Categories
Domestic

Benarkah JT610 Meminta untuk Return To Base?

Pesawat B737 MAX8 milik Lion Air yang jatuh di perairan laut sekitar Tanjung Karawang  merupakan pesawat baru. Dioperasikan sejak pertengahan Agustus 2018 lalu, pesawat ini baru mengantongi 800 jam terbang.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi tadi sore (29/10) di posko Crisis Center Kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610 di Terminal 1B Bandara Internasional Soekarno-Hatta menegaskan pesawat itu jatuh di perairan Laut Jawa atau tepatnya di utara Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Kami telah berkoordinasi dengan Basarnas, baru saja Basarnas menyatakan memang benar pesawat itu jatuh di perairan Laut Jawa di utara Bekasi oleh karenanya kami menyatakan bahwa pesawat Lion JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang setelah hilang kontak pukul 06.32,” ujar Menhub Budi.

Dalam konferensi pers tersebut Menhub didampingi oleh PLT Dirjen Perhubungan Udara Praminto Hadi, Dirut AP 2 Awaludin, Ketua KNKT Soerjanto, Dirut Airnav Indonesia Novie Riyanto, Direktur Operasi Lion Air Capt. Daniel Putut, dan Direktur Keuangan Jasa Raharja Myland Zoelaini.

Lebih lanjut Menhub mengungkapkan pesawat Lion Air JT 610 membawa total 189 orang yang terdiri dari 181 penumpang dan 8 awak pesawat.

Menhub juga memastikan pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP milik maskapai Lion Air ini merupakan pesawat baru yang beroperasi sejak Agustus lalu.

“Pesawat yang digunakan adalah pesawat baru B 737-800 Max yg baru dioperasikan pada bulan Agustus 2018 dengan lama penerbangan sebanyak 800 jam,” ungkapnya.

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menjelaskan saat ini pihaknya bersama Basarnas bekerjasama dengan TNI dan unsur terkait sedang fokus dalam upaya mencari serpihan-serpihan utama dari badan pesawat termasuk black box.

“Serpihan yang di permukaan sudah diambil di kapal semua sekarang kita konsentrasi mencari serpihan utama, kita mengerahkan kapal-kapal dari navigasi, TNI untuk melakukan pencarian dimana ada beberapa kapal yang dilengkapi dengan set scan sonar itu untuk menentukan dimana lokasi kira-kira serpihan pesawat itu ada,” jelas Soerjanto.

Sementara itu Direktur Operasional Lion Air Capt. Daniel Putut menjelaskan pihaknya siap untuk memenuhi hak dan tanggung jawabnya terhadap keluarga korban sesuai aturan perundangan yang berlaku. Saat ini Lion Air juga memfasilitasi akomodasi dan keberangkatakan keluarga korban menuju Jakarta.

“Kepada keluarga korban kami akan memenuhi hak dan tanggung jawab kami sesuai aturan yang berlaku dan untuk keluarga korban, crisis center kita buka di Bandara Soekarno-Hatta, sampai nanti menunggu informasi lebih lanjut,” ucap Daniel.

Minta izin Return To Base

Perihal informasi yang menyebutkan bahwa sebelum diketahui jatuh di Laut Jawa, JT610 sempat memnita izin untuk kembali ke Bandara Soekarno Hatta (Return To Base) Ketua Komisi Nasional Keselamatan Tarnsportasi Soerjanto Tjahjono membenarkan hal itu.

“Kami sedang mempelajari kenapa ada permintaan RTB. Permintaan RTB sudah di-approve dan diizinkan oleh AirNav untuk RTB ke Cengkareng. Tapi kami belum menemukan apa sebenarnya alasannya. Kami sedang menunggu black box-nya. Nanti kalau sudah ketahuan dari black box, nanti akan ketahuan alasannya kenapa (RTB),” katanya tadi sore.

Permintaan RTB JT610 ini juga ditegaskan oleh Dirut AirNav Indonesia,Novie Riyanto. Katanya, “Banyak sekali pertanyaan, apakah betul pesawat ini minta RTB? Betul, pesawat meminta RTB kepada ATC dan sudah diizinkan untuk RTB.”

