dan pulau buatannya, juga terdapat lorong bawah air.

Posisinya yang berada di tengah danau buatan, kompleks yang dinamakan Taman Sari ini bisa diakses dengan menggunakan perahu atau dengan melalui jembatan. Saat ini danau buatan tersebut sudah berubah menjadi rumah bagi abdi dalem istana dan tempat pemukiman penduduk, tidak nampak sebagai bekas danau lagi. Begitu pula bangunan asli kompleks ini banyak tertutup rumah penduduk. Bahkan beberapa hanya tersisa tembok saja dengan hiasan coretan hasil karya orang tidak beranggung jawab di dinding-dindingnya.

Tempat yang masih terawat salah satunya adalah tempat pemandian anggota keluarga keraton. Kompleks Umbul Pasiraman ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan mempunyai 2 pintu masing-masing sisi timur dan baratnya. Di dalam kompleks ini terdapat 3 kolam yang masing-masing mempunyai pancuran dan di sisinya dihiasi oleh pot-pot bunga. Dari 3 kolam tersebut, ada 1 kolam yang letaknya terpisah dan merupakan kolam pemandian khusus bagi Sultan dan permaisurinya saja.

Di sisi utara dan selatan ada 2 bangunan, bangunan utara adalah digunakan sebagai tempat berganti baju bagi para putri dan istri (selir). Di bagian selatan, merupakan tempat Sultan beristirahat dan berganti pakaian. Menara yang terdapat dibagian selatan ini konon digunakan oleh Sultan untuk mengamati kolam dibawahnya.

Kompleks ini di zamannya hanya diperuntukkan bagi Sultan, permaisuri, selir, dan putri Sultan, dan saat memasuki kompleks ini harus dalam keadaan tidak mengenakan pakaian sama sekali. Adanya peraturan tersebut membuat tempat ini tidak bisa dimasuki selain perempuan, terkecuali sang Sultan tentunya.

Setelah puas menikmati sisa kejayaan Taman Sari dengan bangunan megah dan indah tersebut, lingkungan sekitar masih menyajikan sebuah kebudayaan yang masih dijaga baik oleh penduduknya. Kerajinan batik dapat dijumpai disekelilingnya, dan pengunjung diperbolehkan untuk ikut dalam proses pembuatannya. Beberapa tempat bahkan menyediakan pelatihan khusus untuk membatik dengan pengawasan dan arahan dari pembatik lokal. Sebuah kesempatan yang rupanya sangat diminati oleh wisatawan mancanegara, beberapa bahkan sampai menyediakan waktu khusus hingga berbulan-bulan untuk mempelajari teknik tersebut.

Sebuah pelajaran bagi sebuah bangsa yang besar untuk selalu mengingat sejarahnya, salah satunya adalah dengan menjaga kearifan lokalnya dan menjaga peninggalan sejarahnya dengan baik untuk dijadikan dasar berpijak bagi penerusnya sekaligus sebagai identitas bangsa tersebut.

Photo & Text: Yulianus Liteni