Douglas DC-3, Pesawat Terpopuler Sepanjang Masa



Douglas DC-3, atau yang lebih dikenal dengan Dakota, merupakan pesawat angkut paling popular sepanjang masa. Pesawat ini dirancang dan dibuat oleh Douglas Aircraft Company (sebelum menjadi McDonnell Douglas dan merger dengan The Boeing Company), memiliki sayap tetap dan dua buah mesin piston. DC-3 merupakan pesawat angkut paling populer sepanjang masa, berikut dengan varian militernya yaitu C-47 Skytrain.

Pengerjaan desain DC-3 dimulai pada tahun 1934 atas desakan CR Smith, presiden American Airlines, di mana Smith menginginkan pesawat baru yang berbasis dari varian sebelumnya yaitu Douglas DC-2 untuk menggantikan Curtiss Condor II yang dioperasikannya, dengan kapasitas lebih besar. DC-3 pertama yang dibuat yaitu Douglas Sleeper Transport (DST), yang juga dikenal sebagai Skysleepers oleh maskapai, di mana pada pesawat ini menawarkan kemewahan kelas tinggi. Prototipe DST menjalani penerbangan perdana pada tanggal 17 Desember 1935, bertepatan dengan peringatan 32 tahun penerbangan perdana Wright Brothers di Kitty Hawk.

Kabin DST seluas 92 inchi atau 2,3 meter. DST dilengkapi dengan 14 unit kursi mewah di empat kompartemen utama yang dapat dilipat. DST mampu menampung 14 penumpang semalam atau 28 penumpang pada penerbangan siang hari yang lebih pendek. DST pertama dikirim ke American Airlines pada bulan Juni 1936, menyusul dua bulan kemudian yaitu DC-3 standar dengan kapasitas 21 penumpang.

Pada bulan November 1936, United Airlines yang sebelumnya juga mengoperasikan Boeing 247, ikut memesan DC-3. Varian sebelumnya yaitu Douglas DC-2 yang terbukti lebih ekonomis daripada Boeing 247. Pemesanan awal dari American Airlines dan United Airlines diikuti lebih dari 30 maskapai pada dua tahun berikutnya.

DC-3 tidak hanya dikenal nyaman dan dapat diandalkan, namun juga membuat transporttasi udara menjadi lebih menguntungkan. CR Smith mengatakan DC-3 merupakan pesawat pertama yang dapat menghasilkan uang hanya dengan menerbangkan penumpang, tanpa bergantung pada subsidi pemerintah. Dampaknya, lebih dari 90 persen maskapai penerbangan mengoperasikan DC-2 dan DC-3.

Produksi DST diakhiri pada pertengahan tahun 1941, dan produksi varian sipil DC-3 diakhiri pada awal tahun 1943. Sebanyak 455 unit DC-3 telah diproduksi. Terdapat beberapa varian dari DC-3. Pertama, DST yang merupakan varian awal dengan mesin Wright R-1820 dan R-1830 Cyclone dengan kapasitas 14 kursi dan dilengapi dengan jendela kecil sisi atas. Kedua, DC-3 yang merupakan derivatif DST dengan 21 kursi penumpang dengan mesin Wright R-1820 tanpa jendela sisi atas. Ketiga, DC-3A yang dtenagai mesin Pratt & Whitney R-1830-21. Keempat, DC-3B yang dilengkapi dengan convertible sleep pada kabin depan yang lebih kecil dengan jendela sisi atas sedikit dibandingkan DST. Kemudian, DC-3C yang merupakan designasi untuk produksi C-47 yang sebelumnya dioperasikan untuk keperluan militer dan dibangun kembali oleh Douglas Aircraft pada tahun 1946 untuk keperluan sipil dengan mesin Pratt & Whitney R-1830. DC-3D yang merupakan designasi untuk 28 pesawat baru yang diselesaikan oleh Douglas pada tahun 1946.

Selain untuk keperluan sipil, DC-3 juga memiliki derivatif untuk keperluan militer, yaitu C-47 Skytrain yang telah dirakit sebanyak 10.174 unit. C-47 banyak terlibat pada Perang Dunia II, di antaranya Operation Overlord di Pantai Normandy, Perancis atau yang dikenal sebagai D-Day pada 6 Juni 1944. Selain itu, terdapat derivatif DC-3 dari negara lain, seperti Showa/Nakajuma L2D yang dibangun oleh Jepang sebanyak 487 unit dengan lisensi, dan Lisunov Li-2 yang merupakan derivatif DC-3 yang dibuat berdasarkan lisensi dari Uni Soviet, dengan 4.937 unit telah dibangun.

DC-3 diawaki oleh 3 awak kru, dengan rentang kapasitas antara 14 sleeper passengers, atau 21 hingga 32 penumpang. DC-3 memiliki panjang 19,7 meter, bentang sayap 29 meter, tinggi 5,16 meter dan luas sayap 91,7 meter persegi. Berat kosong DC-3 yaitu 7.650 kg dengan gross weight 11.430 kg. DC-3 ditenagai oleh dua mesin Pratt & Whitney R-1830 dengan 1.200 tenaga kuda. Performa dari DC-3 antara lain, memiliki kecepatan maksimum 370 km per jam pada ketinggian 8.500 kaki, kecepatan jelajah sebesar 333 km per jam, ketinggian jelajah 20.800 kaki, jarak jangkau 1.495 mil, dan rate of climb 1.130 kaki per menit.

Foto: Fikri Izzudin Noor / IndoAviation.co.id

 

Be the first to comment

Leave a Reply