Hingga saat ini proses pencarian dan evakuasi pesawat serta korban masih terus dilakukan. Badan SAR Nasional menyatakan akan bekerja 24 jam untuk menemukan lokasi badan pesawat berikut para korban. Sementara itu, pecahan pesawat yang mengambang di permukaan air telah diambil dan dikumpulkan. Konsentrasi saat ini adalah mencari pecahan utama (pesawat) yang ada di dalam air pada kedalaman sekitar 30-35 meter.

“Kita mengerahkan beberapa kapal dari Hydros, BPPT, serta kapal navigasi dan kapal dari TNI untuk melakukan pencarian. Ada beberapa kapal sari Hydros yang dilengkapi dengan alat khusus untuk menentukan lokasi di mana kira-kira pecahan utama pesawat berada,” ujar Ketua KNKT. Dalam pencarian itu, dikerahkan antara lain peralatan untuk mendeteksi underwater locator beacon (ULB). Jika lokasi pesawat diketamukan, tim SAR akan menurunkan tim untuk mencari dan mengangkat black box pesawat.

“Kita harapkan black box ini tidak akan jauh dari pecahan utama pesawat. Kita harapkan bisa dengan segera bisa diketahui kira-kira posisi dari pecahan utamanya pesawat, sehingga kita bisa menemukan para korban,” jelas Ketua KNKT Soerjanto.

Categories
Domestic

Badan dan Black Box Pesawat Lion Air JT-610 Belum Ditemukan

Sampai siang ini badan pesawat belum ditemukan. Black box pesawat juga masih belum ditemukan, masih dalam pencarian oleh Basarnas.

Demikian diungkapkan Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I, Bagus Sunjoyo dalam konferensi pers terkait peristiwa hilangnya pesawat Lion Air nomor penerbangan JT-610 di utara Laut Jawa kepada awak media di Terminal 1B Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Senin (29/10/2018) siang.

Ia menyebutkan, bagian pesawat yang di temukan sampai saat ini hanya serpihan kecil. Ia belum bisa menyebut apakah serpihan pesawat itu adalah bagian dari pesawat Lion Air yang hilang kontak tersebut.

“Yang ada di layar TV itu baru sedikit, hanya serpihan-serpihan. Tapi apakah betul yang ditemukan itu adalah serpihan dari pesawat, sampai saat ini juga masih belum bisa kita dipastikan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, hingga saat ini Basarnas terus mencari ke lokasi saat pesawat tersebut dinyatakan hilang kontak.

“Kondisi pesawat sampai dengan penerbangan dinyatakan laik terbang. Kru kokpit dan kru kabin juga dinyatakan dalam kondisi fit,” kata Bagus.

Terkait dengan permintaan kembali ke bandara (RTB), Bagus juga membenarkan hal itu.

“Betul, ada request untuk RTB dari pilot. Dari rekan AirNav, dari ATC yang mengatakan. Tapi tidak ada statment seperti itu (permasalahan mesin),” tegasnya.

Ia melanjutkan, request itu kemudian disetujui. “Apakah pesawat sudah RTB atau masih dalam titik itu, kita enggak tahu. Karena seketika langsung hilang kontak,” imbuhnya.

Sayangnya, ia belum bisa menerangkan lebih jauh karena keterbatasan informasi yang ia dapat. Namun ia menyatakan bahwa pihaknya tetap berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya Lion Air dan Basarnas.

“Sampai sekarang belum ada statment baik dari Lion Air maupun dari Basarnas. Basarnas belum memberikan info ke kita, tapi kita akan tetap koordinasi terus-menerus dengan Basarnas,” tutupnya.

Categories
Domestic

Korban Meninggal JT610 Akan Dapat Santunan Rp 50 Juta

Jasa Raharja menyatakan seluruh penumpang pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan pantai Karawang Jawa Barat akan mendapat santunan asuransi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Bahwa berdasarkan UU No 33 dan PMK No. 15 tahun 2017, bagi korban meninggal dunia, maka Jasa Raharja siap menyerahkan hak santunan sebesar Rp 50.000.000 dan dalam hal korban luka luka, Jasa Raharja akan menjamin Biaya Perawatan Rumah Sakit dengan biaya perawatan maksimum Rp 25.000.000,” terang Direktur Utama Jasa Raharja, Budi Rahardjo S. dalam sebuah pernyataan pers.

Menindaklanjuti kejadian ini, Jasa Rahaja yang telah menerima laporan dan langsung berkoordinasi dengan BASARNAS, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Lion Air, serta hadir langsung di Crisis Center Bandara Dipati Amir Pangkal Pinang, Kantor Lion Air Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta dan Kantor BASARDA DKI Jakarta untuk memastikan keterjaminan para penumpang.

Categories
Domestic

Pesawat Lion Air yang Hilang Kontak Belum Genap 3 Bulan Berdinas

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 yang hilang kontak saat melayani rute Jakarta-Pangkal Pinang merupakan armada pesawat baru yang dimiliki Lion Air Group. Pesawat berregistrasi PK-LQP tersebut belum genap tiga bulan berdinas.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Pramintohadi Soekarno menyebutkan, pesawat tersebut mempunyai Certificate of registration issued pada 15 Agustus 2018 dan expired pada 14 Agustus 2021. Sementara Certificate of air worthiness issued pada 15 Agustus 2018 expired pada 14 Agustus 2019.

Pramintohadi menyebutkan, pesawat JT-610 diduga jatuh di sekitar Tanjung Karawang.

“Telah diterima informasi dari VTS Tanjung Priok atas nama Bapak Suyadi, tug boat AS JAYA II (rute : Kalimantan Selatan – Marunda) melihat pesawat Lion Air diduga jatuh di sekitar Tanjung Karawang,” ujar Pramintohadi.

Menurut Pramintohadi, saat ini tengah dilakukan pencarian pesawat tetsebut oleh tim dari Basarnas. Rescuer Kansar Jakarta dan RIB 03 Kansar Jakarta bergerak ke lokasi koordinat kejadian untuk melakukan operasi SAR.

“Saat ini telah dibentuk crisis center di Terminal 1 B bandara Soekarno Hatta dan Bandara Depati Amir Pangkal Pinang untuk keluarga penumpang,” terangnya.

Baca juga:

Lion Air Group Pengguna Pertama Boeing 737 MAX 8 di Dunia
Pertama Terbang di Indonesia Boeing 737 MAX 8 Lion Air
Boeing 737 Max-8 Lion Air Terbang Perdana Jakarta – Pontianak

Pesawat hilang kontak sekitar pukul 06.33 WIB pada posisi : 05 48.934 S 107 07.384 E dan Radial : 40.21 degree / 23.81 NM.

Pesawat membawa 178 penumpang dewasa, 1 anak dan 2 bayi. Awak pesawat terdiri dari 2 penerbang (PIC Capt Bhavve Suneja dan SIC Harvino) dan 5 awak kabin (SFA Shintia Melina, FA Citra Novita Anggelia Putri, FA Alfiani Hidayatul Solikah, FA Fita Damayanti Simarmata dan FA Mery Yulyanda).

Categories
Domestic

Sebelum Hilang Kontak Pesawat Lion Air JT-610 Sempat Minta RTB

Pesawat jenis B737-8 MAX dengan nomor penerbangan JT-610 milik maskapai Lion Air yang lepas landas dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang menuju Bandar Udara Depati Amir di Pangkal Pinang dilaporkan telah hilang kontak pagi ini (Senin, 29/10/2018) sekitar pukul 06.33 WIB.

Pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP dilaporkan terakhir tertangkap radar pada koordinat 05 46.15 S – 107 07.16 E. Pesawat ini berangkat pada pukul 06.10 WIB dan sesuai jadwal akan tiba di Pangkal Pinang pada Pukul 07.10 WIB. Pesawat sempat meminta kembali ke pangkalan (return to base/RTB) sebelum akhirnya hilang dari radar.

Pesawat dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang ini membawa 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi dengan 2 Pilot dan 5 pramugari.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub saat ini tengah berkoordinasi dengan BASARNAS, Lion Air, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) untuk melakukan misi pencarian dan penyelamatan (SAR) terhadap pesawat JT 610.

Categories
Domestic

Cari Pesawat Lion Air PK-LQP, BASARNAS Kerahkan Helikopter

Pesawat Lion Air JT-610 rute penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang pagi ini diduga hilang kontak. Lokasi terakhir berada di Tanjung Karawang. Merespon peristiwa ini, BASARNAS mengerahkan helikopter untuk melancarkan misi pencarian.

Info awal yang redaksi terima, JATC mengabarkan pada pukul 06.50 WIB bahwa pada pukul 06.33 WIB pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK LQP diduga hilang kontak setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pagi ini (Senin, 29/10/2018) pada pukul 06.20 WIB.

Pada pukul 06.51 Manajemen Lion Air tengah menyelidiki kabar armada pesawat mereka yang diduga mengalami hilang kontak pagi ini.

“Saat ini kami masih dalam proses pencarian untuk koordinasi lebih lanjut,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro, menukil laman kompas.com Senin pagi.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai kejadian persis dugaan peristiwa hilang kontak armada pesawat Lion Air itu, Danang belum bersedia memberi penjelasan lebih lanjut. Danang juga belum mengungkapkan sejak kapan pencarian terhadap informasi tersebut mereka lakukan.

Melalui telegram bernomor 2061 / SAR / 1018 dari BASARNAS ke TNI AU pagi ini, diupayakan pengerahan helikopter dari Lanud Atang Sandjaja untuk misi pencarian pesawat tersebut.

Sementara itu beredar kabar bahwa pada pukul 07.10 WIB Kantor SAR (KANSAR) Jakarta menerima info dari VTS Tanjung Priok pada pukul 07.05 WIB Tug Boat AS Jaya II rute Kalimantan Selatan – Marunda sempat melihat pesawat Lion Air JT-610 jatuh. Posisi Tug Boat tersebut berada di koordinat 05º 49.727 S – 107º 07.460 E (heading 40º Timur Laut).

Categories
Domestic

Lion Air JT610 Hilang

Lion Air JT610 rute Jakarta (CGK) – Pangkal Pinang (PGK) pagi ini dikabarkan hilang kontak dan diperkirakan jatuh di laut. Pesawat Boeing 737 MAX 8 PK-LQP ini berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) pukul 6.20 pagi WIB. Dijadwalkan pesawat ini mendarat di Pangkal Pinang pukul 7.20 WIB.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Pramintohadi Soekarno membenarkan telah terjadi hilang kontak terhadap pesawat Lion Air dengan registrasi PK-LQP nomor penerbangan JT 610 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang.

Pesawat membawa 178 penumpang dewasa, 1 anak dan 2 bayi. Awak pesawat terdiri dari 2 penerbang dan 5 awak kabin. PIC Capt Bhavve Suneja dan SIC Harvino.

Menurut Pramintohadi, pesawat mempunyai Certificate of registration issued 15/08/2018 expired 14/08/2021. Certificate of air worthiness issued 15/08/2018 expired 14/08/2019.

Lokasi jatuh pesawat telah diketemukan. Tim SAR diberitakan telah berkoordinasi dan melakukan pencarian korban di sekitar lokasi yang diperkirakan sebagai lokasi jatuh pesawat.

Saat ini telah dibentuk crisis center di Terminal 1 B bandara Soekarno Hatta dan Bandara Depati Amir Pangkal Pinang untuk keluarga penumpang.

 

Update –>>

Cari Pesawat Lion Air PK LQP, BASARNAS Kerahkan Helikopter

Sebelum Hilang Kontak Pesawat Lion Air JT-610 Sempat Minta RTB

Pesawat Lion Air yang Hilang Kontak Belum Genap 3 Bulan Berdinas

 

Data pesawat dan crew:

Registrasi: PK LQP
Jenis pesawat: Boeing 738 MAX
Nomor penerbangan: JT610 CGK – PGK
Jadwal Keberangkatan:06:10LT
Jadwal Keberangkatan Aktual:06:10LT
Perkiraan Jadwal Kedatangan:  07:20LT
Jumlah penumpang : 178/01/02
Plan parkir At PGK; A04
PIC: 142305/BHAVYE SUNEJA (MX)
SIC: 52116928/HARVINO (MX)
SFA: 52127630/SHINTIA MELINA
FA : 52127637/CITRA NOVITA ANGGELIA PUTRI (R)
FA : 181499/ALFIANI HIDAYATUL SOLIKAH
FA : 161013/FITA DAMAYANTI SIMARMATA (R)
FA : 145208/MERY YULYANDA

Categories
Domestic

Pembangunan Terminal Baru Bandara Silampari Selesai Akhir Tahun Ini

Usai meninjau Lapangan Udara TNI AD Gatot Subroto di Way Kanan, Lampung, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi melanjutkan kunjungan kerja ke Bandara Silampari di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, Sabtu (27/10/2018). Menhub menyampaikan, pembangunan terminal Bandara Silampari ditargetkan selesai pada minggu ke-3 Desember 2018.

“Saya lihat memang ada terminal yang belum selesai. Tapi dari evaluasi saya, itu bisa diselesaikan karena ada tambahan anggaran. Sehingga kita upayakan minggu ketiga Desember bisa selesai,” ungkap Budi di Gedung Kesenian Pemerintah Kota Lubuk Linggau, Sumsel.

Bandara Silampari memiliki landasan pacu sepanjang 2250 meter x 45 meter. Operasional bandara ini didukung tiga maskapai penerbangan, yakni Batik Air, NAM Air, dan Wings Air.

“Kami tadi melihat bandara Silampari panjangnya sudah cukup baik ya 2.250 meter, lebar 45 meter,” ujar Budi.

Dengan adanya penambahan terminal baru ini, kapasitas penumpang yang diangkut diperkirakan akan naik dari 77.000 penumpang pertahun menjadi 200.000 penumpang pertahun.

Budi berharap, dengan adanya terminal baru Bandara Silampari ini akan dapat mengembangkan perekonomian Lubuk Linggau, sehingga dapat mengimbangi pertumbuhan yang ada di Palembang.

“Harapannya ini akan mengembangkan perekonomian di beberapa tempat di Linggau, di Bukit Timur dan sebagainya. Jadi, menjadi modal bagi Sumatera Selatan bagian selatan itu untuk tumbuh mengimbangi pertumbuhan yang ada di Palembang,” tutup Budi.

Categories
Domestic

Ini Hasil Penelitian untuk Optimalkan Bandara Kertajati

Setelah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2018, sampai saat ini baru Citilink Indonesia yang terbang reguler dan Lion Air yang terbang carter umroh dari Bandara Internasional Kertajati (KJT). Bandara yang megah dan luas ini akan mubazir jika tidak segera dilakukan langkah-langkah strategis untuk mengoptimalkan operasionalnya.

Demikian disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Perhubungan) Sugihardjo pada Focus Group Discussion (FGD) “Optimalisasi Pengoperasian Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati” di Bandung, Jumat (26/10/2018). “Dengan luas dan fasilitasnya yang sedemikian itu, Kertajati memang menjadi idle capacity,” ujarnya.

Dalam FGD itu dipaparkan hasil penelitian Pusat Litbang Udara Balitbang Perhubungan, yang disampaikan peneliti Eny Yuliawati. Dikatakannya, ada lima poin krusial untuk optimalisasi Bandara Kertajati. Pertama, konektivitas berupa kemudahan akses transportasi dari dan ke bandara.

“Untuk itu, Bandara Kertajati harus menyediakan fasilitas transportasi antarmoda dari dan ke bandara, seperti bus atau shuttle, juga kereta. Namun perlu diperhatikan pula waktu tempuh, travel cost yang terjangkau, serta kemudahan dan pelayanan perjalanannya,” papar Eny.

Sekjen INACA (asosiasi perusahaan penerbangan nasional) Tengku Burhanuddin yang menjadi salah seorang pembahas menyarankan agar pengelola Bandara Kertajati berani mengajukan usul kepada gubernur atau pejabat setingkat menteri, bahkan sampai Presiden. “Apalagi sekarang tahun politik, saat yang tepat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan,” ucapnya.

Poin kedua adalah branding melalui karakteristik yang unik. Bandara Kertajati harus fokus dalam membidik pangsa pasarnya. Kata Eny, fokus pada penerbangan kargo misalnya, mengandalkan kedekatan wilayah bandara dengan pelabuhan Internasional Patimban di Subang. Contoh lain adalah membidik pasar umroh ataupun haji dengan mengembangkan rute langsung ke Madinah dan Jeddah.

Sejak 13 Oktober 2018, Lion Air memang sudah menerbangkan jemaah umroh ke Madinah, walaupun bersifat carter seminggu sekali. Kata Managing Director Lion Air Group Capt Daniel Putut Kuncoro Adi, penerbangan carter umroh ini akan ditambah menjadi dua atau tiga kali seminggu. “Banyak travel agent yang datang pada kami sejak penerbangan perdana umroh dari Kertajati itu,” katanya.

Peserta FGD Bandara Kertajati. Foto: Reni Rohmawati.

Rupanya, Garuda Indonesia yang pada tahun 2019 akan mendatangkan pesawat Airbus A330neo pun akan terbang umroh dari Kertajati. Hal ini disampaikan Capt Dodi Kristanto, yang jadi pembahas dari Garuda pada FGD tersebut.

Kertajati pun bisa bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk mengembangkan bandara. Eny mencontohkan, seperti Bandara Dubai yang bekerja sama dengan Emirates atau KLIA 2 dengan AirAsia. Di samping itu, kawasan Kertajati bisa dikembangkan menjadi aerocity berbasis industri maju.

Poin ketiga adalah menciptakan iklim bisnis yang kondusif dalam mengembangkan konsep kawasan aerocity. Iklim kondusif ini berupa pembentukan kemitrausahaan sejak dini agar peruntukan areanya dikembangkan sesuai kebutuhan mitra usaha yang terlibat.

Menurut Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis PT BIJB Agus Sugeng Widodo, pihaknya sudah menyiapkan lahan 3.400 hektare untuk aerocity, sementara untuk bandara 1.050 hektare. “Kawasannya sangat luas, sampai mepet ke tol Cipali,” ujarnya. Di kawasan itu sudah direncanakan pula untuk membangun asrama haji dan umroh,” ucapnya.

Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis PT Angkasa Pura (AP) II Daan Achmad juga mengatakan, kawasan sekitar bandara harus dikembangkan agar Kertajati hidup. “Penumpang datang itu bukan karena bandaranya bagus tapi karena profiling area-nya memiliki daya tarik,” ucapnya. Kertajati Aerocity bisa menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Jawa Barat, khususnya Ciayumajakuning (Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan).

Poin keempat adalah menjadi secondary airport dalam multiairport system. Peran Kertajati menjadi bandara kedua atau alternatif dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta atau Bandara Internasional Halim Perdanakusuma dengan membidik potensi pasar kabupaten-kabupaten di Jawa Barat.

Puslitbang Udara juga mengusulkan agar AP II diberi peran penuh dalam pengoperasian Bandara Kertajati. Dengan demikian, AP II dapat mengelola distribusi traffic share dalam wadah multiairport system, yang mencakup Bandara Internasional Husein Sastranegara, Soekarno-Hatta, dan Halim. AP II bersama BIJB saat ini merupakan dua entitas yang mengelola Bandara Kertajati dengan masa kerja sama 17 tahun.

Bandara Soekarno-Hatta disebut sudah mencapai tingkat utilisasi 250%. Hal ini menjadi peluang dan tantangan bagi Bandara Kertajati. Eny pun menyampaikan hasil survei “preferensi penumpang”, yang 16% penumpang di Soekarno-Hatta yang berasal dari Bandung dan Cirebon menyatakan bahwa perpindahan penumpang ke Kertajati memungkinkan asalkan travel time dan travel cost memadai, serta tersedia rute-rute penerbangannya.

Menurut Daan, secondary airport itu tidak bisa dipaksakan. Soekarno-Hatta pun, kata dia, masih memiliki technical slot yang bisa digunakan. Dia pun mempertanyakan soal sharing capacity airport. “Next, kalau bikin airport harus duduk bersama, termasuk dengan Pertamina juga,” ujarnya.

Poin kelima adalah mengelola potensi pasar penumpang angkutan udara. Untuk ini diperlukan riset pasar yang dapat menggambarkan daya beli masyarakat yang berada dalam catchment area Bandara Kertajati. Selain itu juga bisa dilakukan identifikasi potensi industri dan perdagangan untuk melihat potensi permintaan penumpangnya.

Hal tersebut memang perlu dilakukan karena sampai saat ini penumpang Citilink yang terbang tiap hari Bandara Kertajati-Bandara Internasional Juanda, Surabaya, load factor-nya masih rendah, rata-rata 39%. Padahal waktu uji coba sewaktu terbang ekstra Lebaran pada Juni 2018, rata-rata load factor penumpangnya 83,92% dengan tarif rata-rata Rp360.000-an.

“Kami akan stop terbang satu-dua hari nanti pada akhir Oktober, tapi akan terbang lagi kemudian. Bahkan November 2018, Citilink juga akan terbang ke Kualanamu,” kata Agus Irianto, Vice President Revenue Management Citilink Indonesia.

Bandara Kertajati sebenarnya sudah siap untuk menerima banyak penerbangan. AP II sudah menyediakan seluruh prasarana operasionalnya, bahkan bersama BIJB memperpanjang landasan sampai 3.000 meter. AirNav Indonesia juga sudah menyiapkan fasilitas pemandu lalu lintas udara dengan prosedur PBN (Performance Based Navigation).

“Rencana instalasi ILS (Instrument Landing System) di runway 14 akan dilaksanakan setelah landasan pacu 3.000 meter selesai,” kata Ari Subandrio dari AirNav Indonesia.

Ditjen Perhubungan Udara juga sudah memberi kemudahan izin rute penerbangan di luar lampiran surat izin usaha angkutan udara. “Izin rute penerbangan pun bisa dilakukan secara online,” ujar Anung Bayumurti, Kepala Subdit Bimbingan Usaha dan Tarif Jasa Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara.

Selain enam pembicara dengan moderator Kepala Puslitbang Udara Balitbang Perhubungan, M Alwi, juga ada sembilan pembahas dari maskapai penerbangan, akademisi, ASITA, dan Kementerian Pariwisata. Pada akhir FGD, Sugihardjo menyimpulkan bahwa semua pihak sepakat untuk mengoptimalkan Bandara Kertajati.

“Untuk optimalisasi Bandara Kertajati tak berhenti pada FGD saja, tapi perlu tim kecil untuk membahas bagaimana action plan sesuai dengan clustering permasalahannya,” ucap Sugihardjo.

Categories
Domestic

Populer di Instagram, AP II Sulap 15 Bandara Jadi Destinasi Wisata Digital

Sebagai upaya untuk mendorong pariwisata di tanah air, PT Angkasa Pura II (Persero)/ AP II berkomitmen untuk mengembangkan seluruh bandara yang dikelola untuk menjadi destinasi digital. Di jagat dunia maya, saat ini AP II tercatat sebagai 15 bandara terpopuler di instagram.

Hal ini sejalan dengan salah satu program yang digaungkan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dalam membentuk Tourism Ecosystem. Program yang mencakup tiga hal, yakni accessibility, attraction, dan amenities. Berkaitan dengan accessibility, bandara sekaligus dapat menjadi ‘the new attraction in special space’.

Menteri Pariwisata Republik Indonesia Arief Yahya mengatakan bahwa destinasi digital merupakan destinasi yang heboh di dunia maya dan viral di media sosial. Destinasi digital menjadi tuntutan di era booming teknologi.

“Generasi millenial atau lebih populer ‘kids zaman now’ sering menyebut diferensiasi produk destinasi baru ini dengan istilah instagrammable. Harapannya, tahun 2018 ini ada 100 destinasi digital di 34 provinsi di tanah air,” ujar Arief saat peluncuran kerja sama Kementerian Pariwisata dengan Grab di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jum’at (26/10/2018).

Selain beragam objek wisata yang dikunjungi selama liburan, mengabadikan momen di bandara melalui media foto juga sering diunggah wisatawan ke media sosial. Globalhunter, perusahaan penyedia jasa pemesanan tiket pun menganalisa sejumlah bandara terpopuler di Instagram. Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan berada diperingkat teratas.

Sementara itu, Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang dikelaola AP II ada diurutan 13 sebagai bandara yang paling sering muncul di Instagram. Jumlah foto bandara yang diunggah ke Instagram mencapai 122.213 gambar.

Pada kesempatan yang sama Presiden Direktur AP II Muhammad Awaluddin mengaku optimis untuk menyulap bandara yang dikelola Angkasa Pura II menjadi destinasi wisata digital.

“Awal November tahun ini menjadi momen yang tepat untuk menyulap 15 bandara yang ada di Angkasa Pura II menjadi bandara yang semakin instagrammable. Sehingga para pengguna jasa, khususnya kids zaman now bisa mendapat customer experience yang berbeda,” kata Awaluddin.

Ia menargetkan, ke depannya bandara-bandara AP II semakin popular dengan unggahan foto momen-momen di sosial media (twitter, instagram, facebook) mencapai 1 juta gambar oleh para pengguna jasanya.